Mengapa Game Street Fighter Tetap Digemari Setelah 25 Tahun?

182

redaksi.co.id – Mengapa Game Street Fighter Tetap Digemari Setelah 25 Tahun?

, Jakarta – Jarang ada seri game yang kemunculannya terus dinantikan selama lebih dari seperempat abad. Street Fighter V , yang dirilis Capcom, bulan lalu, merupakan satu dari sedikit game di kategori itu.

Kesuksesan game ini berawal dari Street Fighter II: The World Warrior yang dirilis 1991. Street Fighter II sekuel Street Fighter yang terbit pada 1987 tapi tidak masuk ke Indonesia merupakan game duel pertama yang memungkinkan pemain bebas memilih lakonnya dengan penampilan, gerakan, dan jurus yang khas. Ada delapan jagoan yang masing-masing memiliki sekitar 30 serangan dan dua-tiga ilmu spesial.

Di luar itu, terdapat empat tokoh antagonis yang tidak dapat dimainkan. Terobosan itu mengubah hari-hari anak dan remaja di kota-kota besar dunia. Pada masa itu, pembicaraan mereka tidak jauh dari jurus “bola sinar” serta “tendangan badai” Ryu dan Ken, dua jagoan favorit.

Saban pulang sekolah, yang kepikiran hanya berapa sisa uang jajan di kantong yang bisa dipakai untuk membeli koin dingdong di pusat hiburan atau bioskop terdekat-tarifnya Rp 100-250 sekali main. “Bahkan sampai bolos dan nyolong duit nyokap ,” ujar Kemal Ardiyanto, 36 tahun, penggila Street Fighter asal Cinere, Jakarta, seperti ditulis Koran Tempo Akhir Pekan , Sabtu, 19 Maret 2016.

Seperempat abad berlalu, Street Fighter tetap mengisi hari-hari ayah satu anak ini, juga ribuan orang lainnya. Meski game bergenre fighting lain menjamur, termasuk seri populer Tekken dan King of Fighters , “bola sinar” dan “tendangan badai” tak lekang dimakan zaman. Sebab, Capcom rajin menerbitkan versi mutakhir dari Street Fighter . Setelah Street Fighter II , muncul Street Fighter Alpha pada 1995, lalu Street Fighter III (1997), dan Street Fighter IV (2008).

Di antara deretan seri itu, terbit pula judul-judul tambahan, misalnya Alpha yang memiliki empat varian. Di setiap seri, ada saja karakter baru. Beberapa karakter lama hilang dan nongol lagi di judul berikutnya. Edmond Honda, misalnya, jawara sumo bertubuh tambun yang jadi jagoan favorit sejak Street Fighter II , menghilang pada seri ketiga dan baru muncul dalam Street Fighter IV.

Penempatan karakter itu menimbulkan kerinduan bagi penggemarnya dan perasaan kegirangan saat sang tokoh kembali tampil. Jagoan yang tidak pernah absen sejak Street Fighter II hanya Ryu, Ken, dan Chun Li. Belum lagi karakter tambahan berupa superhero, seperti Wolverine dan Captain America di seri Marvel vs Capcom . “Kita tidak pernah bosan,” kata Kemal.

Seri baru berarti tantangan baru. Terobosan di Street Fighter V adalah V-System . Sistem ini terdiri atas V-Gauge , meteran yang terisi setiap kali lakon kena serangan; V-Skills , yang melecutkan serangan spesial; V-Reversals untuk serangan balik; dan V-Triggers , yang menguras seluruh isi V-Gauge untuk meluncurkan jurus pamungkas.

Bram Arman, penggemar berat seri Street Fighter sejak 1990-an, mengatakan perubahan sistem pertarungan membuat pemain terus tertantang. “Setiap ada yang baru, kita mulai dari nol lagi,” ujar tenaga lepas di toko video game di Mangga Dua, Jakarta Utara, ini. Menurut Bram, 28 tahun, perubahan gaya bermain di setiap seri sampai 90 persen. Ini menjadi satu ciri khas Street Fighter dibanding game pertarungan lain.

“Di Tekken , yang sekarang sudah sampai Tekken 7 , pemain veteran akan terus jago,” ujar warga Meruya Utara, Jakarta Barat, itu. Hanya, perubahan drastis itu sering mendapat kritik. Bukan apa-apa, banyak pemain lama kehilangan “posisi” sebagai jagoan Street Fighter . Bagi Bram, itu hanya berlaku bagi orang-orang yang gagal move-on . “Mau gak mau, ya, harus main game yang baru,” kata mantan kampiun turnamen Street Fighter tingkat nasional itu. REZA MAULANA

(red/ega/wi/riesta/VDA)

loading...

Comments

comments!