Wawancara Rio Eksklusif: Sempat Stres dengan Setting Bahrain

redaksi.co.id - Wawancara Rio Eksklusif: Sempat Stres dengan Setting Bahrain , Jakarta - Setelah melewati balapan perdana di Sirkuit Melbourne, Australia, Rio Haryanto memilih menepi...

16 0

redaksi.co.id – Wawancara Rio Eksklusif: Sempat Stres dengan Setting Bahrain

, Jakarta – Setelah melewati balapan perdana di Sirkuit Melbourne, Australia, Rio Haryanto memilih menepi ke Jakarta. Rabu petang lalu, Aditya Budiman dari Tempo bertemu dengan Rio di sebuah mal di Kelapa Gading untuk berbincang santai selama hampir satu jam.

Ditemani secangkir cappuccino, pembalap asal Solo, Jawa Tengah, itu berbagi banyak cerita, dari balapan di Australia hingga target pada seri berikutnya. Berikut ini petikan wawancara tersebut.

Bagaimana kesan Anda melewati balapan perdana di Formula 1?

Yang pasti, untuk masuk Formula 1, itu perjalanan panjang. Apalagi bulan lalu, sebelum tanda tangan kontrak dengan Manor, saya sempat kesulitan mencari dana. Bisa tampil di Melbourne itu rasanya kaget. Ini mimpi apa enggak. Bahkan masih enggak percaya ketika saya mulai pakai helm dan masuk ke mobil.

Apalagi ketika press conference bareng Sebastian Vettel, Daniel Ricciardo, dan Lewis Hamilton. Saat itu, saya berpikir jalanin saja. Tapi pas kembali ke hotel dan melihat foto, lho beneran nih tadi? Enggak nyangka bisa press conference bareng dengan juara dunia.

Bagaimana tanggapan pembalap lain terhadap rookie (pendatang baru) seperti Anda?

Mereka menyambut hangat. Saat press conference, Hamilton, Ricciardo, dan Vettel mengucapkan “welcome”. Driver F1 yang dulu menjadi rival di GP2, seperti Felipe Nasr (Sauber), Valtteri Bottas (Williams), Jolyon Palmer (Renault), Marcus Ericsson (Sauber), dan Esteban Gutierrez (Haas) juga menyambut hangat dan kami sudah ngobrol banyak. Mereka kasih selamat karena untuk bisa ke F1 itu kan sulit.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan mobil Anda?

Saat lomba, setahu kami tidak ada masalah. Namun begitu berhenti, ada red flag akibat kecelakaan Fernando Alonso- Gutirrez, sehingga mobil banyak mengeluarkan oli. Ada masalah pada as roda belakang.

Kru mencoba memperbaiki, tapi last minutes diputuskan tidak bisa dilanjutkan karena berbahaya. Kalau dilanjutkan bisa kehilangan gearbox. Keputusan ini saya rasa yang terbaik. Tim mencoba mengambil jalan yang bijak. Sebab, dalam satu musim, setiap mobil hanya mendapatkan jatah penggantian gearbox dan mesin masing-masing empat kali. Idealnya, setiap empat atau lima race baru ganti.

Bagaimana peluang Anda dalam seri berikutnya di Bahrain?

Tahun lalu, saya sukses di GP2 (juara II pada sesi feature race dan juara I pada sprint race). Mungkin ekspektasi untuk tahun ini dibanding tahun lalu jauh berbeda. Di GP2, setiap tim memiliki mobil dengan mesin dan sasis yang sama.

Di F1 ada banyak faktor. Perbedaan dengan tim lain, seperti Ferrari dan Mercedes, juga signifikan. Pastinya, saya memiliki modal yang bagus karena mengenal sirkuit dengan baik. Kalau breaking point, misalnya, tutup mata sudah tahu. Ada modal track knowledge.

Apa persiapan menjelang ke Bahrain?

Senin atau Selasa depan saya berangkat ke Bahrain. Persiapan rutin, ya seperti biasa. Latihan fisik setiap hari. Dengan tim hampir setiap hari berkomunikasi, lewat e-mail atau telepon.

Tim rutin memberikan data soal balapan di Melbourne lalu. Data kecepatan pada setiap sektor, dari free practice, kualifikasi, hingga balapan. Data dari mobil Pascal Wehrlein (rekan satu tim Rio di Manor Racing) juga dikirim. Tim juga memberikan perbandingan data kedua mobil untuk dijadikan bahan evaluasi.

Saat free practice di Australia, kemarin, kami sempat tes setting-an untuk Bahrain. Itu dievaluasi lagi, apakah setting-an ini bisa dipakai di Bahrain.

Apa ada target pada seri berikutnya?

Secara realitas, pasti untuk dapat poin karena ada fresh money dari F1 bila ada poin. Itu target Manor, targetku juga. Jadi pertama adalah dapat poin. Namun, untuk dapat poin, cukup sulit karena lawan lebih baik ketimbang Manor.

Tim juga pasti merasakan bahwa dalam beberapa race kami bisa dapat poin. Langkah pertama adalah reliabilitas mobil mesti 100 persen. Saya juga berharap terus mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia.

Bagaimana dengan kondisi tim Manor Racing saat ini?

Saat balapan pra-musim kemarin, banyak kru Manor yang baru. Jadi secara personal masih merasa jauh karena baru kenalan.

Sekarang, hubungan lebih bagus. Sudah ngobrol tentang personal life. Dan mobil sekarang rasanya lebih enak. Tim melihat progres yang cepat dibanding saat pra-musim.

Lap time dan gap dengan tim-tim lain juga membaik, jauh lebih baik dibanding pada tahun lalu. Tim melihat saat ini performa mobil cukup kompetitif dan layak bersaing dengan tim papan tengah.

Apakah kru tim Manor Racing penasaran dengan Indonesia?

Mereka sangat antusias mendengar Indonesia lantaran jumlah fan yang fantastis. Mereka juga senang karena mendapat dukungan dari jutaan penggemar baru di Indonesia. Mereka kagum akan sambutan sejumlah pejabat pemerintah, baik ketika di Barcelona ataupun di Melbourne.

Mereka banyak bertanya, “Di Indonesia kalau liburan ke mana, Ngapain aja, apa yang bagus di sana, dan sebagainya. Setelah GP Singapura, ada waktu jeda sedikit. Tim rencananya akan mampir dan melihat langsung keindahan Indonesia. Saya pribadi ingin mempopulerkan pariwisata Indonesia melalui balapan F1.

Perasaan Anda saat bisa mengalahkan Pascal dalam kualifikasi?

Pasti senang. Ini permulaan yang bagus dan sudah tentu meningkatkan keyakinan saya. Tim juga senang atas perkembangan saya sejak di Barcelona hingga Melebourne.

Apa ritual Anda sebelum masuk kokpit dan balapan?

Hmmm… Pokoknya ada. Berdoa yang pasti. Tapi yang paling penting, saya harus bisa masuk kokpit lebih dulu dibanding Pascal. Secara psikologis, ini membuat saya lebih siap dibanding Pascal.

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!