Momen Bintang Timnas Indonesia Rebutan Wefie dengan Johan Cruyff

redaksi.co.id - Momen Bintang Timnas Indonesia Rebutan Wefie dengan Johan Cruyff Saat namanya sedang berada di puncak ketenaran, almarhum Johan Cruyff sempat datang ke Indonesia. Bintang-bintang...

18 0

redaksi.co.id – Momen Bintang Timnas Indonesia Rebutan Wefie dengan Johan Cruyff

Saat namanya sedang berada di puncak ketenaran, almarhum Johan Cruyff sempat datang ke Indonesia. Bintang-bintang Timnas Indonesia sampai harus berebut minta wefie (foto bareng) dengan sang maestro Total Football.

Pada Selasa, 24 November 1980, Johan Cruyff bersama klubnya asal Amerika Serikat, Washington Diplomats, berlaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno (saat itu bernama Stadion Utama Senayan) untuk menjajal kekuatan PSSI Utama. Tuan rumah yang menjadi lawan pertandingan persahabatan dihuni bintang-bintang Timnas Indonesia asal kompetisi Galatama.

Nama Johan Cruyff kala itu sedang top-topnya. Aksinya di Piala Dunia 1974 jadi buah bibir penggemar sepak bola sejagat, tak terkecuali di Indonesia. Senayan penuh sesak fans sepak bola Tanah Air yang ingin melihat dari dekat bintang dunia.

Padahal Washington Diplomats, klub yang mentas di North American Soccer League, bukan klub tenar. Tidak bisa dimungkiri kalau sosok Johan Cruyff yang ingin ditonton. Sihirnya memainkan si kulit bundar jadi hiburan yang dinanti.

Sebelumnya, Ajax Amsterdam klub yang membesarkan Cruyff datang ke Indonesia pada 1975 (setahun setelah Piala Dunia 1974). Klub yang tengah jadi jadi kekuatan nomor satu Eropa tampil di turnamen mini bareng Timnas Indonesia dan Manchester United. Sayangnya, legenda kelahiran25 April 1947 sudah pindah klub ke FC Barcelona.

Ajaxmenjadi juara turnamen segitiga tersebut. Mereka menang 3-2 atas MU (Senin, 1 Juni 1975) dan 4-1 saat berjumpa Indonesia (Kamis, 5 Juni 1975). Pertandingan tersebut juga dibanjiri penonton, tapi rasanya jelas berbeda tanpa Johan Cruyff.

Jangan heran jika kemudian kedatangan sosok legendaris, yang bermain di posisi gelandang serang, bareng klub asal Negeri Paman Sam jadi momen yang ditunggu-tunggu.

“Sejujurnya saya tidak ingat benar momen pertemuan dengan Johan Cruyff. Yang pasti saya pribadi kagum padanya. Filosofi Total Football yang dimainkannya mengubah peradaban dunia. Saat saya aktif bermain, pelatih-pelatih lokal meniru gaya bermain timnas Belanda. Bertje Matulapelwa dan Sartono Anwar, pelatih yang kala itu memainkan Total Football,” ujar Rully Nere.

Bintang-bintang Tim Merah-Putih amat antusias menjalani pertandingan, yang sejatinya hanya bersifat ekshibisi.

“Saya beruntung saat masih aktif bermain sempat merasakan satu lapangan dengan bintang-bintang besar sepak bola dunia. Tak terkecuali figur top, Johan Cruyff,” ungkap Bambang Nurdiansyah, striker PSSI Utama dalam sebuah perbincangan dengan bola.com beberapa waktu lalu.

Bambang Nurdiansyah yang kini menjadi pelatih PS Polri, sedikit dari pesepak bola Indonesia yang bisa merasakan atmosfer sepak bola Belanda. Selain menjajal mega bintang, Johan Cruyff, Banur juga sempat menimba ilmu kepelatihan di Negeri Kincir Angin pada tahun 2006.

Kala itu Bambang jadi asisten pelatih Timnas Indonesia U-23 Asian Games Asian Games 2006. PSSI menggelar pelatnas jangka panjang di Belanda di bawah supervisi pelatih top, Foppe de Haan.

“Sepak bola Belanda luar biasa, terutama dalam membina pemain. Dengan pembinaan yang terstruktur mereka tak pernah kering pemain top. Mulai dari era Johan Cruyff, Marco van Basten, dan kini Arjen Robben,” ucap Banur yang jadi siswa terbaik kursus kepelatihan KNVB (federasi sepak bola Belanda).

Pertandingan PSSI Utama kontra Washington Diplomats berlangsung meriah. Kedua tim tampil menghibur penonton.

Seusai pertandingan sosok Johan Cruyff jadi buruan bintang-bintang Indonesia. Di ruang ganti stadion mereka berebut foto bareng dengan murid langsung dari guru Total Football, Rinus Michiels.

Dengan pakaian seadanya, Bambang Nurdiansyah, Rully Nerre, Ronny Pattinasarany, Iswadi Idris (kapten), dan sejumlah pemain lainnya anggota skuat Galatama Selection wefie bareng sang legenda.

Wajah masih terlihat pucat plus keringat yang mengucur karena baru saja menjalani pertandingan, tak menjadi masalah. Yang penting bagi penggawa Tim Garuda saat itu mereka bisa mengabadikan momen langka bersamaJohan Cruyff. Setelah 36 tahun berlalu, foto alakadarnya ini pun jadi kenangan berharga.

Selamat jalan, Johan Cruyff!

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!