Dominasi Spanyol Berlanjut

redaksi.co.id - Dominasi Spanyol Berlanjut Gol bek sayap Juliano Belleti pada menit ke-81 memupuskan Impian Arsenal. Pada pertengahan Mei 2006, Barcelona meraih trofi Liga Champions kedua...

28 0

redaksi.co.id – Dominasi Spanyol Berlanjut

Gol bek sayap Juliano Belleti pada menit ke-81 memupuskan Impian Arsenal. Pada pertengahan Mei 2006, Barcelona meraih trofi Liga Champions kedua dalam sejarah klub tersebut.

The Gunners yang unggul terlebih dahulu melalui tandukkan Sol Campbell pada babak pertama harus tertunduk lesu di akhir laga. Sebelumnya Samuel Eto’o menghidupkan harapan raksasa Katalan lantaran berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-77. Euforia pun terbawa di kamar ganti skuat polesan Frank Rijkaard.

Rupanya hasil positif El Barca di negeri Napoleon Bonaparte menjadi pembuka masa keemasan sepak bola Spanyol. Tengok saja dalam sedekade terakhir, lima gelar Liga Champions singgah di ranah matador. Empat milik Lionel Messi dan rekan-rekan, sedangkan satu masuk lemari trofi Real Madrid.

Fakta apik negeri di Eropa barat daya itu berlanjut ke ajang Liga Europa. Dalam 10 tahun terakhir, wakil-wakil La Liga mendominasi kompetisi kelas dua benua biru. Sevilla tampil perkasa dengan empat gelarnya, dua lagi milik Atletico Madrid.

Tak hanya di level klub, dimensi lain pun bicara. Tim nasional Spanyol jadi satu-satunya negara yang sukses membuat back to back di Piala Eropa dan Piala Dunia. Dalam pengertian ini Iker Casillas cs menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun yakni kampiun Eropa 2008, 2012, diselingi Piala Dunia 2010.

Secara individu, kompetisi La Liga pun terlampu dominan bagi kontestan lain. Sejak 2008 hingga kini, Messi dan Cristiano Ronaldo bergantian meraih Ballon d’Or. Meski berasal dari Argentina dan Portugal dua penyerang kelas wahid itu bermain untuk Barca dan Madrid.

Dari segala segi tak berlebihan jika Spanyol raja sepak bola sedekade terakhir. Fakta kuantitas di lapangan menunjukkan hal itu. Secara kualitas memang layak.

Pola pressing game dengan mengandalkan penguasaan bola jadi pakem La Furia Roja. Empat bek sejajar naik mendekati garis tengah membuat lawan tak punya kesempatan melakuan operan bawah. Tak jarang dominasi mutlak hingga lebih dari 65 persen. Sosok pemain tengah bertipe playmaker memegang kunci dalam mengendalikan alur serangan.

Dalam bertahan pun, pola ini lebih condong ke zona marking. Setiap pemain secara konsisten bergerak mengisi posisi kosong yang ditinggalkan jugador lain. Jika menonton di layar kaca, tampak kubu lawan tak dibiarkan menyerang. Hanya bermain di area penalti sendiri.

Filosofi ini sejatinya milik Barcelona. Akademi La Masia mengajarkan bagaimana setiap pemain berani menguasai bola tak peduli apa posisinya. Secara natural semua tim La Liga pun memiliki pendekatan sama, meski tak sedahsyat Barca. Lebih senang memainkan bola, ketimbang frontal ala Inggris, atau fleksibel taktikal seperti Seri A.

Imbas nyatanya, sudah dijelaskan di atas. Dengan memeraktekkan pertahanan terbaik adalah menyerang, Spanyol terus mengembangkan sayap di level klub. Barca dan Madrid sebagai dua wakil terbaik La Liga seakan tak tersentuh.

Hanya Bayern Muenchen yang sedikit mengganggu. Wakil Bundesliga itu jadi simbol kebangkitan sepak bola Jerman. Juara Champions 2013 jadi bukti sahih. Ditambah dengan rekor semifinal kompetisi tersebut dalam lima edisi teranyar.

Namun, Muenchen seorang diri tak bisa menghadapi teror sekumpulan wakil La Liga di Benua biru. Terbukti koefisien negara tersebut masih tertinggi di Eropa. Musim ini saja, Spanyol menyumbang lima wakil di Liga Champions. Satu jatah milik Sevilla dari tiket kampiun Liga Europa.

Dominasi itu masih berlanjut. Tim-tim dari negeri semenanjung Iberia menjadi kontestan terbanyak di perempat final Liga Champions dan Liga Europa edisi 2015/2016. Ada Barca, Madrid, dan Atletico di UCL. Sevilla, Athletic Bilbao, Villarreal kebagian jatah ajang kelas dua.

Barca berpotensi memecahkan rekor sebagai tim pertama yang mempertahankan gelar kompetisi tertinggi benua Eropa sejak era Liga Champions. Sevilla berkesempatan meraih gelar Europa League dalam tiga edisi beruntun. Apapun itu, semua fakta menunjukkan konsep menyerang ala Spanyol masih merajai sepak bola secara kualitas dan kuantitas.

[removed][removed]

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!