Tujuh Anak Orang Rimba Ikuti UN

redaksi.co.id - Tujuh Anak Orang Rimba Ikuti UN Tujuh anak orang rimba di wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi akan mengikuti Ujian Nasional...

22 0

redaksi.co.id – Tujuh Anak Orang Rimba Ikuti UN

Tujuh anak orang rimba di wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi akan mengikuti Ujian Nasional (UN) tingkat sekolah menengah pertama (SMP) tahun 2016.

“Tujuh anak rimba yang akan mengikuti ujian nasional tingkat SMP yang akan dilaksanakan sekitar minggu ketiga bulan April 2016 itu yakni Budi, Bejujung, Besigar, Perbal, Besiar, Merangai dan Sekola yang usianya sekitar 17 tahun,” kata Koordinator Unit Pendidikan Orang Rimba KKI Warsi, Sasa di Jambi, Senin (28/3).

Dari tujuh anak orang rimba tersebut yang sudah dipastikan mengikuti ujian nasional itu hanya empat anak. Sementara tiga anak lain belum dapat dipastikan.

Sasa mengatakan tiga anak orang rimba yang belum bisa dipastikan mengikuti ujian nasional itu adalah Besiar, Merangai dan Sekola, karena mereka di dalam hutan dan juga ada yang sudah menikah sehingga sulit keluar dari dalam kawasan hutan.

Dijelaskannya, ke-empat anak orang rimba yang dipastikan akan mengikuti ujian nasional tersebut berusia sekitar 17 tahun.Mereka merupakan anak orang rimba yang tinggal di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas atau di kawasan Kedudung Muda di bawah pimpinan Temenggung “Grip”.

“Nantinya pelaksanaan ujian nasionalnya di SMP 12 satu atap Sarolangun di Desa Pematang Kabau. Mereka pada saat pelaksanaannya tinggal di kantor Warsi untuk sementara. Keperluan mereka juga sudah ada yang ngurusin,” katanya.

Anak orang rimba yang mengikuti ujian nasional tersebut nantinya akan mendapat perlakuan khusus dari siswa lainnya. Dari segi akademis anak orang rimba tersebut berbeda dengan anak lainnya.

Perlakuan khusus tersebut, kata Sasa berupa pendampingan pada saat mereka mengerjakan soal-soal ujian nasional, dan untuk pendampingannya itu sudah dikordinasikan kepada pihak sekolah.

“Mereka tentunya berbeda dengan siswa lainnya, mereka tidak menguasai semua mata pelajaran, jadi nanti akan ada pendampingan. Misalnya dalam soal itu ada bahasa yang sulit dipahami oleh mereka dan nantinya akan diterjemahkan ke bahasa orang rimba oleh pendamping itu,” katanya menambahkan.

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!