Kisah Runtuhnya Industri Baja Dunia

redaksi.co.id - Kisah Runtuhnya Industri Baja Dunia Industri baja dunia tengah di ambang krisis. Banyak perusahaan baja yang terpukul dan menyatakan bangkrut, imbas dari rendahnya harga...

17 0

redaksi.co.id – Kisah Runtuhnya Industri Baja Dunia

Industri baja dunia tengah di ambang krisis. Banyak perusahaan baja yang terpukul dan menyatakan bangkrut, imbas dari rendahnya harga dan turunnya permintaan karena kondisi ekonomi yang belum pulih betul.

Baru-baru ini, salah satu produsen baja terbesar di Eropa, Tata Steel menyatakan akan menutup pabrik dan menjual seluruh asetnya yang berada di Inggris. Belasan ribu pegawainya terpaksa harus kehilangan pekerjaan.

Mereka tak ingin bisnisnya runtuh karena krisis yang terjadi. Tata meminta pertolongan pemerintah Inggris untuk melakukan bailout. Semata-mata untuk menyelamatkan 15 ribu pekerja yang nasibnya kian tak jelas.

Seperti dilansir dari beberapa sumber, Pemerintah Inggris menyatakan bakal membantu sebisa mungkin untuk menyelamatkan pekerjaan mereka. Namun, perlu dicatat, pemerintah tak bisa menjamin akan berhasil.

Pemerintah juga bukan tanpa alasan menyatakan tak ada jaminan Tata Steel bisa keluar dari zona krisis, bahkan berlaku juga untuk produsen baja lainnya. Siapa yang mau membeli aset atau perusahaan yang merugi 1 juta pound sterling setiap hari?

Salah satu pabrikmilik Tata di Inggris, Port Talbot yang mempekerjakan 4.100 orang dikabarkan mengalami kerugian hingga 1 juta pound sterling setiap hari, seperti yang diberitakan BBC.

Perdana Menteri Inggris David Cameron sangat prihatin dengan kondisi ini. Menurutnya kondisi di Port Talbot butuh perhatian lebih dan lapangan kerja di sektor baja ini adalah sangat vital bagi pekerja itu sendiri, keluarga juga lingkungan mereka.

Cameron juga menyatakan tak mungkin jika Tata dinasionalisasi setelah keputusannya menjual bisnis mereka di Inggris.

Sekretaris Luar Negeri Inggris Phillip Hammond menambahkan dalam satu kesempatan bahwa sebuah solusi yang lebih konkrit dibutuhkan dalam mengatasi masalah ini.

“Kita jelas tak bisa mengabaikan ini. Terus melakukan produksi tanpa ada permintaan pun bukan jawaban,” katanya.

Nampaknya pemerintah Inggris kebingungan mencari solusi. Mencari investor yang mau membeli perusahaan adalah salah satu solusi jitu. Tapi pertanyaannya, dengan kerugian Port Talbot yang mencapai 1 jutapound sterling setiap hari, apa ada yang mau mengambil alih?

Para menteri menyatakan mereka butuh waktu beberapa bulan untuk mencari rencana penyelamatan perusahaan.

Sementara itu, para pekerja menunggu dalam kondisi ketidakpastian. Mereka ingin tahu berapa lama lagi mereka bekerja di Port Talbot, apa mereka dapat dana pensiun dan lain-lainnya.

Sebenarnya bisnis Tata Steel yang merupakan produsen baja terbesar di dunia adem ayem saja sebelum krisis global menghantam banyak negara khususnya China.

Produksi baja di Inggris naik lebih dari separuh pada masa kejayaannya di tahun 1970-an, dan mencapai produksi 12 juta ton per tahun. Tapi di 2015, produsen baja Inggris berkontribusi kurang dari 1 persen dari pasokan dunia.

Siapa pemasok terbesar? Di sini cerita menariknya.

Sementara pabrik baja Inggris jatuh, produksi dunia meningkat pesat, hampir dua kali lipat dalam kurun 2002 dan 2014.

Peningkatan terbesar datang dari China, yang produksinya meningkat hingga 4 kali lipat sejak 2000. Di 2015, China memproduksi lebih dari 800 juta ton atau setengah dari pasokan dunia.

Tapi, ekonomi China tengah lesu, pembangunan infrastruktur di Negeri Tirai Bambu itu berjalan lambat. Alhasil permintaan terhadap baja di dalam negeri tidak menggembirakan.

Kemudian, China mengalihkan pasokannya ke pasar ekspor. Baja-baja dari negara ini tersebar, dan menggeser pasar dari baja-baja negara lain, termasuk dari Tata Steel. Apalagi, China diduga melakukan dumping.

Itu dinilai jadi salah satu alasan para produsen baja di Eropa kehilangan pasar. China mengekspor 112 juta ton per tahun. Baja China yang berada “di mana-mana” membuat harga jatuh.

Alasan China melakukan itu adalah karena produksi baja di negara tersebut tengah surplus. Mereka kelebihan pasokan. Produksi harus terus berjalan, sementara permintaan lambat. Mau tak mau mereka harus mencari pasar yang lain.

Kebanyakan produsen baja dunia menderita karena kondisi ini. Tapi nasibnya berbeda.

Produsen Amerika ditolong oleh pemerintahnya yang menerapkan tarif 500 persen untuk beberapa bentuk baja. Mereka juga mendapatkan energi murah dari gas alam.

Sementara Inggris menghadapi persoalan. Biaya energi mereka tertinggi di Eropa. Penguatan pound sterling menghantam ekspor mereka, sementara pabrik baja di area Eropa beruntung karena pelemahan euro.

Kembali bicara mengenai China, yang dinilai sebagai salah satu faktor utama dari kondisi ini. China sebenarnya sudah memangkas produksi hingga 150 juta ton yang menyebabkan 400 ribu orang kehilangan pekerjaan. Namun, tetap, negara ini kelebihan pasokan.

Sektor industri baja di China, yang terbesar dunia dalam beberapa tahun ini kelebihan pasokan hingga mencapai 300 juta ton. Setara dengan 3 kali lipat produksi tahunan Jepang. Kondisi kelebihan ini semakin parah terjadi di 2 tahun terakhir saat ekonomi negara tengah melambat. (Zul/Ndw)

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!