Juru Parkir Malioboro Bisa Kuliahkan Anaknya di UGM

redaksi.co.id - Juru Parkir Malioboro Bisa Kuliahkan Anaknya di UGM , Yogyakarta - Saat Pemerintah Kota Yogyakarta berencana merelokasi lokasi parkir di sebelah timur Jalan...

24 0

redaksi.co.id – Juru Parkir Malioboro Bisa Kuliahkan Anaknya di UGM

, Yogyakarta – Saat Pemerintah Kota Yogyakarta berencana merelokasi lokasi parkir di sebelah timur Jalan Malioboro ke Taman Parkir Abubakar Ali pada 4 April 2016, juru parkir di kawasan wisata itu pun meradang.

Sebagian menolak rencana relokasi itu, tapi anehnya tetap menuntut kenaikan besaran kompensasi yang ditawarkan Pemerintah Kota Yogyakarta yang hanya Rp 50 ribu per hari selama dua bulan.

Artinya, dalam sebulan sebanyak 95 juru parkir yang terdaftar di Pemerintah Kota Yogyakarta hanya membawa pulang Rp 1,6 juta ketika mereka pindah ke Taman Parkir Abu Bakar Ali.

Jika direlokasi ke Abu Bakar Ali penghasilan juru parkir Malioboro akan berkurang drastis, ujar Hanarto, juru parkir Malioboro bertugas di depan pusat perbelanjaan Ramai Mall, Jumat 1 April 2016.

Dia menjelaskan, Taman Parkir Abu Bakar Ali akan menerapkan sistem parkir progresif elektronik di bawah pengendalian pemerintah kota langsung. Bukan model bonggol karcis, katanya.

Hanarto menjelaskan, sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini retribusi parkir di Malioboro juga lokasi lain di pusat keramaian Yogya, jarang memakai ketentuan resmi sesuai Peraturan Paerah (Perda) No 18 tahun 2009 tentang Tarif Parkir.

Biaya parkir resmi untuk sepeda motor yang tertera pada karcis parkir hanya Rp 1.000, mobil Rp. 2.000. Tapi juru parkir biasanya menarik Rp 1.500 sampai Rp 2.000 untuk sepeda motor, sedang mobil bisa sampai Rp 5.000 atau lebih.

Kalau ada pemilik sepeda motor hanya memberi Rp 1000 sesuai harga yang tercantum di karcis parkir, juru parkir biasanya menolaknya, atau meminta lebih. Pernah juru parkir Malioboro membuang uang Rp 1000 yang saya berikan sambil marah-marah, ujar Budi, bukan nama sebenarnya, penduduk Bumijo Kulon, Kota Yogyakarta.

Menurut Hanarto, juru parkir memungut uang parkir di atas nominal yang tertulis di karcis parkir sudah jamak terjadi. Kelebihan tarif parkirnya ya masuk kantong pribadi, katanya. Padahal, dengan tarif resmi juru parkir sudah mendapat jatah 75 persen, atau sebesar Rp 750. Setoran kepada Pemda hanya Rp 250.

Ketika juru parkir memungut Rp 2000, setoran ke pemda tetap Rp 250, selebihnya masuk kantor juru parkir. Dengan tarif resmi saja, juru parkir di Malioboro bisa membawa Rp 200 ribu sehari.

Kantong juru parkir makin tebal ketika memungut tarif Rp 2000 untuk sepeda motor. Bisa dapat Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu sehari, ujar Hanarto.

Apalagi saat musim liburan. Dalam sebulan juru parkir Malioboro bisa membawa pulang Rp 9 juta sampai Rp 12 juta, di atas gaji pegawai kantoran di Yogyakarta. Tak heran Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra dalam aksi protes menolak kompensasi relokasi di Balaikota Yogyakarta menuntut pemerintah memberi jaminan pendidikan bagi anak-anak juru parkir hingga ke perguruan tinggi.

Kalau banyak yang bilang juru parkir bisa mengkuliahkan anaknya, ya memang sangat bisa dengan penghasilan itu, ujarnya. Sigit Karsana, misalnya, mengaku anaknya kuliah di Universitas Gadjah Mada. PRIBADI WICAKSONO

(red/ainin/adziroh/LN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!