Dampak Buruk El Nino di Dunia, 100 Juta Orang Kelaparan

redaksi.co.id - Dampak Buruk El Nino di Dunia, 100 Juta Orang Kelaparan , Jakarta - Kekeringan di Afrika bulan lalu yang disebabkan El Nino menjadi...

20 0

redaksi.co.id – Dampak Buruk El Nino di Dunia, 100 Juta Orang Kelaparan

, Jakarta – Kekeringan di Afrika bulan lalu yang disebabkan El Nino menjadi berita utama iklim dan lingkungan hampir di seluruh dunia.

Alih-alih melambat, “monster” iklim ini kian memperparah beberapa daerah tropis. Indonesia salah satunya. Kekeringan, kekurangan makanan dan air, serta kebakaran hutan, menjadi dampak serius dari El Nino.

Organisasi Pangan PBB (FAO), seperti dilansir laman berita The Guardian, bahkan menyatakan bahwa El Nino tahun ini merupakan yang terkering dalam 35 tahun terakhir. “Imbasnya, 100 juta orang kelaparan,” demikian tulis FAO.

El Nino adalah perpindahan arus air hangat dari barat ke daerah Pasifik bagian tengah dan timur. Pergeseran ini membuat udara panas ikut terpompa ke atmosfer tropis dan mengganggu pola sirkulasi suhu setempat. Ini menyebabkan efek domino ke atmosfer global yang berjarak ribuan mil jauhnya.

Menurut Andrea Thompson, editor iklim dari Climate Central, ada dua pola sirkulasi utama yang terpengaruh El Nino. Pertama pola naik dan tenggelamnya udara-seperti lingkaran vertikal-atau dikenal dengan sirkulasi walker.

Udara turun akan membuat kondisi basah dan menciptakan curah hujan, sementara udara turun akan membuat iklim lebih kering. Pola ini membuat iklim seimbang.

Dengan bergesernya El Nino ke timur, sirkulasi walker juga akan bergerak ke arah timur. Artinya, membuat daerah yang harusnya basah menjadi kering, begitupun sebaliknya. Daerah-daerah tersebutlah yang terkena dampak terkuat El Nino. Daerah tropislah yang akan terkena dampak dari pergerakan sirkulasi ini.

Pergeseran sirkulasi walker pada akhirnya menyebabkan pergeseran pola lain yang disebut sirkulasi hadley. Siklus ini mirip dengan sirkulasi sebelumnya, hanya berbeda dari daerah pergerakan.

Hadley bergerak dari utara ke selatan dan barat ke timur. Perubahan dalam sirkulasi ini mempengaruhi aliran jet subtropis-wilayah udara yang bergerak memandu badai-baik di belahan utara maupun selatan. Dan pada akhirnya, membuat daerah subtropis terkena dampaknya.

Lalu bagaimana dampak lokal dan regional perubahan kedua sirkulasi tersebut?

1. Asia Tenggara dan Mikronesia

Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, termasuk daerah yang paling terkena dampak “monster” iklim ini karena sirkulasi walker bergeser dan menyebabkan kondisi kering sepanjang tahun. Imbasnya: kemarau berkepanjangan, gagal panen, dan meningkatkan potensi kebakaran hutan.

Di Indonesia, seperti diberitakan irinnews.org, terjadi gagal panen padi pada akhir tahun 2015 dan awal 2016. Di Vietnam, kekeringan menyebabkan masalah pasokan air bersih di wilayah Delta Sungai Mekong. “Rumah bagi 20 juta orang dan ladang padi terbesar Vietnam,” demikian yang diberitakan Channel News Asia pada 1 Maret lalu.

Kekeringan bahkan menyebabkan Republik Kepulauan Marshall dan Kepulauan Mikronesia lainnya menyatakan keadaan darurat. Melalui deklarasi tertanggal 3 Februari 2016, Presiden Republik Kepulauan Marshall memberlakukan penjatahan air minum.

2. Australia dan Samudera Pasifik

Tahun ini, Australia mengalami dampak campuran El Nino. Pergeseran sirkulasi walker sama membuat kondisi yang sama terjadi di Asia Tenggara ke Benua Kangguru. Belahan utara dan tenggara Australia mengalami musim panas yang berkepanjangan, sementara daerah selatan dan timurnya kedatangan musim dingin yang lebih cepat.

Hal tersebut disebabkan perairan Samudera Hindia menyediakan lebih banyak uap air hangat. Beberapa daerah di Australia pernah mencapai suhu 40 derajat Celsius. Kondisi panas dan kering tersebut membantu menciptakan kebakaran hutan yang besar di Victoria tahun ini. Salah satu kebakaran terburuk yang menghancurkan 116 rumah.

Sedangkan di Samudera Pasifik air laut yang lebih hangat menyebabkan pemutihan terumbu karang, yang bisa membunuh mereka. Coral bleaching ini, menurut para ahli, menjadi peristiwa pemutihan global terpanjang yang pernah tercatat sepanjang sejarah.

3. Amerika Selatan

Air laut yang lebih hangat di lepas pantai barat cenderung membawa cuaca yang lebih hangat ke daerah pantai belahan bumi selatan selama musim dingin. Perairan juga membuat lebih banyak uap air yang membuat bibit badai. Ini berarti membuat Cile lebih basah pada musim dingin. Meski membawa manfaat ke beberapa resor ski, tapi hujan juga membawa potensi banjir dan longsor, serta anomali ikim lainnya.

Seperti badai langka yang terjadi pada awal Maret di daerah Gurun Atacama, misalnya. Pasca-badai, bunga berwarna merah muda tumbuh di gurun ini. Atau peristiwa langka di Sungai Copiap tahun lalu. Seperti dilansir dari laman situs NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), sungai yang kering selama 17 tahun ini tiba-tiba meluap dan menyebabkan banjir bandang yang melanda beberapa kota.

Rantai perubahan pada sirkulasi walker dan hadley juga membawa anomali cuaca selama musim panas di Paraguay, Argentina utara, serta selatan Brasil dan Uruguay.

Sepanjang Desember-Januari, kawasan tersebut diserang hujan lebat dan membuat Sungai Asuncin meluap lebih dari 16 kaki batas normal. Dampaknya, banjir terburuk selama 50 tahun terakhir, menggusur 200 ribu orang, dan merendam ribuan hektare lahan pertanian.

Pergeseran sirkulasi walkter membuat kering daerah Brasil utara dan negara-negara lain di utara Amerika Selatan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, perubahan iklim ini pula bertanggungjawab atas penyebaran virus Zika. “Nyamuk Aedes aegypti kian berkembang biak di wadah penampungan air warga,” demikian pernyataan CDC yang dikutip US News.

4. Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia

Lebih jauh ke utara, cuaca kering menyerang daerah Guatemala, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador. Kerugian gagal panen, menurut laporan European Commission yang diluncurkan bulan ini, berimbas pada 3,5 juta orang.

Kemarau juga melanda Republik Dominika, Haiti, dan Antigua. Sedangkan di Karibia Timur El Nino menyebabkan air laut meluap dan menenggelamkan sisi terluar Pulau St. Lucia, St. Kitts, Barbados, dan Puerto Rico.

5. Amerika Serikat

El Nino membawa kondisi yang berlawanan di Florida. Pergeseran sirkulasi hadley ke selatan membawa badai tornado dan musim dingin pada waktu yang seharusnya musim panas. Cuaca yang lebih basah terjadi California Selatan, setelah empat tahun mengalami kekeringan. Namun hujan dan badai mematikan aktivitas sebagian besar daerah California.

Sepanjang pantai Alaska timur, El Nino menghangatkan suhu normal rata-rata. Ini menjadi tahun terpanas daerah tersebut dalam 10 tahun terakhir. Salju pun mencair dan berdampak pada penyebaran spesies asing.

6. Afrika

Benua Afrika adalah area yang paling kompleks terkena dampak El Nino. Pergeseran sirkulasi walker menyebabkan iklim lebih tinggi di Kenya, Somalia Selatan, dan Ethiopia, yang meningkatkan hujan musiman. Naiknya siklus ini dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, dan semakin merebaknya wabah penyakit.

Hujan lebat di daerah tersebut sudah dimulai sejak Oktober tahun lalu. Beberapa desa dan lahan pertanian terendam. Menurut International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, banjir pada bulan Januari membuat 100 ribu orang mengungsi dan 112 lainnya tewas. Beberapa penyakit, seperti kolera, zoonis dengan vektor nyamuk, terutama Rift Valley Fever, pun mulai menyebar.

Kekeringan melanda sebagian besar Benua Afrika bagian selatan dan timur laut, seperti Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe. Pergeseran sirkulasi walker dan hadley berinteraksi dengan curah hujan di daerah tersebut dan cenderung menemukan musim, menyebabkan kekeringan, gagal panen.

Di Zimbabwe ada 2,5 juta orang membutuhkan pangan. Afrika Selatan, yang menjadi eksportir jagung terbesar di Afrika, harus rela merugi dan tak melakukan ekspor karena pasokan jagung mereka dipakai untuk memberi makan warganya.

Kekeringan juga membuat pasokan listrik di Afrika menurun lantaran debit air dari air terjun Victoria yang megah berkurang.

CLIMATE CENTRAL | THA GUARDIAN | CHANNEL NEWS ASIA | ABC.NET.AU | NOAA | THE WASHINGTON POST | CDC | EUROPEAN COMMISSION | AMRI MAHBUB

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!