Duka Pekerja di Balik Pengerjaan Stadion Piala Dunia Qatar

redaksi.co.id - Duka Pekerja di Balik Pengerjaan Stadion Piala Dunia Qatar Dalam proposal untuk FIFA, Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 akan membangun sembilan stadion...

24 0

redaksi.co.id – Duka Pekerja di Balik Pengerjaan Stadion Piala Dunia Qatar

Dalam proposal untuk FIFA, Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 akan membangun sembilan stadion baru dan merenovasi tiga stadion lainnya di tujuh kota yang berlokasi di Qatar. Tujuh kota tersebut adalah Al Daayen, Al-Khor, Al-Rayyan, Al-Shamal, Al-Warkah, Doha, dan Umm Slal.

Stadion yang dibangun akan dilengkapi dengan teknologi untuk mengurangi radiasi matahari dan angin panas di siang hari. Di stadion juga akan pendingin ruangan untuk memberikan rasa nyaman.

Setelah Piala Dunia 2022 selesai, rencananya pihak Qatar akan membongkar bagian-bagian dari stadion dan mengirimkan kepingan tersebut ke negara-negara berkembang untuk membuat 22 stadion baru.

Dalam proses pengerjaan stadion Piala Dunia ini, salah satunya Khalifa International Stadium di Doha, pihak FIFA dan pemerintah Qatar dituduh melakukan penyalahgunaan sistem dan perlakuan mengerikan terhadap tenaga kerja asing yang bekerja membangun stadion tersebut.

Kontrator utama di Khalifa International Stadium merupakan gabungan dari perusahaan Six Construct, anak perusahaan dari perusahaan Belgia Besix, dan perusahaan konstruksi Midmac. Pun ada perusahaan yang dikontrak untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu, termasuk perusahaan Malaysia Eversendai.

Mengutip The Guardian, Kamis (31/3), suatu gerakan global yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), Amnesty International telah mewawancarai 132 kontraktor yang bekerja untuk merenovasi Khalifa International Stadium dan 102 landscapers yang bekerja di kompleks olahraga Aspire Zone. Para pekerja tersebut melaporkan adanya pelanggaran HAM.

Jumlah buruh yang bekerja untuk membangun stadion meningkat dari 2.000 pekerja menjadi 4.000 pekerja pada tahun lalu. Sementara diperkirakan jumlah pekerja akan mencapai jumlah 36 ribu dalam dua tahun ke depan.

Untuk pertama kalinya, Amnesty International mengatakan adanya indentifikasi penganiayaan dan pelanggaran HAM saat pengerjaan stadion yang akan menyelenggarakan pertandingan Piala Dunia ini.

Mereka melakukan wawancara selama tiga sesi kunjungan selama setahun sejak Februari 2015. Para pekerja renovasi Khalifa International Stadium dipaksa tinggal di tempat yang kumuh, membayar mahal biaya perekrutan, dan pemotongan gaji.

‘Hidup di Qatar Seperti Masuk Penjara’

Dari para pekerja asing yang diwawancarai, Amnesty International menemukan sebagian besar dugaan adanya penyitaan paspor tenaga kerja asing. 88 orang telah ditolak haknya untuk meninggalkan Qatar.

Terkait gaji, mereka juga melaporkan upahnya ditangguhkan tiga sampai empat bulan. Bukti lainnya beberapa pekerja stadion dikontrak oleh sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja.

Perusahaan tersebut merupakan lembaga yang mensponsori sejumlah tenaga kerja asing yang datang ke Qatar dan memperkerjakan mereka untuk perusahaan lain. Selain itu, ada isu penipuan dalam proses perekrutan.

Bagi para pemain dan suporter stadion tempat Piala Dunia adalah tempat dunia. Tetapi untuk beberapa pekerja, tempat tersebut menjadi mimpi buruk mereka. Penyalahgunaan tenaga kerja asing adalah hal yang kejam di dunia sepak bola, kata Direktur Jenderal Amnesty International, Salil Shetty.

Pekan lalu, Qatar diberikan waktu selama satu tahun untuk mengakhiri perbudakan tenaga kerja asing oleh PBB. Langkah ini disusul oleh delegasi Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk negara Teluk yang menemukan tenaga pekerja asing yang terdampar selama berbulan-bulan tanpa bayaran dan paspor yang disita.

Menurut Shetty, keadaan para pekerja asing yang berutang, tinggal di kamp kumuh di padang gurun, dibayar dengan biaya yang murah sangat kontras dengan kehidupan satu pemain papan atas yang akan bermain di stadion pada saat Piala Dunia 2022.

Yang dinginkan oleh para pekerja, Shetty mengatakan, adalah hak mereka seperti gaji yang dibayar tepat waktu, dapat meninggalkan Qatar bila diperlukan, serta diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.

Laporan Shetty ini diperkuat oleh fakta salah satu pekerja pengolah logam (metal worker) yang menyatakan hidup seperti di penjara. Ia mengaku para tenaga asing bekerja selama berjam-jam di bawah terik matahari.

Ketika pertama kali datang ke Qatar, seorang manajer berkata Anda bisa mengeluh tetapi akan ada konsekuensi. Jadi tinggal di Qatar dengan tenang dan terus bekerja. Sekarang saya dipaksa untuk tinggal di Qatar dan terus bekerja, kata salah satu metal worker tersebut.

FIFA Gagal Hentikan Pelanggaran HAM

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA), yang dianggap gagal untuk menghentikan pelanggaran HAM di Piala Dunia selama lima tahun oleh Amnesty International ini, buka suara lewat FIFA Sustainability Head, Federico Addiechi.

Menurutnya, FIFA telah mengambil tindakan konkret dan berkomitmen penuh agar HAM dihormati di semua situs tempat Piala Dunia serta operasi dan layanan yang terkait dengan acara sepak bola tersebut.

Proses ini meliputi standar kesejahteraan pekerja sejak 2014, memantau kepatuhan semua peserta tender, dan adanya laporan reguler yang tersedia untuk umum dan empat tingkatan sistem audit.

Sementara itu sekata dengan FIFA, Komite Tertinggi Piala Dunia Qatar berkomitmen untuk memastikan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan setiap pekerja di proyek-proyek Piala Dunia.

Namun, mereka berpendapat Amnesty International hanya fokus pada empat dari 40 perusahaan yang terlibat pembangunan stadion. Banyak masalah yang diidentifikasi oleh LSM juga sudah diperbaiki dengan barak bukti beberapa bulan kemudian.

Pekan lalu, Qatar diberikan waktu selama satu tahun untuk mengakhiri perbudakan tenaga kerja asing oleh PBB.

Langkah ini disusul oleh delegasi Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk negara Teluk yang menemukan tenaga pekerja asing yang terdampar selama berbulan-bulan tanpa bayaran dan paspor yang disita.

(red/ramanta/utra/amungkas/BPP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!