Formula 1 Terus Ribut Sendiri soal Sistem Kualifikasi

129

redaksi.co.id – Formula 1 Terus Ribut Sendiri soal Sistem Kualifikasi

Siapa pegang kendali Formula 1 saat ini? Rasanya semakin tidak jelas. Diskusi soal format babak kualifikasi saja terus menemui jalan buntu. Padahal, kemarin para bos tim sudah bertemu dengan petinggi F1.

Pada zaman keemasan Formula 1, dalam hal ini era 1990-an sampai awal 2000-an, siapa yang pegang kendali jelas.

Bernie Ecclestone sebagai bos komersial satu visi dengan presiden FIA (Federasi Balap Mobil Dunia) kala itu, Max Mosley.Tim-tim, karena situasi dan kondisi F1 begitu sehat dari segi finansial, dengan senang hati mengikuti segala arahan mereka.

Ecclestone dan Mosley juga berani main tangan besi kalau ada yang berani melawan.Belakangan, siapa yang pegang kendali makin tidak jelas. Tim-tim punya perwakilan.

Ecclestone tidak lagi sekuat dulu, dan usia sudah semakin mendekati angka 90. Para sponsor sekarang juga punya andil bersuara.Akibatnya, banyak sekali perubahan aturan yang sepertinya justru menjerumuskan F1.

Yang belakangan paling diributkan: Format kualifikasi 2016.Niat format baru kualifikasi sebenarnya baik. Supaya lebih seru buat penonton. Para pembalap tetap ikut sistem knockout alias eliminasi yang terbagi dalam tiga sesi.

Tapi, bukannya dieliminasi di akhir sesi, para pembalap justru dibuang satu per satu setiap 90 detik mendekati akhir setiap sesi.

Di Australia, sistem itu menuai hujatan. Bukannya berlangsung mendebarkan, banyak mobil justru parkir di garasi di menit-menit akhir kualifikasi. Padahal, sebelumnya menit-menit akhir itu yang paling seru.

Minggu pagi sebelum lomba di Australia (20/3), sempat ada pertemuan tim yang menyatakan mereka akan sepakat untuk mengembalikan sistem seperti 2015.

Eh, sebelum Grand Prix Bahrain akhir pekan lalu, kesepakatan itu tidak selaras dengan kemauan pengawas lomba dan pihak lain (tidak jelas siapa, tapi yang jelas ikut punya suara).

Kesempatan pun diberikan sekali lagi Sabtu lalu di Bahrain (2/4). Hasilnya? Lebih parah lagi! Kini tim-tim sudah tahu kapan harus memarkir mobil, sehingga setiap sesi berlangsung semakin sepi aksi.

Usai kualifikasi itu, hujatan kembali muncul. Pertemuan dijadwalkan berlangsung Minggu kemarin (3/4) sebelum lomba.Semua hadir dalam meeting 90 menit itu.

Para bos tim, Bernie Ecclestone, Presiden FIA Jean Todt, plus pimpinan balap Pirelli (supplier ban) Paul Hembery, menghadirinya.Hasilnya? Tetap tidak ada kesepakatan!

Tim-tim menginginkan kembali ke format 2015. Tapi, pihak lain tidak menyetujuinya. Justru muncul usulan format baru untuk menyiasati masalah-masalah pada format 2016.

Rencananya, usulan format baru tersebut dibahas lagi dalam pertemuan selanjutnya, dijadwalkan Kamis depan ini (7/4).Kata mereka (non-tim, Red) format 2015 tidaklah cukup baik, ungkap Toto Wolff, principal Mercedes.

Tim-tim sudah pasti sangat tidak menyukai format 2016. Jangankan penonton televisi, Wolff mengaku pihaknya di garasi sirkuit saja bingung mengikuti berlangsungnya kualifikasi. Padahal, semua data tersedia jauh lebih lengkap di hadapan mereka.

Sulit dipercaya. Kami duduk di depan layar dengan begitu banyak data, bersama orang-orang pintar, dan kami tetap tidak bisa mengikutinya! kata Wolff seperti dilansir Autosport.

Bukan hanya bos tim, para pembalap pun geleng-geleng kepala dengan kepemimpinan F1 sekarang.

Terlalu banyak politik dan omong kosong di F1, segalanya kadang berlangsung begitu gila. Orang- orang di luar sana pasti melihat kami dan menganggap kami semua bodoh, komentar Kimi Raikkonen, bintang Ferrari, ketus.

Jadi, seperti apa kualifikasi nanti? Kita masih harus menunggu sampai Kamis (mungkin Jumat baru muncul detailnya). Dan masih ada kemungkinan kesepakatan juga belum dicapai hari itu, sehingga kita harus menunggu lagi sampai mendekati Grand Prix Tiongkok pada 1517 April mendatang.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, sampai sekarang F1 belum kunjung tegas sepakat soal regulasi musim 2017. Padahal, banyak ide muncul untuk membuat mobil lebih cepat, show lebih seru, dan lain sebagainya.

Kalau bicara kualifikasi saja tidak akur, bagaimana mau bicara soal regulasi lengkap? (*)

(red/ijayanto/W)

loading...

Comments

comments!