Otopsi Jenazah Siyono, Pemuda Muhammadiyah Beri Dua Catatan

redaksi.co.id - Otopsi Jenazah Siyono, Pemuda Muhammadiyah Beri Dua Catatan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjuntak menyatakan otopsi jenazah Siyono, warga Cawas, Klaten,...

29 0

redaksi.co.id – Otopsi Jenazah Siyono, Pemuda Muhammadiyah Beri Dua Catatan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjuntak menyatakan otopsi jenazah Siyono, warga Cawas, Klaten, Jawa Tengah yang disebut-sebut oleh polisi sebagai panglima neo Jamaah Islamiyah, berlangsung lancar. “Alhamdulillah, otopsi telah selesai dilaksanakan,” kata Danhil dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 3 April 2016.

Danhil berterima kasih kepada mereka yang membantu selama proses otopsi yang berlangsung lancar. Tapi ia memberikan dua catatan penting merujuk pada temuan sementara yang diungkap oleh ketua tim dokter forensik Muhammadiyah, dr. Gatot Suharto.

Dua catatan itu adalah dugaan jenazah Siyono belum pernah diotopsi oleh siapapun sebelumnya dan temuan luka di beberapa bagian tubuh akibat benturan keras alat tumpul.

Pada Ahad, 3 April 2016, tim forensik dokter dari Muhammadiyah dan dari Polda Jawa Tengah melakukan otopsi terhadap jenazah Siyono. Nekropsi yang dilakukan oleh 9 dokter dari Muhammadiyah dan seorang dokter forensik kepolisian daerah Jawa Tengah tersebut berlangsung selama 3,5 jam. Otopsi, kata Danhil, lancar dengan dukungan dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah dan masyarakat.

Siyono diduga oleh polisi sebagai panglima kelompok muda jemaah islamiyah. Oraganisasi ini disebut sebagai kelompok teroris. Kepolisian RI menyatakan kelompok ini memiliki keterkaitan dengan jaringan Al-qaidah atau Al-Qaeda, pelaku bom Bali, ISIS, kelompok Santoso maupun pelaku bom Thamrin.

“Kelompok ini mewarisi banyak senjata dari kelompok bom Bali dan sebelumnya. Dan yang mengetahui lokasi bunker senjata itu, ya dia ini (Siyono),” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charlian pertengahan bulan lalu.

Detasemen Khusus 88 Antiteror pada 8 Maret 2016 sore menangkap Siyono. Tiga hari kemudian, Siyono dinyatakan tewas dalam perjalanannya ke rumah sakit. Dalam versi polisi, Siyono melawan saat diminta menunjukkan gudang senjata warisan dari kelompok bom Bali dan kelompok sebelumnya sehingga terjadi baku pukul dengan anggota detasemen khusus. Dan yang mengetahui lokasi bunker senjata itu ya dia ini (Siyono),” Charlian menuturkan.

Dari rilis otopsi jenazah Siyono, Kepolisian RI menemukan dia meninggal karena pendarahan di rongga kepala bagian belakang. Pendarahan diduga karena benturan kepala ke bingkai jendela di dalam mobil. Menganggap aneh pada kematian Siyono, keluarga meminta polisi mengotopsi ulang.

Pemuda Muhammadiyah memfasilitasi keluarga Siyono atas permintaan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Kelompok muda ormas tersebut menyatakan bersedia mengotopsi jenazah Siyono yang mereka anggap sebagai bagian dari upaya dakwah.

Mereka kemudian membentuk tim forensik yang berasal dari dokter ahli Muhammadiyah maupun Kepolisian. Baca: Muhammadiyah Siapkan Tim Dokter untuk Otopsi Jenazah Siyono Ketua tim forensik Muhammadiyah, dr Gatot Suharto, di rumah Siyono mengumumkan temuannya mengenai sejumlah bekas luka akibat benda tumpul dan patah tulang di beberapa bagian tubuh Siyono.

Dokter forensik dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Ajun Komisaris Besar Summy Hastry Purwanti yang ikut dalam otopsi itu membenarkan adanya beberapa dampak kekerasan di bagian tubuh Siyono. Untuk memastikan apakah itu penyebab kematiannya, kami masih menunggu hasil laboratorium, kata Summy. Baca: Otopsi Siyono: Tak Ada Luka Tembak, Ada Patah Tulang DINDA LEO LISTY | DANANG FIRMANTO

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!