Disesalkan, Sambut HUT Ke-18 Kota Bekasi, Rapat Paripurna Istimewa DPRD Tidak Pakai Pakaian Adat

BEKASI Redaksi.co.id - Mungkin baru kali ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 KotaBekasi,rapat paipurna istimewa DPRD Kota Bekasi, Selasa 10 Maret (hari ini-red)...

35 0

BEKASI Redaksi.co.id – Mungkin baru kali ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 KotaBekasi,rapat paipurna istimewa DPRD Kota Bekasi, Selasa 10 Maret (hari ini-red) ke 50 anggota DPRD dan pemangku jabatan Pemkot Bekasi tidak memakai pakaian adat kebanggan Kota Bekasi. Dalam undangan rangkaian acara memperingati HUT Kota Bekasi, para anggota DPRD hanya diminta memakai pakain sipil atau PSL.

Dalam Perda terkait HUT Kota Bekasi dan ketentuan rapat istimewa DPRD HUT Kota Bekasi yang diatur Tata Tertib (Tatib) DPRD harus memakai pakaian adat daerah. Kan semua daerah bangga dengan budaya dan pakaian adatnya sebagai penghormatan kearifan lokal. Kenapa ini hanya memakai pakaian sipil, jelas Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo, Selasa (10 Maret 2015).

Menurutnya kejadian tersebut karena anggaran pembelian (pengadaan) pakaian adat anggota DPRD dalam rapat paripurna istimewa tidak dianggarkan dalam APBD Perubahan 2014 maupun APBD 2015.

Dalam penyusunan RAPBD 2015 harus sesuai dengan sistem E-Planning dan E-Budgeting (perencanaan dan pengusulan anggaran secara elektronik).

Sementara anggaran pengadaan pakaian adat Bekasi untuk keperluan rapat paripurna istimewa tidak tercantum atau mungkin sengaja dihilangkan tanpa alasan yang jelas.

Kalau masalahnya tidak ada pengadaan pakaian adat kan bisa saja para anggota dewan terhormat mengusahakan dengan menyewa atau membeli dengan kantong sendiri asal diseragamkan. Kan ini kebanggaan sebagai warga Kota Bekasi, tambahnya.

Dijelaskannya, beberapa daerah bangga dengan pakaian adat daerah. Dalam acara HUT hari jadinya, semua seremonial mengedepankan kebanggaan budaya setempat bahkan dalam acara seremonial seperti rapat paripurna istimewa memakai bahasa daerah.

Kalau di Bogor dan Kabupaten Purwakarta bahkan ada acara seremonial seperti kebesaran Kerajaan Pakuan (Bogor) dan kebesaran Pajajaran (Sunda), terang Didit.

Bahkan berbagai kekayaan dan kekhasan kesenian daerah ikut mengisi acara dengan maksud untuk melestarikan budaya setempat serta menjujung tinggi kearifan lokal, meski Kota Bekasi sudah heterogen namun kearifan lokal harus di-utamakan.

Kita harus bangga karena itu bagian dari kultur budaya. Darimanapun asalnya namun kearifan lokal harus dijunjung tinggi sebagai simbol kedaerahan, pungkasnya. (Pandi)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!