Pelatih dan Promotor Tinju Daniel Bahari Meninggal Dunia

 DENPASAR Redaksi.co.id -Kabar duka datang dari “keluarga tinju” Bahari. Senin pagi (16 Maret 2015) pukul 06.00 WITA, Daniel Bahari mantan petinju nasional yang belakangan dikenal sebagai pelatih...

95 0

 

DENPASAR Redaksi.co.id –Kabar duka datang dari “keluarga tinju” Bahari. Senin pagi (16 Maret 2015) pukul 06.00 WITA, Daniel Bahari mantan petinju nasional yang belakangan dikenal sebagai pelatih dan promotor dikabarkan meninggal dunia, di Denpasar, dalam usia 67 tahun, setelah menderita sakit cukup lama.

Kabar ini disampaikan oleh putera Daniel, Pino Bahari yang dikenal sebagai mantan petinju nasional melalui pesan BBM (blackberry massanger), tadi pagi.

Daniel Bahari dikenal sukses sebagai pelatih dan promotor. Pria asal Bali ini telah mencetak petinju kelas dunia. Lewat jalur promotor juara dunia pun bisa dia cetak. Chrisjon adalah petinju yang dimaksud. Petinju asal Banjarnegara ini berhasil merebut gelar juara dunia kelas bulu WBA dalam pertarungan lowong gelar di Bali pada akhir 2003. Petinju yang dikalahkan adalah Oscar Leon dari Kolombia. Dalam pertarungan Chrisjon menang angka karena faktor tuan rumah.

Dalam sebuah wawancara ddngan wartawan, Daniel mengatakan, dirinya dulu dulu anak bengal. “Bisa dikatakan juga sebagai anak jalanan. Saya mengenal tinju karena ditangkap tentara. Ditangkap karena sering berantem. Tentara itu menyuruh saya berlatih tinju. Jadilah saya petinju amatir pada 1965 sampai 1970. Tidak ada prestasi menonjol. Cuma dapat medali perunggu di event nasional” tutur Daniel pada wartawan.

Meski demikian tekad dia berkecimpung dalam dunia tinju amatir dan profesional tidak pernah surut. Pria kelahiran Denpasar 23 Maret 1948 ini bahkan merasa harus berhasil mewujudkan ambisi untuk mengangkat derajat tinju Indonesia dalam pentas internasional. Maka setelah tidak bertinju, dia menekuni jalur pelatih.

Dan dia memang bertangan dingin. Banyak petinju top Indonesia tercetak dari tangannya. Ada Fransisco Lisboa, Thomas Americo, Alexander Wassa, dan Adi Suandana. Mereka merupakan petinju terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada era 1980-an. Keempat petinju ini dicetak pada saat Daniel Bahari mendirikan Nusa Tenggara Boxing Camp di Denpasar sekitar 1980-an.

Dia mendidik Fransisco dan Thomas secara keras. Saya gebuki mereka tiap hari. Nyatanya berhasil. Buktinya Fransisco Lisboa mampu merepotkan Saoul Mamby yang juara dunia. Ini adalah prestasi.

Pino Bahari

Pino Bahari

Suami Agustina L Rundengan ini, juga mendidik empat anaknya menjadi petinju dengan prestasi yang membanggakan. Sebutlah Pino Bahari yang meraih emas Asian Games Peking, 1990, saat usianya 17 tahun. Nemo Bahari dan Pino Bahari juga lolos ke Olimpiade Atlanta 1996. Juga Dauddy Bahari yang menapak karier dalam dunia tinju profesional. Adik kandung Nemo Bahari ini bermain pada kelas welter.

Daniel Bahari pernah bersedih hati ketika berkutat dalam dunia tinju.
Champ Bahari, anak kandungnya meninggal dunia karena kelebihan mengonsumsi narkoba. Ironisnya Champ kecanduan narkoba saat mengikuti pelatnas jangka panjang PB Pertina. “Saya sedih sekali. Pelatnas mestinya disiplin. Kenapa tidak ada pengawasan. PB Pertina malah berkesan menyalahkan Champ. Ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Makanya saya lebih senang mencetak petinju sendiri,” tutur ayah sembilan anak ini.

Daniel Bahari termasuk berhati “Singa” dalam mendidik atlet. Hal ini pun diterapkan untuk anak-anaknya yang diajari bertinju secara benar dan ilmiah.

Selamat jalan Daniel Bahari. Semoga semangatnya yang pantang menyerah ditiru oleh para petinju dan penggiat olahraga tinju di Tanah Air. Dan dunia tinju di Indonesia makin maju. (AKUN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!