Menko Darmin: Petani Belum Sejahtera

redaksi.co.id - Menko Darmin: Petani Belum Sejahtera Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 11,16 persen penduduk miskin di Indonesia dengan jumlah sekitar 28,5 juta jiwa.Penduduk...

33 0

redaksi.co.id – Menko Darmin: Petani Belum Sejahtera

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 11,16 persen penduduk miskin di Indonesia dengan jumlah sekitar 28,5 juta jiwa.

Penduduk miskin di perdesaan lebih besar di banding di perkotaan, yaitu 7 persen di perdesaan.

Dari data BPS kebanyakan berprofesi sebagai petani atau nelayan yang lemah daya beli, lemah aset khususnya lahan, dan kualitas SDM rendah.

Selain itu mereka terbatas akses kepada sumber daya produksi seperti benih, alat mesin pertanian dan modal usaha.

“Pada dasarnya, petani atau nelayan di Indonesia dalam kesehariannya telah bekerja keras. Malahan sangat keras,” ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam keterangan tertulis, Senin (11/4/2016).

Darmin yang berasal dari desa kecil di Sumatera Utara mengetahui betul bagaimana usaha yang dilakukan penduduk desa, khususnya para petani.

Hingga saat ini, mayoritas petani dan nelayan belum hidup sejahtera.

“Tingkat kesejahteraan petani dan nelayan masih jauh bila dibandingkan dengan tenaga kerja pada sektor lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kesejahteraan petani tersebut,” ungkap Darmin.

Menurut Darmin, produksi pertanian di mana pun di dunia sangat tergantung kepada musim.

Petani di negara tropis seperti Indonesia, khususnya komoditas pangan dan hortikultura, beruntung karena hanya mengenal dua musim, hujan dan kemarau.

Namun kondisi itu harus dikelola dengan baik dalam kaitannya dengan penawaran dan permintaan komoditas tersebut.

Pada saat panen raya, suplai melimpah, harga cenderung anjlok. Ini tentu merugikan petani.

Dengan kondisi ini, maka petani membutuhkan dukungan untuk input produksi seperti benih dan pupuk, dan saluran air atau irigasi.

Petani juga membutuhkan dukungan pengelolaan pasca panen, untuk meredam gejolak harga yang terlalu tinggi, seperti informasi harga, gudang, teknologi pengolahan panen dan alternatif produk olahan yang mempunyai nilai tambah.

Selain itu, kebanyakan petani atau nelayan tidak mempunyai aset, sehingga mereka hanya bekerja menggarap sawah (buruh tani).

Kalaupun mempunyai tanah, selain kecil atau luasnya terus mengecil karena telah dijual, juga tidak jelas kepemilikannya, atau belum bersertifikat.

“Selain mahal, proses untuk sertifikasi tahan memerlukan waktu yang lama bahkan tidak pasti kapan selesainya,” kata Darmin.

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!