Payet Punya Tendangan Mirip Beckham, Jadi Ancaman bagi MU

redaksi.co.id - Payet Punya Tendangan Mirip Beckham, Jadi Ancaman bagi MU Penulis sepak bola di harian Telegraph yang terbit di Inggris, Bob Wilson, mewanti-wanti siapa pun...

16 0

redaksi.co.id – Payet Punya Tendangan Mirip Beckham, Jadi Ancaman bagi MU

Penulis sepak bola di harian Telegraph yang terbit di Inggris, Bob Wilson, mewanti-wanti siapa pun di Liga Primer untuk mewaspadai Dimitri Payet, pemain West Ham United.

Peringatan itu pun berlaku bagi Manchester United yang akan menghadapi West Ham dalam laga ulangan babak perempat final Piala FA, Rabu malam ini. Banyak titah Wilson soal Payet.

Saat tendangan bebas, mereka, para pemain, harus kompak saat memasang pagar betis. Kiper juga harus sigap membaca arah bola.

Namun yang terpenting dari semua pesan itu: jangan sekali-kali melakukan pelanggaran di depan kotak penalti. Berbahaya dan fatal akibatnya.

Mengeksekusi bola dari jarak lima hingga enam meter di luar kotak penalti adalah tempat yang paling asyik buat Payet untuk menaklukkan kiper mana pun.

Hasilnya, luar biasa. Tendangan bebasnya kerap membuat kiper mana pun terlihat bodoh. Mereka tak pernah bisa membuang bola hasil sepakannya. Bola yang menerpa jaring adalah kejadian berikutnya.

“Dimitri Payet memang luar biasa. Dia memiliki kemampuan melakukan tendangan bebas yang aduhai. Dia melakukannya seperti David Beckham,” kata Slaven Bilic, pelatih West Ham yang membelinya dari Marseille, musim panas lalu.

Dia melakukannya saat melawan Crystal Palace, itu luar biasa. Kemudian untuk Prancis, lalu di Old Trafford, Blackburn, dan Bournemouth. Dia melakukannya dengan luar biasa.

Sejak kedatangannya di Upton Park, dia menjadi idola baru. Dia telah mencetak 12 gol, beberapa di antaranya dibuatnya dengan, ya itu tadi, tendangan bebas yang sangat memukau.

Tidak hanya itu, dia juga berhasil membuat 8 assist. Andai segala upaya menjebol gawang tak berhasil, Payet-lah harapan satu-satunya yang bisa mencetak gol lewat tendangan bebasnya. Banyak korbannya.

Paling terakhir adalah Wayne Hennessey kiper Crystal Palace. Sebelumnya, kiper hebat Manchester United pun, yakni David De Gea, menjadi korbannya.

Kehebatan Payet, seperti yang diulas Bob Wilson, bukan terletak pada kerasnya tendangannya seperti yang kerap dilakukan Roberto Carlos-bek asal Brasil yang pernah bermain di Real Madrid-melainkan kepintarannya dalam membaca cepat sisi yang lowong.

Persis seperti kemampuan Ronaldinho-di babak perempat final Piala Dunia 2002 ketika matanya seperti mesin pemindai. Seketika dia melihat posisi David Seaman yang berada agak jauh di depan gawang.

“Saya hanya melompat sambil berharap bola itu keluar, tapi saya dengar bola menerpa jaring,” kata Seaman, menceritakan peristiwa yang disesalinya seumur hidupnya itu.

Dengan kemampuannya yang hebat itu, nama Payet kini bersanding dengan beberapa eksekutor tendangan bebas yang yahud punya, seperti David Beckham dan Cristiano Ronaldo.

Anak 16 tahun itu habis asa hidupnya. Le Havre, klub yang membawanya dari Reunion–sebuah pulau kecil di Samudra Indonesia yang tak lain merupakan koloni Prancis–empat tahun sebelumnya, menyatakan dia tidak lagi dibutuhkan di klub itu.

Terlalu kecil untuk bermain di Divisi Dua Liga Prancis, bunyi keputusan klub tersebut.

Padahal Payet bukanlah pemain sembarangan. Di awal kariernya, semasa bergabung dengan klub AS Saint-Philippe di kampung halamannya, pelatihnya menyebut dia sebagai pemain yang berbeda dengan pemain lain. Itu juga yang membuat Le Havre, bekas klub Riyad Mahrez, mencomotnya. Namun, di sana, dia dianggap tak layak.

Dimitri Payet pun kembali ke kampung halamannya. Saya merasa karier saya sudah habis, ucapnya. Tak ada jalan selain mengikuti saran orang tuanya yang juga bekas pemain sepak bola. Dia bermain di Liga Reunion bersama klub AS Excelsior. Saya memulai karier di sana saat berusia 16 tahun.

Tak ada pilihan memang. Dimitri pun menjalani kehidupan kembali di sebuah pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk iklim sepak bola seperti yang sempat dinikmatinya bersama Le Havre di Prancis.

Beruntung, dia tidak terlalu tenggelam dalam kesunyian. Musim kedua, ada tawaran kembali ke Prancis. Kali ini datang dari Nantes. Itu adalah kesempatan kedua. Saya tidak boleh menyia-nyiakan, ujarnya mengenang peristiwa itu. Dimitri pun pergi untuk memulai perjalanannya yang kedua.

Tak buruk kali ini. Semusim berada di sana, dia menunjukkan kehebatannya, yang membuatnya dikontrak secara permanen oleh klub itu. Dalam durasi tiga tahun kontrak, dia kemudian bermain di tim inti. Namun perjalanannya di sana berakhir ketika klub itu terdegradasi ke Ligue 2. Dua musim ia berada di sana.

Selanjutnya, dia berpindah-pindah klub. Empat musim di AS Saint-tienne, lalu dua musim masing-masing di Lille dan Marseille. Di klub terakhir, dia mencetak prestasi gemilang. Dengan pengecualian yang dicapai Lionel Messi, dia menjadi salah satu pemain terbaik di lima liga terkemuka di Eropa.

Untuk timnya, dalam 36 pertandingan, dia membuat 17 assist. Untuk kedua kalinya, dia pun masuk daftar sebelas pemain terbaik Ligue 1. Kehebatan Payet sebenarnya sudah tercium saat di Lille, ketika Eden Hazard pergi ke Chelsea pada 2012. Toh begitu, tak ada yang mengendusnya.

Adalah Slaven Bilic yang menemukannya. Dia pun membawanya ke Upton Park dengan harga 10 juta pound saja. Bandingkan dengan Anthony Martial, yang dibawa Manchester United dengan harga empat kali lipatnya. Harga Payet memang murah. Itu terjadi karena Marseille diketahui tengah mengalami kesulitan keuangan.

Payet pun mengaku langsung kerasan berada di klub barunya. Saya cepat beradaptasi di sini. Itu karena mereka–pelatih, teman-teman setim, dan pendukung klub itu–sangat welcome kepada saya, tuturnya.

Di mana pun kami bermain, kandang atau tandang, saya bisa merasakan kecintaan suporter. Terus terang, sebelumnya saya tidak terlalu berharap akan mendapatkannya. Itu sebabnya saya berusaha untuk terus memperbaiki tiap hari, ucapnya.

Termasuk hal yang dilatihnya adalah kemampuannya menyelesaikan tendangan bebas ke gawang lawan. Saya sudah berlatih dengan keras pada awal-awal musim sampai akhirnya berhasil. Saya berhasil mencetak gol ke gawang Bournemouth, ujarnya. Sejak itu dia tidak berlatih lagi.

Saat usianya 29 tahun, Payet merasa telah mencapai kedewasaan dalam kariernya. Meski begitu, dia berpikir kariernya masih panjang. Dia pun menolak tawaran dari klub Cina, Shanghai Senhua. Hatinya masih tertambat di West Ham.

Upton Park menjadi tempat yang indah untuk Payet. Gara-gara penampilannya di sana pula, dia kembali berbaju timnas Prancis. Februari lalu, dia meneken kontrak baru dengan West Ham.

Di awal kedatangannya, dia memang hanya datang untuk masa kerja selama satu tahun. Dengan kontrak barunya, dia akan berada di sana dalam durasi lima setengah tahun ke depan atau sampai 2021.

Tapi apakah dia sungguh-sungguh akan berada di sana? Kehebatan semusim pertamanya sudah membuat klub-klub besar, seperti Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Barcelona, menetes air liurnya.

Pihak West Ham tentu saja mencium rezeki nomplok. Meski saat ini kondisi keuangan klub itu jauh lebih baik, apalagi dengan pencapaiannya pada musim ini yang masih punya kesempatan masuk zona Liga Champions. Hal itu membuat West Ham akan mendapat banyak uang pada musim depan. Uang dari hak siar, salah satunya.

Namun, menurut orang dalam di klub itu, klub itu bisa saja melepas Payet. Tapi tentu tak mudah. Menurut dia, untuk mendapatkannya, klub semacam PSG diberi batas minimal, yakni 40 juta pound. Bila setuju, West Ham dikabarkan akan melepasnya dengan senang hati.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!