Muhammadiyah Dituding Pro Teroris, Ini Kata Ketuanya

redaksi.co.id - Muhammadiyah Dituding Pro Teroris, Ini Kata Ketuanya Kematian terduga teroris Siyono ketika berada dalam penanganan Detasemen Khusus Antiteror 88 mencuat karena keterlibatan Muhammadiyah. Advokasi...

15 0

redaksi.co.id – Muhammadiyah Dituding Pro Teroris, Ini Kata Ketuanya

Kematian terduga teroris Siyono ketika berada dalam penanganan Detasemen Khusus Antiteror 88 mencuat karena keterlibatan Muhammadiyah.

Advokasi untuk keluarga Siyono oleh organisasi keagamaan itu mendapat sorotan, bahwa Muhammadiyah pro-teroris.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjawab hal itu dalam wawancara khusus dengan Tempo, akhir pekan lalu. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana awal keterlibatan Muhammadiyah dalam kasus Siyono?

Penting untuk diketahui perspektif Muhammadiyah mengenai terorisme dulu. Sebab, karena adanya peristiwa ini, muncul mispersepsi dan sempat ada ungkapan siapa yang membela Siyono berarti mendukung teroris. Simplifikasi semacam itu karena adanya ketidakpahaman bagaimana Muhammadiyah memandang terorisme. Muhammadiyah sudah lama memandang terorisme dan kekerasan atas nama agama merupakan bentuk fasad fil ardh atau sesuatu yang merusak kehidupan. Menghilangkan satu nyawa sama dengan menghilangkan seribu nyawa.

Sebaliknya, menjaga satu nyawa sama dengan memelihara seluruh hidup umat. Teologi Islam yang memuliakan harga sebuah nyawa itu lahir dari pemahaman yang mendalam bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah. Bahkan menyembelih binatang saja tidak boleh menyakiti. Harus dengan pisau yang tajam. Artinya, ada etika dalam Islam. Karena itu, baik terorisme maupun antiteror tidak boleh menghilangkan nyawa manusia begitu saja.

Terorisme kita tentang karena menciptakan rasa takut dan bahkan menghilangkan nyawa manusia. Tapi tindakan antiteror juga tidak boleh menghilangkan nyawa semena-mena. Tindakan koersif juga harus ada dalam koridor hukum yang menghormati asas praduga tak bersalah dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Jangan sampai memberantas terorisme justru menciptakan teroris baru.

Lalu apa alasan Muhammadiyah bersedia mengadvokasi kasus Siyono?

Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan yang pintunya terbuka bagi siapa saja. Ada yang datang karena masalah suami-istri, urusan mencari pekerjaan, juga ada orang Gafatar yang merasa jadi korban. Ketika didatangi istri Siyono, sebagai tuan rumah, kami terbuka. Selain itu, kasus Siyono sudah menjadi konsumsi publik. Kalau disembunyikan, orang akan terus bertanya. Bisa juga orang jadi ketakutan, misalnya ternyata salah tangkap. Itu dampaknya lebih luas. Kalau ditutup-tutupi justru jadi pertanyaan buat polisi, pemerintah, civil society, bahkan buat media juga.

Apa arti hadir kita di republik ini dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan?

Muhammadiyah memandang kasus ini perlu diungkap. Muhammadiyah juga tidak sembunyi-sembunyi. Kami ketemu Kepala Polri dan setiap ada temuan kami publikasi ke media, supaya lebih terang. Hukum harus ditegakkan seperti dulu kasus Imam Samudra, Amrozi, dan Muklas, yang terbilang kelas utama dan akhirnya dibawa ke ranah hukum dan transparan. Ada kepastian hukum. Meski mereka dihukum mati, tidak ada yang menggugat karena ada proses hukum yang pasti. TITO SIANIPAR

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!