Gajah Ternyata Berdiri di Atas Lemak Kaki Mereka

126

redaksi.co.id – Gajah Ternyata Berdiri di Atas Lemak Kaki Mereka

Meski kakinya tampak bak sebuah tiang solid, gajah sebenarnya berdiri di ujung jarinya, seperti kuda atau anjing. Tumitnya bertumpu pada bantalan besar lemak yang membuatnya tampak memiliki telapak kaki yang datar. Namun John Hutchinson dari Royal Veterinary College di London, Inggris, dan timnya menemukan bahwa mamalia besar itu sebenarnya memiliki hak stiletto yang tersembunyi dalam kaki mereka.

Bantalan lemak tersebut menyembunyikan apa yang disebut Hutchinson sebagai jari keenam, struktur menonjol ke belakang yang berkembang dari salah satu sesamoid mereka, yaitu serangkaian tulang kecil tempat terikatnya tendon di pergelangan kaki binatang tersebut.

Jari tambahan ini, dengan panjang 5-10 sentimeter, juga dipastikan bukan bagian dari tulang rawan yang tidak relevan. Misteri jari keenam gajah ini akhirnya terungkap hampir 300 tahun setelah struktur aneh itu pertama kali dideskripsikan oleh Patrick Blair, dokter asal Skotlandia yang membedah gajah mati pada 1706. Hasil deskripsi Blair dianggap sebagai catatan yang pertama kali mengupas anatomi binatang itu secara mendetail.

Blair mencatat binatang tersebut mempunyai enam jari. Belakangan deskripsi Blair dikoreksi menjadi lima jari dan “jari keenam” atau prepollex itu hanyalah struktur tulang rawan biasa.

Kini Hutchinson berupaya mengoreksi kembali persoalan jari keenam tersebut. Dia bisa memberikan konfirmasi bahwa itu adalah tulang sejati yang mendukung bagian belakang dari kaki gajah yang mirip spons. Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Science, Hutchinson menyatakan tulang di belakang kaki itu juga memiliki sendi.

Gajah bukan satu-satunya binatang yang memiliki jari tambahan istimewa ini. Beberapa spesies, seperti katak dan tikus mondok, juga memiliki jari tambahan serupa, bahkan panda mengadaptasikan tulang sesamoidnya menjadi “ibu jari” untuk menggenggam batang bambu.

Jari gajah ini pada dasarnya adalah ibu jari panda dengan koneksi yang sama dan segalanya, kata Hutchinson. Ini adalah tema evolusi yang berulang. Anda mengubah salah satu sesamoid Anda menjadi sebuah jari fungsional ketimbang mengembangkan jari baru.

Hutchinson mempunyai koleksi kaki gajah beku terbesar di dunia. Berkat hubungan baik yang dijalin sejak lama dengan sejumlah kebun binatang, Hutchinson selalu dikirimi kaki gajah mati atau terpaksa melalui proses eutanasia, sehingga dia bisa menetapkan penyebab kematian gajah yang kerap berkaitan dengan masalah kaki pada gajah yang hidup di penangkaran. Kini dia punya lebih dari 60 kaki gajah yang tersimpan di sejumlah lemari pendingin.

Hutchinson menduga para peneliti yang membedah gajah pada masa lalu melewatkan keberadaan jari keenam itu karena tulang itu tertanam begitu dalam pada bantalan lemak.

Dalam bantalan lemak itu terdapat segala macam serat dan kompartemen yang ganjil, serta jalinan otot dan tendon yang ruwet. Dan struktur ini ada di tengah semua itu, kata Hutchinson. Kecuali Anda membelahnya dengan tepat dan memahami anatominya. Tulang itu mungkin terlihat seperti sepotong tulang rawan yang aneh. Inilah penjelasan mengapa jari tambahan ini tak pernah muncul dalam spesimen museum, kurator biasanya langsung membuangnya.

Hutchinson dan timnya mempelajari jari aneh itu dengan menggunakan mikroskop elektron, tomografi komputer (CT), pembedahan, dan histologi selama tiga tahun. Hutchinson menemukan bahwa jari tambahan itu awalnya berkembang sebagai batang tulang rawan yang perlahan bertransformasi menjadi tulang, bertahun-tahun setelah tulang kaki lainnya mengalami osifikasi dan mengeras.

Studi ini membantu kami memahami fakta bahwa kaki yang amat rapuh ini tersembunyi dalam binatang yang luar biasa besar, kata Victoria Herridge, yang mempelajari anatomi gajah dan evolusi di Natural History Museum di London.

Catatan fosil menunjukkan nenek moyang gajah mempunyai tapak kaki datar tanpa jari keenam dan pergelangan kakinya menjejak tanah. Ketika binatang tersebut berkembang menjadi mamalia bertubuh raksasa, mereka mulai mengadopsi posisi berdiri di ujung jari yang membuat kaki mereka terentang lurus dan dapat mendukung bobot tubuh mereka dengan lebih sempurna. Pada masa perubahan postur ini, salah satu tulang sesamoid mereka berkembang menjadi struktur penopang yang membagi beban dengan seimbang.

Meski Hutchinson dapat memaparkan bukti keberadaan jari keenam itu, Gerald Weissengruber dari University of Veterinary Medicine Vienna mengatakan laporan itu memiliki kekeliruan fundamental. Dia mengatakan masih belum pasti apakah jari keenam itu adalah tulang sesamoid karena tidak ada otot yang menempel ke tulang itu, seperti pada ibu jari panda atau sesamoid manusia.

Weissengruber juga menunjukkan Hutchinson hanya mengamati gajah di penangkaran yang diketahui kerap menderita kelainan kaki dan tulang. Penyakit dapat mengubah tulang rawan pada kaki menjadi tulang dan persendian dalam kaki jari belakang ada kemungkinan hanya sekadar retakan. Hal serupa kerap terjadi pada tulang rawan di kaki kuda.

SCIENCE | NATURE NEWS | AMRI MAHBUB

(red/ega/wi/riesta/VDA)

loading...

Comments

comments!