NU Paciran Gelar Sosialisasi Tangkal Radikalisme

 LAMONGAN Redaksi.co.id – Aswaja NU Center, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan Sosialisasi Tangkal Radikalisme di Kantor Majelis Wakil cabang NU Paciran, Kamis sore (2 April 2015).

44 0

 

LAMONGAN Redaksi.co.id – Aswaja NU Center, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan Sosialisasi Tangkal Radikalisme di Kantor Majelis Wakil cabang NU Paciran, Kamis sore (2 April 2015).

Kegiatan ini diselenggarakan untuk lebih mengerti tentang jihad Islam yang sesungguhnya, dengan pembicara Sastro al Ngatawi, mantan ketua Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia) PBNU periode 2004 sampai 2009, dengan moderator ketua RMI (Robitoh Mahad Islam) PCNU Lamongan Gus Syahrul Munir.

Ki Satro yang dikenal dekat dengan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjelaskan tentang semua ideologi yang ada di dunia,dan mengharapkan agar masyarakat NU dan semua muslim tidak mudah terpengaruh dengan ideologi jihad, terlebih dengan ideologi jihad ISIS (Islam State of Irak Suriah).

“Jangan terpengaruh dengan ISIS karena ISIS adalah boneka Amerika yang berfungsi untuk mengadu domba kaum muslim dengan tujuan menguasai kilang minyak di Timur Tengah,” ungkap Ki sastro yang juga pendiri grup musik Ki Ageng Ganjur.

Dikatakannya, Jika Pancasila tidak sesuai dengan Islam tidak mungkin Islam Indonesia menerima semua pasal dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Jika tidak sesuai dengan Islam, para pemuka Islam di zaman kemerdekaan pasti akan mengubah Pancasila. Ajaran Islam sendiri menganjurkan kebersamaan,” tandasnya.

Dia lalu mengungkapkan pula sebuah contoh kecil yang salah model cuci otak yang memutar balikkan Pancasila, misalnya pernyataan bahwa hormat pada bendera itu salah. “Kalau itu dianggap salah, berarti kita tidak menghormati negara kita sendiri,” ujar Kyai Gondrong ini.

Tak hanya tentang ISIS, seminar ini juga mengulas tentang simbol PKI (Partai Komunis Indonesia) yang ramai di internet. “Jangan terpengaruh karena itu salah satu cara untuk menghancurkan NKRI, khususnya NU dan TNI, karena mereka mengolah sejarah seakan-akan Banser NU dan TNI ikut dalam kudeta G30S/PKI,” ujarnya.

Diingatkannya, Islam itu lunak dan mudah dimengerti. Tidak mengajarkan untuk radikal dan frontal. Islam mengajarkan kehidupan sosial yang tinggi, saling menyayangi sesama umat allah.

“Makanya jangan hanya menelan setiap kata-kata para guru besar atau ustad-ustad, mohon dicerna kata tersebut agar terhindar jauh dari ideologi Islam yang keliru. Jika ISIS harus diberantas maka kami sebagai warga NU siap memberantas tetapi tidak dengan angkat senjata,namun dengan sharing dan sosialisasi seperti ini,” ujar Sastro. (angga mega)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!