Sumatran Last Tiger Sabet Perak di Festival Film New York

redaksi.co.id - Sumatran Last Tiger Sabet Perak di Festival Film New York Film dokumenter Sumatran Last Tigeryang menceritakan upaya konservasi harimau Sumatra di kawasan konservasi Tambling...

15 0

redaksi.co.id – Sumatran Last Tiger Sabet Perak di Festival Film New York

Film dokumenter Sumatran Last Tigeryang menceritakan upaya konservasi harimau Sumatra di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Pesisir Barat, Lampung,mendapat penghargaan medali perak tingkat dunia dalam ajang Festival FilmNewYork2016.

Melalui pengumuman resmi diwebsite New York Film Festival tertanggal Jumat 22 April 2016 yang dikutip Sabtu (23/4/2016), diketahui film bertema alam dan satwa liar ini di Taman Nasional Bukit Barisan bagian Selatan itu mengalahkan ratusan film dokumenter lainnya.

Film itu diproduksi Channel News Asia, Mediacorppte Ltd, Singapura.

Sedangkan medali emas diraih film Vanishing King: Lion of Namib tentang terancam punahnya satwa liar Singa di Namibia, Afrika. Film ini diproduksi oleh Interspot film GmBh, Austria.

Dalam film Sumatran Last Tigerdikisahkan bagaimana harimau Sumaterayangpernah berkonflik dengan manusia itu direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan kembali ke alam bebas.

Pusat rehabilitasi harimau itu berlangsung di TWNC yang dikelola oleh pengusaha nasional Tomy Winata yang juga pendiri Artha Graha Peduli.

Di film itu diceritakan dua ekor harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)telah berhasil dilepasliarkan setelah menjalani masa rehabilitasi. Pelepasliaran dua binatang buas yang bernama Panti dan Petir itudisaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya,dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Pelepasliaran dilakukan di dalam area konservasi alam seluas kurang lebih 50.000 hektar di TNBBS.

Panti dan Petir merupakan bagian dari sembilan Harimau Sumatra yang direhabilitasi di area Tiger Rescue Center TWNC yang satu per satu dilepasliarkan.

Di seluruh Sumatera kini tinggal sekitar 500 ekor. Itu pundalam keadaan terdesak karena rusaknya kawasan hutan di seluruh Sumatera.

Banyak harimau Sumateradi Aceh, misalnya, yangmasuk ke kampung untuk mencari makan dan ini mengakibatkan konflik di antara dua jenis makhluk Tuhan itu.

Lembaga konservasi dunia untuk perlindungan spesies kucing besar (Panthera)memberi penghargaan kepada Artha Graha Peduli dan pejabat serta eks pejabat pemerintah Indonesia terkait perlindungan harimau. Penghargaan diberikan pada 16 Juli 2014 saat rapat tahunan Tigers Forever di Jakarta.

Panthera memberikan penghargaan atas kesuksesan besar dalam upaya penyelamatan harimau liar di berbagai negara, terutama di TWNC, Indonesia.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!