AS Segera Rilis 28 Halaman Data Rahasia Tragedi 9/11

redaksi.co.id - AS Segera Rilis 28 Halaman Data Rahasia Tragedi 9/11 Pemerintah Obama kemungkinan akan mengungkap dokumen yang berisi 28 halaman berisi rahasia penyelidikan Kongres AS...

10 0

redaksi.co.id – AS Segera Rilis 28 Halaman Data Rahasia Tragedi 9/11

Pemerintah Obama kemungkinan akan mengungkap dokumen yang berisi 28 halaman berisi rahasia penyelidikan Kongres AS terkait peristiwa teror 11 September 2011 atau biasa dikenal dengan 9/11– yang meruntuhkan gedung WTC di New York City dan menewaskan ribuan orang.

Dokumen rahasia itu berisi informasi penyelidikan Kongres AS yang berisi sumber spesifik terkait pihak negara asing yang diduga mendukung pembajak 9/11 ketika mereka berada di Amerika Serikat. Berkas tersebut disimpan di ruang bawah tanah gedung CapitolAS dengan penjagaan ketat.

Dikutip dari News.com.au, Senin (25/4/2016), seorang wakil ketua panel bipartisan — gabungan antara dua partai politik, Bob Graham, dan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa isi dokumen tersebut diduga mengarah ke pihak Arab Saudi.

Mantan senator Demokrat asal Florida tersebut mengungkapkan, para pejabat pemerintah memberi keterangan kepadanya bahwa pejabat intelijen pada beberapa minggu ke depan akan menentukan apakah akan merilis sebagian dokumen rahasia tersebut.

“Aku harap keputusan tersebut untuk menghormati masyarakat Amerika dan membuatnya bisa diakses,” ujar Graham kepada acara Meet the Press, NBC

“Pertanyaan terpenting yang belum terjawab tentang 9/11 adalah, apakah 19 orang (pembajak) tersebut melakukan plot jahat itu sendirian, atau mereka mendapat dukungan,” tambahnya.

Seseorang yang merupakan anggota dari penyelidikan Kongres serta Komisi 9/11, Tim Roemer, mengaku telah membaca bab tersebut tiga kali. Ia mendeskripsikan bahwa 28 halaman itu sebagai laporan polisi awal.

“Di sana terdapat petunjuk, dugaan, saksi, dan bukti tentang para pembajak dengan siapa mereka bertemu. Segala macam hal yang kemudian dikaji dan diselidiki oleh Komisi 9/11,” ujar Roemer yang juga merupakan anggota kongres Demokrat Indiana.

Arab Saudi Membantah Terlibat

Sebanyak 15 dari 19 pembajak merupakan warga Arab Saudi. Namun pemerintah negara tersebut mengaku tak terlibat dan berkata bahwa tuduhan tersebut keliru.

Pemerintah Arab Saudi telah lama mengatakan bahwa mereka menyetujui deklasifikasi dokumen itu karena akan memungkinkan mereka untuk menanggapituduhan tersebut secara jelas dan kredibel.

Sebanyak 28 halaman dari laporan setebal 838 tersebut telah disembunyikan atas permintaan mantan Presiden George W Bush. Ia mengatakan bahwa rilis bagian itu dapat membocorkan metode dan sumber intelijen.

Namun di balik itu, diyakini dokumen tersebut tak dibocorkan untuk menjaga hubungan diplomatik antara AS dengan Arab Saudi.

Wakil Penasihat Keamanan Nasional Barack Obama, Ben Rhodes, mengatakan bahwa Presiden AS meminta Kepala Intelijen Nasional, James Clapper, untuk meninjau ulang dokumen apakah mungkin untuk deklasifikasi.

“Ketika sudah selesai, kami menduga bahwa terdapat tingkat deklasifikasi yang menyediakan informasi lebih lanjut,” ujar Rhodes kepada wartawan Riyadh ketika Obama bertemu Raja Salman dan pemimpin Arab Saudi lainnya.

Teka-Teki Serangan 9/11

Roemer mengatakan banyak pertanyaan terkait dengan peran seorang pejabat konsulat Arab Saudidi Los Angeles, Fahad al Thumairy, yang diduga membantu dua pembajak untuk menemukan tempat tinggal dan transportasi setelah mereka tiba di California selatan.

Al Thumairy sebelumnya ditolak untuk masuk ke AS pada Mei 2003 setelah pemerintah AS menduga, ia terlibat dalam aktivitas terorisme.

Roemer juga ingin tahu lebih dalam tentang sosok Omar al Bayoumi yang menjadi tersangka karena berperan sebagai mata-mata Arab Saudi dan diduga membantu para pembajak.

“Kami tidak menemukan keterlibatan pemerintah Saudi pada tingkat tertinggi dalam serangan 9/11,” ujar Roemer.

“Kami tentu tak membebaskan Saudi…Saudi adalah lahan subur untuk penggalangan dana Al Qaeda. Beberapa isu tersebut berlanjut menjadi masalah saat ini. Karena itu kami perlu terus menelusurinya,” tambahnya.

Sebuah situs internet yang mendesak agar dokumen tersebut dirilis, 28pages.org, menunjuk deklasifikasi dokumen lain pada Juli 2015 yang menguraikan cara di mana komisi 9/11 dapat memeriksa kemungkinan keterlibatan Arab Saudi.

Dokumen yang terdiri dari 47 halaman itu berisi beberapa halaman yang salah satunya menunjukkan dugaan nama mata-mata Al Qaeda, Al Sharbi.

Sebelum peristiwa 9/11, Al Sharbi diketahui mengambil kursus menerbangkan pesawat di wilayah Phoenix, AS. Pada 2002 ia ditangkap di Pakistan bersamadengan Abu Zubaydah, pelatih Al Qaeda.

Dalam dokumen 47 halaman tersebut tertulis, setelah al Sharbi ditangkap, FBI menemukan beberapa dokumen yang dipendam di dekat area penangkapannya.

Salah satunya adalah sertifikat pilot milik al Sharbi yang berada di dalam amplop dari Kedutaan Arab Saudi di Washington.

Sebuah laporan inspektur jenderal CIA pada Juni 2015 tertulisbahwa tak terdapat informasi yang dapat dipercaya untuk mengonfirmasi bahwa Pemerintah Arab Saudi terlibat dengan serangan 9/11 dan memberi dukungan keuangan.

Tapi dalam laporan tersebut juga tertulis bahwa Near East Division and Counterterrorism Centre CIA bespekulasi bahwa simpatisan pembangkang di pemerintah Arab Saudi mungkin telah membantu Al Qaeda.

Sementara itu, sisa bab yang berjudul ‘Issues Related to Saudi Arabia’, tak ditampakkan.

Sebuah rancangan undang-undang yang ditujukan kepada Presiden untuk merilis bab berjumlah 28 halaman tersebut diajukan oleh Senat dan hampir 36 anggota Republik dan Demokrat mendukung resolusi serupa.

Anggota Partai Republik, Walter Jones, Stephen Lynch, dan Thomas Massie menulis kepada Obamapada minggu lalu dan mereka tak berpikir bahwa dengan merilis bab tersebut akan membahayakan keamanan nasional dan dapat memberikan penyelesaian untuk keluarga korban.

Pejabat Demokrat di House Intelligence Committee, Adam Schiff, telah membaca dokumen tersebut dan mengatakan bahwa minggu terakhir ini ia ingin melihat berkas itu untuk dirilis agar menghentikan berbagai macam spekulasi. Dengan merilisnya tak akan memadamkan perdebatan masalah tersebut.

“Seperti yang sering terjadi, mengungkap fakta sebenarnya lebih baik daripada menghadapi ketidakpastian,” ujar Schiff.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!