Tenaga Kasar di Proyek Pembangunan Pabrik Semen Minim, BPD Tegaldowo Mengadu ke Bupati

1029

REMBANG Redaksi.co.id -Pengadaan tenaga kerja pembangunan tapak pabrik Semen Indonesia di Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang yang menggunakan tenaga outsourhing dipertanyakan. Pasalnya, rekrutan tenaga kerja itu kebanyakan dari luar Kabupaten Rembang, sementara warga lokal yang dipekerjakan hanya jumlahnya sedikit.

Didik, salah satu tokoh masyarakat Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem saat dimintai tanggapan mengenai tenaga kerja pembangunan pabrik semen mengatakan, banyak mengetahui seluk beluk penggunaan tenaga kerja lokal.

Ia mengungkapkan, beberapa hari lalu ia bersama BPD Desa Tegaldowo menemui Bupati Rembang H Abdul Khafidz menyampaikan surat terkait minimnya tenaga kerja lokal yang direkrut PT SI .

“Baru saja kami mengadukan persoalan itu ke Bupati. Memang kalau satpam jumlahnya mencapai 80 orang. Semuanya warga dari ring satu. Tapi kalau jumlah tenaga kasar yang bekerja di PT Swabina jumlahnya hanya 8 orang saja dan ini bisa dicek langsung di lapangan. Dari berapa ratus pekerja yang ada sekarang saya pastikan kebanyakan warga dari luar Rembang. Kalau hanya mengecek dari data karyawan yang dikeluarkan PT Semen Indonesia itu kevaliditan datanya saya ragukan,” terang Didik yang juga anggota BPD Tegaldowo.

Menanggapi minimnya tenaga kerja kasar yang direkrut PT Semen Indonesia minim, Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang, Waluyo, melalui Kabid Hubinwasnaker, Abdul Malik,Rabu (15/04) menegaskan, PT.SI memang menggunakan tenaga kerja outsourcing.

Perusahaan Outsourcing yang dimaksud yakni mitra atau anak Perusahaan PT SI sendiri, yaitu Swabina Gatra, PT Konsultan, PT United Tractors, dan PT Setyawan Mahakarya. “Outsourcing ini berasal dari Tuban dan Gresik,” tegas Malik.

Menurut Malik, menanggapi info yang beredar bahwa SI kebanyakan mengambil tenaga dari luar Kabupaten Rembang, sangat disayangkan, apalagi di AMDAL SI sendiri bertuliskan bahwa SI bakal menggunakan tenaga lokal sebesar 55%.

“Sampai sejauh ini, SI memang belum laporan tentang penggunaan tenaga kerja ke kami. Tenaga Satpam yang sudah laporan. intinya pekerjanya SI sudah ditempatkan tapi belum semuanya, dan itu kami tunggu koordinasinya,” jelas Malik.

Namun, lanjut Malik, tupoksi dinas hanyalah sebatas tindakan pengawasan keselamatan kerja dan penggajian karyawan.

“Semua tergantung kebijakan Pemkab, jika SI ngawur dalam pengadaan tenaga kerja mesti ditindak. SI selalu berkata kesulitan mencari tenaga sesuai dengan kriteria, padahal warga lokal bisa dilatih kok, bisa diajari, kalau kurang terampil ya dikasih ketrampilanlah,” tandas Malik.

Sementara itu Head of Engineering and Construction Division PT Semen Indonesia di Rembang Heru Indrawidjayanto menjelaskan setiap sebulan sekali pihaknya selalu menggelar sosialisasi kepada tokoh masyarakat tokoh pemuda dan beberapa tokoh lain yang cukup terpandang di wilayah ring satu.

Dalam pertemuan itu ia selalu memaparkan perkembangan pembangunan pabrik dan sejumlah kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) yang sudah dijalankan di desa-desa terutama di wilayah ring satu.

Selain itu dalam pertemuan rutin bulanan dengan warga itu, Heru juga selalu menyampaikan komitmen PT SI untuk terus meningkatkan prosentase pemberdayaan warga Ring satu untuk menjadi tenaga kerja di pabrik, baik untuk Sumber Daya Manusia (SDM) skill maupun non-skill.

Kami juga membuka kesempatan bagi warga Ring 1 yang memiliki perusahaan untuk turut serta berpartisipasi dalam proses pembangunan pabrik, papar Heru.

Hingga saat ini, keterlibatan SDM dari warga Ring 1 dalam proses pembangunan pabrik, baik untuk tenaga kerja maupun badan usaha terus bertambah. Hal ini juga diakui oleh beberapa peserta pertemuan. Namun, mereka berharap agar keterlibatan terus ditingkatkan agar masyarakat makin merasakan dampak positif kehadiran pabrik semen di Rembang. (Hasan)

loading...

Comments

comments!