Ibadah Persipura yang Tidak Mengenal Perbedaan Agama

redaksi.co.id - Ibadah Persipura yang Tidak Mengenal Perbedaan Agama Waktu masih belum menunjukkan jam 20.00 WIT saat para pemainPersipura Jayapura memasuki salah satu ruangan di Hotel...

205 0

redaksi.co.id – Ibadah Persipura yang Tidak Mengenal Perbedaan Agama

Waktu masih belum menunjukkan jam 20.00 WIT saat para pemainPersipura Jayapura memasuki salah satu ruangan di Hotel Yasmin, Jayapura, Kamis (28/4/2016). Malam itu, seusai menikmati santap malam, mereka sudah dinanti asisten pelatih Mettu Duaramuri. Agenda malam itu adalah kebaktian kristiani khusus jelang pertandingan.

Mettu kerap kali mendapat jatah memimpin ibadah. Namun, kali ini giliran salah seorang pendeta yang bertugas, ditemani pengiring pujian, layaknya kebaktian di gereja yang digelar setiap hari Minggu.

Ketika waktu bergeser ke jam 20.00 WIT, seluruh pemain Persipura sudah menduduki bangku yang memenuhi ruangan. Ruangan seketika penuh. Pemain lokal, asing, dan naturalisasi siap menjalani ibadah yang khusus digelar pada malam jelang pertandingan, yang sudah jadi tradisi selama ini.

Pelatih dan pemain silih berganti, datang dan pergi, manajemen maupun pengurus berubah tiap waktu, tetapi rutinitas ibadah jelang pertandingan ini kekal dipelihara untuk memberikan kekuatan nonteknis.

Rutinitas ini bahkan jadi gambaran betapa Tim Mutiara Hitam bak tidak mengenal adanya perbedaan agama. Pasalnya, pemain yang beragama lain juga hadir dalam rutinitas itu.

Malam itu terlihat Ferdiansyah, kiper Persipura yang sudah membela Persipura sejak 2007, dan beberapa pemain yang bukan penganut kristen protestan. Tim pelatih, dipimpin pelatih Jafri Sastra, Irwansyah (asisten pelatih), dan Erick Ibrahim (asisten pelatih kiper) juga hadir.

Kehadiran mereka menyiratkan bila meski menganut kepercayaan lain, hal yang biasanya jadi sekat dalam kehidupan sosial itu, tidak memecah belah Persipura. Semua menyatu demi kekompakan dan kesolidan tim dalam keseharian, terutama menjelang pertandingan.

“Buat saya tak masalah mengikuti acara ini karena yang utama adalah kebersamaan. Sejak saya di Persipura, kegiatan semacam ini sudah rutin digelar. Kabarnya kebiasaan ini sudah dilakukan jauh sejak kebersamaan saya di tim ini,” ujar Jafri Sastra, asal Sumatra Barat.

Pelatih Jafri Sastra juga bukan pelatih pertama yang beragama non-kristen protestan yang menghadiri rutinitas ini. Sebelumnya, pelatih Rahmad Darmawan, Raja Isa, serta Irfan Bhakti, juga tidak keberatan dengan ritual yang punya tujuan positif ini.

Meski terlihat santai, Ricardo Salampessy cs. mengikuti kebaktian dengan mendengarkan khotbah secara khusyuk. Khotbah yang disampaikan Pendeta Yan malam itu jadi bekal nonteknis untuk menundukkan Persija pada laga perdana Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 Presented by IM3 Ooredoo, Jumat (29/4/2016) malam. Saat melantunkan pujian, Boaz Solossa dkk. bernyanyi dengan suara lantang, penuh sukacita.

Para pemain berharap penyerahan diri bisa membawa mereka pada hasil positif dalam pertandingan yang akan dijalani. Bila pun kalah, mereka tidak akan berlebihan larut dalam kekecewaan karena menang-kalah merupakan berkat Tuhan yang tetap pantas untuk disyukuri.

Buat mereka, kebersamaan di dalam tim dan memberi hiburan buat masyarakat jauh lebih penting dalam memikul nama besar PersipuraJayapura.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!