Ruhut Sitompul Digugat Gara-gara Ucapan 'Hak Asasi Monyet'

116

redaksi.co.id – Ruhut Sitompul Digugat Gara-gara Ucapan 'Hak Asasi Monyet'

© Copyright (c) 2012 foto

Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. melaporkan politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul ke Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat.

Ruhut dianggap mengeluarkan kata-kata yang tidak layak dalam rapat kerja antara Komisi Hukum DPR dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti pada Rabu, 20 April 2016.

Ketua PP Muhammadiah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Ruhut diduga melanggar kode etik karena menyebutkan tak ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kasus kematian terduga teroris Siyono.

“Walaupun saudara sebagai Anggota DPR RI itu mempunyai hak imunitas yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, tapi yang tentu hal itu mempunyai batasan tertentu yakni: kode etik. Hal itu diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2015 tentang kode etik,” seperti dikutip dalam Surat laporannya, Jumat, 29 April 2016.

Dalam rapat saat itu, Ruhut mengganggap apa yang dilakukan oleh Detasemen Khusus Antiteror 88 (Densus 88) dalam kasus tewasnya terduga teroris Siyono, tidak melanggar HAM. “Saya kecam yang katakan Densus melanggar HAM. HAM apa? Hak Asasi Monyet?” ujar Ruhut saat itu.

Pria yang akrab disapa Poltak ini menambahkan perlakuan Densus 88 sudah manusiawi. Perlakuan manusiawi itu, kata Ruhut, dilihat dari keputusan petugas yang tidak memborgol tangan Siyono dan dijaga oleh satu orang, meskipun dianggap melanggar prosedur standar.

“Bagaimana adik-adik kita (petugas Densus) sangat manusiawi sampai harus menerima hukuman karena melanggar SOP,” ujarnya.

Siyono tewas diduga karena berkelahi dengan petugas yang menjaganya. Ruhut menambahkan kematian Siyono karena ulahnya sendiri yang mencoba melawan petugas. “Rasain , hadapilah Densus yang mantap itu,” ujar Ruhut.

Ia meminta Kapolri dan Densus 88 terus bekerja tanpa perdulikan kritik yang menganggap adanya pelanggaran hak asasi manusia. Menurut Ruhut, publik lupa banyak anggota polisi yang tewas saat bertugas melawan teroris.

“Coba lihat (operasi penangkapan) Santoso sana, enggak ada yang bicara adik-adik kita (anggota polisi) yang meninggal,” ujarnya.

Dia mengecam wacana pembubaran Densus 88. Ruhut mengklaim, kinerja Densus sudah benar karena mencegah aksi teroris. Tapi, bila terpaksa bertindak maka harus didukung.

Siyono, 33 tahun adalah terduga teroris yang dikabarkan meninggal dunia saat menjalani proses pemeriksaan oleh Densus 88 pada Jumat, 11 Maret 2016.

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengatakan Siyono tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah berkelahi dengan satu orang anggota Densus yang bertugas mengawalnya.

Tempo masih berupaya meminta konfirmasi kepada Ruhut Sitompul terkait laporan pengurus Muhammadiyah itu. ABDUL AZIS | AHMAD FAIZ

(red/aini/J)

loading...

Comments

comments!