Sambut Hari Kartini, Anni Iwasaki Bicara Solusi Pendanaan Pembangunan Karakter Bangsa

552

JAKARTA Redaksi.co.id – Dalam rangka memperingati hari Kartini, DR (HC) Anni Iwasaki, Presiden Pusjuki (Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia), bicara solusi pendanaan wujudkan pembangunan karakter bangsa di Lokakarya Nasional 2015, Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI).

Lokakarya Nasional ini bertema: Peran Perempuan Dalam Membangun Karakter Bangsa, yang dilangsungkan pada hari Selasa, 21 April 2015, di Aula Kampus Universitas Nasional (UNAS), lantai III, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dalam presentasinya, Anni menjelaskan solusi tantangan pendanaan pembangunan karakter bangsa, yang peluangnya juga ada di badan dunia PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa).

Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa sesungguhnya memiliki kepentingan untuk mewujudkan pembangunan karakter bangsa-bangsa dalam turut meningkatkan kualitas pembangunan manusia di dunia. Terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang, ujar wanita yang lama bermukim di Jepang ini.

Dikatakan pendiri Anni Iwasaki Foundation ini, jika Indonesia ingin program pembangunan karakter bangsa dari PBB, maka tentu ada mekanisme yang mengaturnya.

Namun semuanya tergantung dari political will Pemerintah, dalam memanfaatkan peluang tersebut. Memang, itu membutuhkan kajian khusus, membuat proposal analisis, kemudian mengajukannya, dan akan dibahas di organisasi PBB, tandasnya sekaligus menjawab pertanyaan audiens.

Mantan Calon Presiden versi Konvensi Rakyat 2014 ini juga menceritakan, di negara maju seperti Jepang, pembangunan karakter bangsa, merupakan program negara yang sudah melekat pada kaum ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Di Jepang, pembangunan karakter bangsa dimulai dari rumah tangga. Program ini merupakan program negara, yang langsung melekat pada kaum ibu dalam membangun karakter anak-anaknya sejak kecil. Kaum ibu tentu membina langsung anak-anaknya, selain pendidikan di sekolah, terangnya.

Selain itu, negara juga membiayai perumahan bagi keluarga-keluarga muda di Jepang, hingga mereka mampu mandiri. Karena secara paralel keluarga-keluarga muda tersebut pada umumnya akan memiliki anak setelah menikah.

Sebelum Anni Iwasaki, ada 3 narasumber lainnya yang memaparkan materinya yaitu: (1). Masnah Sari, SH, MKn (Mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI), dengan materi: Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga; (2). Prof. Dr. Dra. Ernawati Sinaga, MS, Apt (Wakil Rektor III Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNAS) dengan materi: Pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia; (3). Dr. Wahyu Hartomo, MSc (Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian PP & PA) dengan materi: Kebijakan Perlindungan Anak di Indonesia. Moderator oleh: Prof. Dr. Ir. Nastiti Siwi Indrasti, MSc (IPB).

Sementara di sesi II, dilanjutkan dengan sesi Pembahasan, yang dilakukan oleh: Dr. Sri Hartati Pandi, SKM, MPH (salah satu pendiri ISWI); Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA (IPB) dan Dr. Diana Fawzia, MA (UNAS). Dilanjutkan kesimpulan oleh Tim Perumusnya yang terdiri dari: Dr. Ir. Nonon Saribanon, MSi; Ir. Ferry Soraya, MSIE; Ir. Nari Bronto, MM dan Dra. Cicik Lestari, MM.

Ada sekitar 200 peserta dari berbagai unsur antara lain dari: Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP & PA); Para anggota ISWI; Jajaran Pimpinan/ Pegawai UNAS; Pengurus/ Anggota IWWASH; Pengurus/ Anggota Kowani; Pengurus Pusjuki; dan tim dari Q-Pro Nusantara Foundation.

Lokakarya sebelumnya dibuka secara resmi oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Prof. Dr. Dra Yohana Susana Yembise, MA, PhD yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi Pembangunan, Rudy Purboyo, SH. Dalam sambutan tertulisnya, Menteri mengatakan, peringatan Kartini dapat dijadikan momentum pembangunan karakter bangsa untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Dari 250 juta penduduk Indonesia, 49,66% adalah perempuan. Jika berikut anak, ada sekitar 70% perempuan berikut anak yang harus menjadi perhatian. Karena itu merupakan aset pembangunan bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia, dan apabila dibiarkan akan menjadi beban negara, demikian pesan Menteri dalam pidato tertulisnya.

Sebab itu, Kementerian PP & PA mengharapkan bersama segenap Ikatan Sarjana Wanita Indonesia dan organisasi perempuan lainnya, dalam memberikan dukungan yang diperlukan bagi perumusan kebijakan yang berorientasi pada pengembangan kebijakan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Acara ini diketuai Dr. Ir. Nonon Saribanon, M.Si (ISWI) yang bekerjasama dengan UNAS dan organisasi wanita lainnya. Sedangkan Ketua Umum ISWI, Dr. Ir. Retno Sri Endah Lestari, MSc, PhD dalam sambutannya mengatakan, peringatan Kartini 2015 ini sekaligus merayakan HUT ISWI yang sudah 59 tahun berdiri, dengan sekitar 9.000-an anggota di seluruh Indonesia.

Bahwa membangun karakter bangsa, harusnya dimulai sejak kecil. Dan itu tidak bisa terputus-putus. Sebab itu, ISWI mendukung revolusi mental, untuk memperkokoh karakter bangsa, ucap Retno dalam bagian sambutannya, sebelum acara.

Di sesi terakhir, DR (HC) Sri Keanaya dari Q-Pro Nusantara Foundation mempresentasikan materi Women Transformation. Materi berkaitan dengan transformasi potensi diri yang sebelumnya harus dipahami dan dikelola dalam diri, baru kemudian ditransformasikan kepada anak (termasuk bayi dalam kandungan) maupun kepada anggota keluarga, maupun orang lain. Termasuk bagaimana mengenali dan mengoptimalkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. (DANS)

loading...

Comments

comments!