6 Alasan Pilpres AS 2016 Jadi Momentum Penting dalam Sejarah

179

redaksi.co.id – 6 Alasan Pilpres AS 2016 Jadi Momentum Penting dalam Sejarah

Menjelang pemilihan presiden AS pada akhir 2016 nanti, Donald Trump telah mencuat sebagai satu-satunya bakal calon presiden dari Partai Republik yang diduga menuju nominasi.

Sementara, di Partai Demokrat, Hillary Clintondiduga bakal meraih nominasi.

Dikutip dari BBC pada Jumat (6/5/2016), apapun persaingan akhirnya, maka pemilihan presiden (pilpres) AS kali ini mencatat sejarah setidaknya dalam 6 hal:

1. Presiden Berusia senja

Ketika Barack Obamapertama kalinya melangkah ke pintu depan Gedung Putih pada Januari 2009, usianya masih 47 tahun sehingga ia menjadi presiden termuda ke-5 dalam sejarah AS. Theodore Roosevelt adalah yang termuda. Saat mulai menjabat ia masih berusia 42 tahun 322 hari.

Bernie Sanders akan berusia 75 tahun hari pelantikan, 20 Januari 2017. Hampir 6 tahun lebih tua daripada presiden tertua yang dilantik, yaituRonald Reagan.

Donald Trumpmerayakan ulang tahun ke-70 pada 14 Juni 2016, sehingga iapun bisa menjadi presiden tertua dalam sejarah AS.

Hillary Clinton memasuki usia 69 tahun pada 2 minggu sebelum hari pemilihan, dan bisa menjadi presiden ke-2 tertua dalam pelantikan. Posisinya menggeser William Henry Harrison yang naik menjadi presiden pada 1841.

2.New YorkLawan NewYork

Dalam dua skenario, baik Trump versus Clinton maupun Trump vesus Bernie Sanders, merupakan pertama kalinya persaingan kursi kepresidenan sesama warga New York sejak 1944.

Saat itu Gubernur New York, Thomas E. Dewey, berhadapan dengan petahana Franklin D. Roosevelt.

Siapapun yang nanti dilantik menjadi presiden pada Januari 2017, ia menjadi warga New York pertama yang menjabat dalam 71 tahun terakhir.

Meski Clinton lahir di Chicago, negara bagian Illinois, tapi ia adalah senator dari negara bagian New York dan tinggal di kota Chappaqua, negara bagian New York.

3. Urusan Duit

Jika Trump menang, uang yang digelontorkannya adalah yang paling sedikit yang pernah dikeluarkan oleh seorang pemenang pilpres.

Catatan Komisi Pemilu Federal (Federal Election Commission) mengungkapkan bahwa ia menggelontorkan US$49 juta (Rp 655 miliar) hingga akhir Maret lalu. Sebanyak US$36 juta (Rp 481 miliar) adalah uangnya sendiri.

Tidak ada bakal calon lain sejak Al Gore pada 2000 yang mengeluarkan dana lebih ‘kecil’ dari itu. Waktu itu, Al Gore menghabiskan dana US$126 juta (Rp 1,68 triliun). Clinton sudah menggelontorkan US$187 juta (Rp 2,5 triliun) hingga kini.

Tentu saja Trump masih harus mengeluarkan banyak uang karena kampanyenya hingga November nanti masih cukup berat, tapi sepertinya jumlah pengeluaran masih di bawah Barack Obama ketika terakhir kalinya berkampanye pada angka US$556 juta (Rp 7,4 triliun).

4. Minim Pengalaman

Kemenangan Trump juga menjadi penting karena suatu alasan, yaitu bahwa belum pernah ada presiden AS terpilih dalam 60 tahun belakangan ini yang tidak memiliki pengalaman sebagai gubernur atau pernah duduk di Kongres.

Presiden terakhir tanpa pengalaman poiltik, Dwight Eisenhower, adalah mantan Pemimpin Utama Pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II sebelum ia terpilih pada 1953. Sebelum itu, Herbert Hoover (presiden AS dari 1929 hingga 1933) adalah seorang insinyur dan pegiat kemanusiaan.

Tidak pernah ada bakal calon presiden yang pernah memiliki bisnis kasino dan hotel.

Namun begitu, Trump mengatakan bahwa pengalamannya melakukan perjanjian bisnis dan fakta bahwa dirinya tidak terlalu terikat pada kaum mapan di Washington, malah memberikan keuntungan baginya.

5. Presiden Wanita?

Karena Cinton sudah terlalu lama berada di panggung Washington, kita mungkin mudah melupakan suatu fakta, yaitu bahwa ia akan menjadi presiden wanita pertama jika terpilih.

Yang paling nyaris di masa lalu adalah ketika bakal calon John McCain dari Partai Republik memilih Gubernur Alaska, Sarah Palin, untuk menjadi bakal cawapres pada 2008.

Kemudian, bakal calon Walter Mondale dari Partai Demokrat yang memilih Geraldine Ferraro sebagai bakal cawapres pada 1984.

6. Tongkat Estafet Presiden Demokrat?

Mengejutkan, ternyata hanya baru ada dua presiden AS dari Partai Demokrat yang pernah melanjutkan presiden sebelumnya yang juga dari partai yang sama.

Yang terakhir melakukan itu adalah James Buchanan, presiden AS dari 1857 hingga 1861.

Presiden Harry Truman dan Lyndon Johnson keduanya adalah wakil presiden yang diangkat menjadi presiden ketika presiden terpilih meninggal. Keduanya menang pada pemilu berikutnya.

Dengan demikian, kemenangan Clinton menjadi sangat penting bagi Partai Demokrat.

(red/hmad/yaiku/AS)

loading...

Comments

comments!