5 'Kota Hantu' Dunia yang Raib Ditelan Masa

redaksi.co.id - 5 'Kota Hantu' Dunia yang Raib Ditelan Masa Sejumlah kota di dunia menjelma menjadi kota hantu, terbengkalai, dan bahkan dijauhi. Padahal, kota-kota itu dulunya...

14 0

redaksi.co.id – 5 'Kota Hantu' Dunia yang Raib Ditelan Masa

Sejumlah kota di dunia menjelma menjadi kota hantu, terbengkalai, dan bahkan dijauhi. Padahal, kota-kota itu dulunya ada yang menjadi bagian sangat penting dalam peradaban sekelilingnya.

Ada kota yang raib karena bencana alam dan ada juga yang hancur karenaulah manusia. Ada yang kemudian terus menarik orang untuk datang, walaupun hanya sebagai turis. Ada yang juga yang justru tidak boleh didatangi.

Dikutip dari News.com.au pada Selasa (3/5/2016), berikut ini adalah sejumlah kota di antara 44 kota yang menjadi fokus dalam buku The Atlas of Lost Cities karya penulis Prancis bernama Aude de Tocqueville.

Menurut dia, sama seperti manusia, sebuah kota bersifat mortalatau tidak kekal. Kepada National Geographic, ia menyebutkan sejumlah alasan kematian sebuah kota, yaitu bencana alam, persoalan ekonomi, ulah manusia, atau pupusnya sebuah peradaban.

Berikut ini adalah sejumlah kota yang terus menjadi perhatian para pencinta wisata dan sejarah:

1. Pompeii, Italia

Kota yang sekarang menjadi situs arkeologi ini dulunya adalah sebuah kota ramai Romawi yang tertimbun muntahan gunung berapui Vesuvius. Letusan mematikan itu terjadi pada 24 Agustus 79 M.

Pada 2014, tempat ini mendapatkan 2,4 juta kunjungan sehingga menjadi tempat kedua paling dikunjungi di Italia sesudah Koloseum (Colosseum) di Roma.

Para pengunjung masih dapat melihat sebagian besar tampilan kota itu pada saat bencana karena banyak peninggalannya yang terawetkan dalam plester lahar, termasuk manusia penduduk kota yang terjebak ketika sedang akan mengungsi.

2. Lothal, Lembah Indus, India

Kota purba pelabuhan Lothal dibangun dan dirancang agar tahan menghadapi banjir bandang. Namun menurut UNESCO, banjir juga lah yang memusnahkan kota tersebut.

Kota ini terletak di tepi Sungai Bhogava di Teluk Khambat dan diabdikan pada Sabarmati. Penggalian reruntuhan kota mengungkapkan bahwa kota ini menjadi satu-satunya kota pelabuhan pada masa Peradaban Lembah Indus.

Kota ini dulunya menjadi kota ramai berbenteng yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu atas dan bawah. Ada sebuah gudang dan platform yang sudah diketahui kegunaannya sebagai galangan pasang surut.

Hingga sekarang, kota ini masih merupakan temuan sangat berharga bagi para ahli arkeologi.

3. Chernobyl, Rusia

Nama Chernobylmenjadi buah bibir setelah terjadinya ledakan reaktor nuklir di sana pada 26 April 1986.

Pada saat kejadian, pihak Soviet tidak segera melaporkannya hingga dua hari lamanya, sampai akhirnya angin membawa debu peluruhan ke Eropa. Para ahli di Swedia kemudian mengumumkan kekhawatiran mereka.

Lebih dari 600 ribu orang dikirim untuk memadamkan kebakaran di PLTN itu untuk menyingkirkan kontaminasi terburuknya.

Ada 30 orang petugas yang meninggal akibat ledakan ataupun radiasi akut dalam beberapa bulan sesudahnya. Kecelakaan ini menyebarkan radiasi berbahaya kepada jutaan warga di sekitarnya.

Kecelakaan itu juga memaksa evakuasi besar-besaran dan bersifat menetap terhadap ratusan kota dan desa di Ukraina dan Belarusia. Hingga saat ini, wilayah di sekitarnya tetap menjadi kawasan terlarang.

4. Centralia, negara bagian Pennsylvania, AS

Kota yang dulunya ramai ini hampir hancur seluruhnya oleh api bawah tanah luar biasa pada 1962. Suatu tumpukan besar sampah di tempat pembuangan akhir dekat tambang batubara terbakar, sehingga menyulut api di bawah kota itu selama sekitar setengah abad.

Kota yang dulunya dihuni ribuan orang ini sekarang hanya menyisakan beberapa orang saja.

5. Angkor Wat, Kamboja

Situs seluas dua kali wilayah Manhattan ini ditemukan oleh para misionaris pada 1860. Situs purba ini dulunya merupakan kompleks arkeologi Provinsi Sam Reap, tapi sekarang sekadar menjadi tempat tujuan wisata.

Saat ini, sisa-sisa kuli suci Kamboja tersebut perlahan-lahan rusak karena menjadi atraksi yang terkenal yang dikunjungi sekitar 800 ribu orang setiap tahun.

Upaya-upaya pelestarian sedang dilakukan. Tahun lalu, Tiongkok menyediakan teknologi satelit untuk memantau faktor-faktor lingkungan hidup yang ikut andil dalam perusakan situs.

(red/udianto/R)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!