Kapolda Kalbar Brigjen Pol Drs. Arief Sulistyanto M.Si: “Kalau Polisi Baik, Pahalanya Melebihi Ustad”

  PONTIANAK Redaksi.co.id - SENIN kemaren (20/4), orang nomor satu di Kapolda Kalimantan Barat, Brigadir Jenderal Polisi Drs. Arief Sulistyanto M.Si...

290 0

 

 

PONTIANAK Redaksi.co.id – SENIN kemaren (20/4), orang nomor satu di Kapolda Kalimantan Barat, Brigadir Jenderal Polisi Drs. Arief Sulistyanto M.Si tersenyum lega. Pasalnya, salah satu kasus besar yang ditangani, menyangkut pengusaha kebun sawit dan kayu yang melakukan penggelapan 1500an sertifikat tanah milik petani asal Ketapang, Budiono Tan yang sudah lima tahun buron akhirnya divonis oleh Pengadilan Tinggi di Ketapang, Kalimantan Barat dua tahun penjara serta mengembalikan uang sebesar tujuh miliar rupiah.

Lima Kapolda sebelumnya belum mampu meringkus Budiono Tan alias Tan Jan Sia yang mantan anggota MPR ini.

Semenjak Arief diperintahkan sebagai Kapolda Kalbar, Mei 2014, ia langsung melakukan banyak pembenahan ke dalam maupun keluar. Gerakannya yang begitu cepat, gesit, dan terarah, telah memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap citra Polri umumnya dan Polda Kalbar khususnya.

Di bawah ini adalah sekelumit penuturan Kapolda yang genap berusia 50 tahun di 2015 ini kepada Redaksi.co.id di ruang kerjanya Mapolda Kalbar, Jalan A. Yani tentang berbagai hal dalam memelihara kamtibmas di wilayahnya.

T: Bagaimana ceritanya sehingga bapak ditunjuk untuk memimpin Polda Kalbar?

J: Ketika saya masih menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, saya di forward SMS oleh Kapolri Pak Timur Pradopo yang mengatakan bahwa informasi masuk terus soal penyelundupan besar-besaran diperbatasan Entikong (Kalbar) dengan Kuching (Malaysia).

Mulanya saya hanya menjawab terima kasih informasinya. Pikiran saya, kalau saya turun, pasti akan terjadi konflik dengan senior-senior saya juga dengan petugas kepolisian setempat.

Saya hanya menjawab kepada Kapolri secara normatif bahwa itu domainnya bea cukai. Sehingga kepolisian tidak berwenang. Lalu Kapolri mengatakan lagi, bahwa penyelundupan tersebut masuk terus. Sehingga terkesan Polisi membiarkan saja itu terjadi. Jadi ada polisi yang menerima sogokan juga. Saya menanggapinya dengan mengatakan, kalau polisi menerima sogokan, itu tugasnya Propam, bukannya Direktur Ekonomi. Saya terus menjaga, supaya tidak terlibat. Karena kalau saya turun, lalu menemukan fakta dan dievaluasi, akan berimbas kepada Polda setempat.

Tapi berikutnya di saat Kapolri Sutarman saya diperintahkan kembali di kasus yang sama. Saya segera menindaklanjutinya. Pada Mei 2013, saya membawa tim 10 orang dari Bareskrim Mabes Polri dan langsung terbang ke Entikong. Operasi rahasia ini dilakukan tanpa memberitahu Kapolda setempat (Kalbar). Menginap dua minggu di Entikong.

T: Kemudian?

J: Setelah saya pelajari, ini kenapa ya! Karena Polda juga sudah melakukan penangkapan terhadap truk-truk yang masuk ke wilayah kita, tapi kok terus ada penyelundupan. Jadi misalnya truk yang masuk 10 dan yang ditangkap cuma satu. Jadi yang penting ada yang ditangkap. Lalu saya masuk ke PPLB Pos Pemeriksaan Lintas Batas), mempelajari semua berkas. Baru akhirnya menemukan akar masalah. Setelah itu saya paparkan di Bareskrim Mabes Polri. Saya katakan bahwa kita jangan berhenti mengusut hanya di tingkat Polres atau Polda saja. Tapi harus lebih jauh lagi ke akar masalahnya.

Ini masalahnya terjadi di oknum Bea Cukai. Petugas PPLB hanya mengurus masyarakat yang melakukan aktifitas di perbatasan saja. Sementara tiap hari yang masuk truk-truk besar. Ini misi rahasia saat saya melakukan investigasi. Polda setempat saja tidak tahu.

Saya melakukan pengecekan data juga kepada petugas kepabeanan, hingga aliran dananya melalui PPATK di Pusat. Laporan saya didukung, dan akhirnya para pelaku yang mendapat aliran dana saya tangkapi. Ada yang sudah pindah ke Riau juga ditangkap.

(Di hari yang sama saat Redaksi.co.id berdiskusi dengan Kapolda Kalbar, sebelumnya juga ada tamu dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan/BNPP).

Saya juga menjelaskan kepada rekan dari BNPP bahwa kita menjaga di daerah perbatasan bukan hanya menjaga wilayah kedaulatan saja. Tapi juga harus menjaga kedaulatan ekonomi. Karena yang terjadi adalah perdagangan besar-besaran dari Malaysia ke Indonesia, di mana posisinya Indonesia pengimpor dan Malaysia pengekspor.

Setelah saya tangkapi termasuk pengusahanya, kita tahu anatomi atau modus jaringan bisnisnya. Jadi pedagang-pedagang retail di Jakarta, mau perlu apa saja, ada brokernya di perbatasan. Barang diadakan dari Cina, lalu pengapalan dari Cina dikirim ke Kuching dalam bentuk kontainer. Di Kuching masih dalam bentuk container, melalui transporter dikirim ke Tepedu/Serawak (masih di Malaysia). Di Tepedu ini, sudah ada Terminal Petikemas (inland port), yang memang digunakan untuk menampung barang-barang yang akan masuk ke Indonesia.

Karena truk container tidak bisa masuk ke wilayah kita di Entikong, maka masuklah truk-truk biasa dari Entikong mengangkut barang tersebut. Dalam satu hari bisa puluhan truk yang masuk. Di Entikong baru diperiksa oleh petugas PPLB. Setiap truk ada nilai transaksinya. Di situlah letak penyimpangannya. Kalau saya tidak menangani masalah penyelundupannya. Tapi masalah soal ada barang yang tidak boleh masuk, tapi diizinkan masuk karena ada penyuapan. Nah saya menangani penyuapannya.

Barang-barang tersebut ternyata tidak hanya berhenti di Entikong. Lalu dibawa ke pelabuhan di Pontianak. Dari Pontianak dengan kontainer dibawa ke Tanjung Priok. Coba bayangkan, ini kan sudah perdagangan interinsuler. Sudah bukan barang impor lagi prosesnya. Ini selisih harganya lewat jalur tersebut bisa sekitar 20-25% dibanding misalnya langsung dari Cina ke Jakarta lewat laut.

T: Setelah berhasil mengungkap kasus penyelundupan itu, baru bapak diperintahkan menjadi Kapolda di sini?

J: Dalam waktu sekitar satu bulan pengusaha yang terlibat penyelundupan itu kita tangkapi. Fakta-fakta yang saya temukan kita berikan ke Kapolri, lalu diteruskan ke Propam. Akhirnya Kapolda Kalbar diganti dari Tugas Dwi Apriyanto ke Arie Sulistyo. Di masa Arie ini, terjadi perubahan yang lumayan cepat. Polda juga melakukan penangkapan-penangkapan lagi, salah satunya pengusaha besar yang dikenal The lu Sia alias Asia. Tetapi setelah empat hari ditangkap, lalu ditangguhkan. Kemudian Kapolri melihat ada proses yang tidak lazim dalam proses penangguhan penahanan tersebut, sehingga Kapolda diganti lagi oleh saya sejak Mei 2014. Mulanya saya kaget, karena saya katakan kasus penyelundupan di perbatasan Kalbar kan sudah selesai. Tapi ternyata saya disuruh menjadi Kapoldanya.

T: Apa pesan Kapolri saat itu kepada bapak?

J: Lakukan pembenahan internal, juga eksternal untuk pelayanan masyarakat dan penegakkan hukum. Hentikan penyelundupan di Entikong. Karena beberapa Kapolda bermasalah tidak dapat menyelesaikan. Saya merasa tertantang. Saya kan sudah empat tahun di Bareskrim.

Berangkat segera ke Kalbar. Hentikan berbagai penyimpangan yang terjadi di sana. Jangan terulang kesalahan yang sama, itu saja pesan Kapolri.

Pak Sutarman tahu betul watak saya karena sering bertugas bersama. Juga dipesankan agar jangan sampai terjadi konflik. Begitu keluar keputusan resmi bahwa yang menjadi Kapolda saya, langsung beberapa kasus penyelundupan di Entikong berhenti dengan sendirinya..hahaha.

Saya sudah membawa konsep ketika diperintahkan untuk sebagai Kapolda di sini. Saya sudah enam tahun bintang satu. Sempat saya bercanda dengan isteri, ini jangan-jangan saya dimutasi kalau ada Kapolda yang dicopot. Eehh, benar kejadian.
Saya di Etsus sudah menangani kasus-kasus besar, rawan suap. Saya memerlukan kekuatan disamping pimpinan saya. Ya kekuatan itu adalah media. Saya sering melakukan gelar perkara dengan mengundang rekan-rekan media. Begitu saya berangkat kesini, kita langsung akrab. Itu saya jadikan untuk mendukung sekaligus mengawasi saya. Karena salah satu cara untuk penegakkan hukum kan transparansi.

Makanya saat adanya penandatanganan komitmen integritas di internal kami, kita bikin shock mental. Awalnya mungkin dipikir paling dua bulan pertama saja gebrakan saya mampu bertahan seperti era sebelumnya. Saat masuk bulan ketiga, kok masihdi bulan keempat dan seterusnya kok makin kencang. Tidak turun-turun. Akhirnya mereka harus mengikuti komitmen integritas yang saya ajukan. Karena ini kan kebutuhan kita bersama.

Untuk meredam shock mental ini, saya warnai dengan pendekatan psikologis, spiritual, tutorial, bahwa komitmen integritas itu bukan untuk ketika saya menjadi Kapolda. Ini adalah kebutuhan kita bersama. Ini lho polisi. Karena polisi kalau bekerja dengan baik, maka pahalanya melebihi ustad. Ustad kan lebih banyak ngomong saja. Karena ada tiga tugas utama polisi yang preemtif, preventif dan penegakkan hukum. Ustad hanya melakukan preemtif saja.hahaha.

Ketika kita menjadi manusia, ada suatu endingnya yang harus kita pertanggungjawabkan. Demikian saat menjadi polisi, pertanggungjawaban bukan hanya kepada atasan saja. Tapi juga kepada Tuhan. Coba bayangkan ketika kita diberi kewenangan, lalu kita menyalahgunakan kewenangan yang diberikan oleh negara, berarti itu sudah menzalimi orang lain. Itu kan dilarang oleh agama. Di akhirat nanti harus dipertanggungjawabkan. Rezki itu bukan dari cukong, tapi dari Tuhan. Kita kan sudah punya gaji.

Selama kita beraktifitas, berikhtiar, maka Tuhan tidak akan membiarkan kita kelaparan. Itu yang sering saya berikan contoh-contoh. Termasuk diri saya sendiri dijadikan contoh. Misalnya, memang manusia tidak ada yang sempurna. Saya mengatakan, dengan saya hidup menghindari penyimpangan, toh saya bisa sampai menjadi Kapolda.

T: Keteladanan datangnya dari atas atau Pemimpin ya pak?

J: Ya betul. Saya sekolah, naik jabatan, tidak pernah kasak-kusuk. Tidak ada backing. Rezki itu tidak selalu berbentuk uang. Bisa juga kesempatan. Makanya saya selalu berdialog dengan anak buah. Kalau sabtu-minggu saya kasak-kusuk ke daerah/Polres-Polres. Polres dan Polsek mana lagi yang belum dikunjungi. Kita gilir. Kita kumpulkan para Kapolsek, sambil diskusi dan menyampaikan tutorial. Mari kita memotret diri kita sendiri, sudah seperti apa? Misalnya kita masih rutinitas, formalitas, malas, korupsi, asal2an, dll. Inilah kelakukan kalian. Sekarang yang berlaku yang ini. Akhirnya semua tandatangan bikin komitmen integritas.

Dari segi operasional, saya mengedepankan pro aktif polisi. Selama ini polisi dikenal sebagai pemadam kebakaran. Kita harus pro aktif. Yaitu, orang baru berfikir tetapi kita sudah berbuat. Bagaimana caranya, ya kita harus tahu lebih dahulu. Ini semua saya diskusikan di Polres dan Polsek. Lalu mereka menjawab, kemampuan intelijen harus prima. Lalu ada deteksi dini. Jadi kita harus tahu kejadian dengan cepat untuk mengambil tindakan. Ini semua saya jabarkan secara detil.

Memang melelahkantapi lebih baik saya capek di awal, nanti tinggal kontrol. Akhirnya terjawab dengan pola membangun jaringan informasi. Ini sudah ada kebijakan Mabes Polri, satu babinkamtibmas sama dengan satu desa. Satu Polsek ada 12 desa. Ada 1200an jaringan informasi di Kalbar ini. Dulu ada anggapan setiap Polsek kalau ada jarum jatuh kamu harus tahu. Kalau saya lebih detil lagi: benang jatuh pun kita harus tahu. Intinya memang keteladanan, dan harus dibuktikan dari diri saya dahulu.

T: Soal penangkapan Budiono Tan (BT)?

J: Saya awalnya tidak kenal siapa BT. Waktu satu bulan di sini, saya sudah mencopot Kapolres di Ketapang. Ada tindakan indisipliner anak buahnya membawa keluar tahanannya (perempuan). Lalu saya cek propam, dan setelah di crosscheck yang bersangkutan tidak tahu dan tidak ditempat. Ini tidak ada tanggungjawab. Waktu saya di Ketapang, ketemulah saya berkas kasus BT, yang terkena pasal 372, 378 soal penggelapan setifikat tanah. Saya tanya ke anak buah, kok kasus BT macet? Padahal Ini bukan masalah.

Langsung saya instruksikan proses saja sampai P21. Saya yang menjaga kamu (penyidik). Pada November 2014 saya panggil BT, beberapa kali tidak datang. Akhirnya yang datang pengacaranya. Saya katakan, bahwa yang dipanggil Budiono Tan, bukan anda. BT itu kan arogan, menyepelekan penegak hukum. Panggil kedua tidak hadir, saya suruh cari. Saya sudah keluarkan DPO (daftar pencarian orang) ke seluruh Indonesia. Dia mulai gerah. Akhirnya dia datang ke Kabareskrim Mabes Polri entah membawa katabelece siapalalu dia mengatakan akan menyerahkan diri. Dia yang tentukan waktunya menyerahkan diri. Menurut saya tidak bisa. Ini aturan negara, dan dia DPO. Kalau DPO, menghadap ke kantor polisi, itu harus ditangkap. Bukan bernegosiasi. Saya tegur teman-teman saya di Bareskrim. Dan saya katakan bahwa kita harus tangkap BT.

Lalu salah satu Direktur Bareskrim katakan kalau BT sudah menghadap Kabareskrim dan berjanji minggu depan akan menyerahkan diri. Nanti kalau ditangkap bagaimana kata Kabareskrim. Ya ada caranya dong saya bilang untuk menangkapnya. Setelah dicek, BT ternyata ada di kediamannya di Kebun Jeruk. Karena wilayah ini masuk Polres Jakarta Barat. Saya kontak Kapolresnya untuk menangkap DPO. Jadi yang menangkap Polres Jakbar, anak buah saya hanya mendampingi.

Saya ditelpon staf Kabareskrim yang menanyakan kenapa BT ditangkap, saya jawab bahwa yang menangkap bukan kami, tetapi Polres Jakbar karena berdasarkan DPO. Saya langsung menghubungi Kabareskrim untuk menjelaskan hal ini. Jawab Kabareskrim, oh ya sudah kalau memang DPO.

Begitu BT tiba di Pontianak, setelah menandatangani berita acara, saya langsung perintahkan untuk diborgol dan gunakan pakaian tahanan. Sempat ada lagi intervensi, yang meminta saya agar BT jangan diborgol dan gunakan baju tahanan. Saya bilang tidak bisa. Adrenalin saya mulai naik, ini orang siapa..ini kan negara, kita tidak boleh kalah. Saya sekaligus mendorong motivasi dan spirit ke anak buah saya agar jangan takut dan tetap berani dalam menangani BT. Saya berada di depan dan memback up kalian. Lalu saya temui BT dan tanya, bapak warga negara apa? Dijawab Indonesia. Kalau begitu bapak harus tunduk dalam aturan hukum yang berlaku di RI. Saya Brigjen Arief Kapolda Kalbar, saya yang perintah penyidik itu menangkap. Bapak jangan mempersulit dan menelpon kemana-mana. Kalau saya salah dalam menangkap bapak, saya siap menanggung resiko apapun.

Ternyata waktu saya berbicara itu di ruangan, saya pikir hanya ada tim reserse saja. Tetapi ada juga rekan-rekan wartawan. Jadilah dialog saya tadi terekspose ke publik. Dampaknya masyarakat tahu dan menghargai sikap kita. Ini heboh. Polda Kalbar akhirnya berhasil menangkap BT. Walikota sampai datang memberikan ucapan selamat.

Walikota mengatakan, bapak Kapolda berani dan hebat. Karena sudah lima Kapolda tidak berani menangkap BT. Disebutkan bahwa kolega BT banyak pejabat negara. Saya jawab tidak tahu tentang itu semua. Yang saya tahu dia penjahat. Kejati awalnya ingin menyidangkan di Pontianak. Sementara saksi ada di di desa pelosok Ketapang yang jauh lokasinya. Saya katakan sidangnya di Ketapang saja untuk efisiensi. Karena kalau di Pontianak nanti polisi yang harus hadirkan saksi-saksi itu dari daerah dan memakan biaya besar. Dan ini ternyata yang diinginkan BT agar saksi kesulitan hadir.

Sambutan petani di Ketapang waktu saya kumpulkan mereka luar biasa. Petani menganggap polisi seperti pahlawan. Hampir semua cium tangan dengan saya.

Kami pasang badan kalau Pak Kapolda ada yang berani ganggu, kata mereka.

Dulu sampai gedung DPRD itu dibakar oleh petani karena minta keadilan. Makanya sekarang kita kawal proses peradilannya. Selama saya berbuat benar, resiko apapun akan saya hadapi. Kalau resikonya saya sampai dicopot, itu bukan karena saya dinilai bodoh atau bloon, tetapi melakukan tugas dengan baik dan benar. Itu tidak apa-apa. Jadi BT ditahan di Ketapang, dan langsung diawasi oleh masyarakat di sana kan. BT itu anggota MPR dahulu. (abriyanto)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!