Mengintip Mobil Mewah Rupbasan Jakarta Utara

161

redaksi.co.id – Mengintip Mobil Mewah Rupbasan Jakarta Utara

Dua belas mobil diparkir dalam empat baris langsung terlihat ketika memasuki halaman depan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Kelasa I Jakarta Utara.

Beberapa mobil tertutup dengan kain tudung silver tipis, sebagian lainnya kainnya terbuka. Salah satu mobil yang terparkir dengan tudung terbuka bermerek Mercedes Benz silver dengan nomor polisi B 8250 YG.

Mercedez Benz silver itu adalah satu dari enam mobil milik tersangka kasus Suap Akil Mochtar yang dititipkan KPK di rupbasan itu.

Beberapa mobil Akil lain, yang bermerek Toyota Alphard dan Toyota Fortuner terparkir, di halaman belakang rupbasan. Baik halaman depan dan halaman belakang tidak beratap, sehingga pelindung mobil mobil itu hanya tudung tipis yang menutupi masing masing mobil.

Masih ada pula mobil lain yang terparkir di ruang penyimpanan tertutup (beratap) di rupbasan itu. Salah satunya adalah sebuah Toyota Camry hitam belum berplat nomor milik kurir tersangka kasus suap SKK Migas Rudi Rubiandini, Deviardi.

Bangku mobil yang disita sejak 28 Agustus 2013 itu masih terplastik dengan rapi, walau bagian luar mobil terlihat berdebu.

“KPK menyitanya tepat setelah mobil itu keluar dari showroom, jadi mobil itu belum sempat digunakan pemiliknya,” kata Kepala Rupbasan Jakarta Utara Erwan Prasetyo kepada Tempo akhir April lalu.

Terdapat 20 mobil di kantor yang terletak di Jalan Sungai Landak Nomor 7, Cilincing Jakarta Utara itu. Mobil mobil tidak hanya titipan KPK namun juga ada titipan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara dan juga Polres Metro Jakarta Utara.

Erwan mengatakan timnya secara berkala memanaskan mobil mobil mewah itu sekali seminggu. Bila ada dana lebih, mereka pun mengganti aki kepada mobil pada mobil yang soak.

“Maklum dana perawatan dan pemeliharaan kami hanya 1,8 juta perbulan untuk semua barang, kecuali barang titipan KPK. Jadi harus dipas-pasin,” kata Erwan.

Dengan dana anggaran 21,6 juta pertahun, Erwan harus membagi biaya perawatan mobil mobil mewah itu dengan perawatan barang titipan lain. Maklum perawatan dilakukan agar nilai barang yang dititip di rupbasan itu tidak jatuh sat dilelang nanti.

“Kalau mau perawatan yang baik, kira kira kebutuhan kami Rp 10 juta perbulan,” kata Erwan.

Perawatan terhadap benda titipan KPK berbeda. Ketika barang titipan lain menggunakan anggaran rupbasan untuk biaya perawatan dan pemeliharaannya, benda titipan KPK mendapatkan anggaran sendiri dari KPK minimal untuk pengisian bensin bila tangki sudah habis.

Bila bensin mobil mewah titipan KPK habis, tim rupbasan akan langsung memberitahu KPK.

“Sehari atau dua hari kemudian tim KPK datang dan akan membawa mobil mobil itu ke pomp bensin terdekat untuk diisi bensinnya,” kata Erwan.

Erwan mengaku selalu takut bila mobil mobil mewah itu harus dibawa ke pomp bensin untuk diisi tangkinya. Ia mengeluhkan mengapa petugas pertamina tidak membolehkan rupbasan, yang juga bagian dari pemerintahan, mengisi bahan bakar melalui jerigen atau drum.

“Saya itu takut kalau mobil-mobil mewah itu nantinya terserempet atau tergores di pinggir jalan. Kan nanti saya jadi kena masalah,” katanya.

Jangankan di jalan raya yang banyak kendaraan, dari pantauan Tempo, mengeluarkan dari gudang di rupbasan Jakarta Utara saja, sangat sulit. Maklum mobil mobil mewah ini tertata nyaris berhimpitan.

Sela satu mobil dengan yang lainnya ada yang hanya sekitar 40 sentimeter saja. Sehingga terkadang, orang pun akan sedikit kesulitan untuk membuka salah satu pintu mobil itu.

Menggapai pintu mobil pun petugas harus melewati motor motor yang dititipkan instansi pemerintah lain. Penataan yang sangat rapi sangat dibutuhkan di kawasan seluas 1.185 meter persegi itu.

“Kami sudah kehabisan lahan lagi karena isi di rupbasan kami sudah terlalu penuh,” kata Erwan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, Dahlan Pasaribu, mengatakan masalah lahan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi rupbasan di kawasan Jakarta. Tanah yang mahal membuatnya susah mendapatkan lahan kosong di Jakarta.

Bila rupbasan Jakarta Utara kesulitan menempatkan 20 mobil, Dahlan mengatakan Rupbasan Jakarta Selatan kesulitan menempatkan 50an mobil yang ada dititipkan di tempat itu. Kebanyakan mobil itu adalah titipan KPK.

“Karena di rupbasan Jakarta Selatan sudah penuh, akhirnya kami pun titip beberapa barang rupbasan di Gedung Imigrasi di kawasan Kuningan,” kata Dahlan.

Menurut Dahlan, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah berharap proses peradilan kasus hukum yang menyertai barang sitaan itu segera selesai dan berkekuatan hukum tetap. Sehingga mobil-mobil itu bisa segera dilelang.

“Kalau terlalu lama dititip di rupbasan kan nilai mobil-mobil itu akan semakin menurun,” kata Dahlan. MITRA TARIGAN

(red/urista/urnamasari/NP)

loading...

Comments

comments!