Kenapa Kita Tak Boleh Mengambil Keputusan Saat lapar?

redaksi.co.id - Kenapa Kita Tak Boleh Mengambil Keputusan Saat lapar? Kita semua pasti sudah mengetahui bahaya untuk berbelanja di saat kita lapar dan kini para ilmuwan...

18 0

redaksi.co.id – Kenapa Kita Tak Boleh Mengambil Keputusan Saat lapar?

Kita semua pasti sudah mengetahui bahaya untuk berbelanja di saat kita lapar dan kini para ilmuwan mengatakan kita juga tak boleh membuat keputusan penting saat perut kita keroncongan. Ini karena hormon yang disebut ghrelin yang diproduksi oleh lambung kita saat mengantisipasi makanan, memiliki dampak negatif terhadap pengambilan keputusan.

Hormon yang meningkatkan selera makan tersebut juga mengurangi kemampuan mengendalikan dorongan yang muncul dari dalam diri kita. “Untuk kali pertama kami bisa menunjukkan bahwa peningkatan ghrelin ke level-level yang biasa terlihat sebelum kita makan atau saat berpuasa, menyebabkan otak untuk bertindak secara impulsif dan juga mempengaruhi kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional,” kata Karolina Skibicka dari Akademi Sahlgrenska, Universitas Gothenburg.

Tim peneliti yang dipimpin Skibicka mengeksplorasi dorongan tersebut yang bisa dibagi menjadi tindakan impulsif (ketidakmampuan untuk menahan respons motorik) dan pilihan impulsif (ketidakmampuan untuk menunda kepuasan). Dengan mempelajari tikus, para peneliti menemukan bahwa, seperti kita manusia, hewan tersebut juga sulit untuk menahan diri untuk menyantap makanan ringan meski mereka tahu makan malam akan segera dihidangkan.

Tikus-tikus tersebut dilatih untuk mengharapkan imbalan yang manis saat mereka menekan tuas go atau saat mereka bisa menahan diri untuk tidak menekan tuas lainnya yang bertuliskan no go . Tikus-tikus ini diperintahkan untuk melakukan tindakan yang mana dengan menggunakan sinyal berbentuk sinar lampu atau bunyi berdengung.

Dalam eksperimen ini, ketidakmampuan hewan-hewan itu untuk menahan diri untuk tidak menekan tuas no go menunjukkan sebuah dorongan. Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang mengirimkan ghrelin langsung ke otak (mirip dengan perut yang memberitahu kita kapan saatnya untuk makan), memiliki kecenderungan lebih besar untuk menekan tuas daripada menunggu meski mereka tahu tindakan itu akan membuat mereka kehilangan imbalan.

Kemampuan untuk menunda kepuasan demi mendapatkan imbalan yang lebih bagus kemudian adalah ukuran yang sebanding dengan pilihan impulsif. Seseorang yang memilih kepuasan yang lebih cepat daripada keuntungan jangka panjang disebut sebagai sosok yang impulsive yang menunjukkan kurangnya kemampuan dalam membuat keputusan yang rasional. Para peneliti menemukan bahwa tingkat ghrelin yang lebih tinggi membuat tikus-tikus tersebut tak mau menunggu untuk mendapatkan imbalan mereka. DAILYMAIL | A. RIJAL

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!