Tim Gabungan Gelar Operasi Alat Tangkap Terlarang Jaring Cotrok

REMBANG Redaksi.co.id Tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI Angkatan Laut, Satpol Air Polres Rembang dan Dishubkominfo, menggelar operasi alat tangkap terlarang jaring...

22 0

REMBANG Redaksi.co.id Tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI Angkatan Laut, Satpol Air Polres Rembang dan Dishubkominfo, menggelar operasi alat tangkap terlarang jaring cothok di pesisir pantai utara Jawa, Kamis (30 April 2015) . Operasi dilakuka dengan naik perahu patroli. Itu nembuat puluhan perahu sempat kabur.

Pada jarak dua mil di sebelah utara desa Pasar Banggi Rembang, petugas memergoki hampir 30 an perahu mencari ikan dengan cara menebarkan jaring cothok, sejenis pukat harimau, namun ukurannya lebih kecil.

Tapi sayang, sebagian besar nelayan langsung tancap gas, bahkan nekat memotong jaring mereka sendiri, untuk menghindari penangkapan. Hanya dua nelayan bisa diamankan. Masing masing bernama Suroso (43 tahun), warga desa Pasar Banggi dan Abdul Mukhid (48 tahun), warga desa Tri Tunggal Rembang.

Turut disita pula barang bukti dua buah perahu, 4 buah jaring cothok dan puluhan kilo gram ikan berbagai jenis. Nelayan maupun barang bukti selanjutnya dibawa ke Pos Kamla Pelabuhan Tasikagung.

Saat dimintai keterangan anggota Satpol Air Polres Rembang, salah satu nelayan, Abdul Mukhid beralasan kalau menggunakan alat tangkap lain, hasilnya tidak seberapa. Ia terpaksa memilih cothok, karena harganya murah. Selain itu lebih cepat memperoleh tangkapan, ikan ukuran besar kecil semua ikut masuk jaring.

Terkait dampak mengancam ekosistem laut, sebenarnya nelayan sudah paham. Namun berhubung desakan ekonomi, mereka tetap mengoperasikan cothok.

Pasca penangkapan, Mukhid siap menghentikan pemakaian cothok. Asalkan diganti peralatan baru yang ramah lingkungan dan hasilnya sebanding dengan pengeluaran bahan bakar minyak.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dislutkan Kab. Rembang, Syahroni menanggapi sebenarnya pemerintah telah menyalurkan bantuan kepada para nelayan, agar meninggalkan alat tangkap terlarang.

Salah satunya melalui program pengembangan usaha mina pedesan. Setiap kelompok menerima dana Rp 100 juta, untuk pengadaan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Di desa Tri Tunggal dan pasar Banggi, setidaknya sudah 15 kelompok memperoleh bantuan. Namun kenyataannya belum efektif.

Ia menghimbau, nelayan cothok beralih mencari rajungan. Bantuan alat akan diupayakan dari tingkat provinsi dan pusat. Tentu tidak serta merta, namun secara bertahap.

Setelah melalui pertemuan antara Dislutkan, aparat dan perwakilan kedua desa asal nelayan, disepakati jaring cothok disita, sedangkan pelaku dibebaskan. Tapi apabila lain hari kembali melanggar aturan, akan diteruskan ke jalur hukum. (Hasan)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!