RI Tergantung pada Produk China

redaksi.co.id - RI Tergantung pada Produk China Indonesia sangat tergantung dengan produk-produk dari China. Terbukti, nilai impor dari China mencapai US$ 42,72 miliar untuk periode Januari-April...

11 0

redaksi.co.id – RI Tergantung pada Produk China

Indonesia sangat tergantung dengan produk-produk dari China. Terbukti, nilai impor dari China mencapai US$ 42,72 miliar untuk periode Januari-April 2016. Impor terbesar adalah produk elektronik, seperti ponsel, laptop dan komputer.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, total impor empat bulan pertama tahun ini tercatat turun 13,44 persen menjadi US$ 42,72 miliar dibanding periode yang sama 2015. Impor non migas Januari-April 2016 sebesar US$ 37,47 miliar atau melorot 8,44 persen.

Lanjutnya, impor Indonesia paling besar dari negara lain adalah mesin dan peralatan mekanik US$ 6,81 miliar serta mesin dan peralatan listrik US$ 4,79 miliar di periode Januari-April 2016.

“Produk impor kita paling dominan dari China adalah ponsel, laptop dan komputer. Walaupun ada pasokan dari negara lain, seperti Vietnam dan Korea Selatan,” ujar Sasmito di Jakarta, Senin (16/5/2016).

Lebih jauh disebutkan Sasmito, impor terbesar sepanjang Januari-April berasal dari China dengan nilai US$ 9,65 miliar dan pangsa pasar 25,76 persen. Kedua ditempati Jepang dengan pasokan impor US$ 4,10 miliar atau 10,94 persen dan Thailand US$ 3,05 miliar atau 8,15 persen.

“Jadi seperempat impor kita berasal dari China. Ketergantungan kita ke China untuk konsumsi sehari-hari, barang dijual lagi dan barang modal,” Sasmito menjelaskan.

Data BPS menunjukkan, impor non migas dari negara-negara ASEAN ke Indonesia sebesar US$ 8,43 miliar dan pangsa pasar 22,49 persen. Sementara impor non migas dari Uni Eropa sebesar US$ 3,59 miliar atau 9,59 persen.

“Impor kita dengan 10 negara ASEAN saja kalah besar dengan China. Sedangkan impor non migas kita dari 25 negara Uni Eropa cuma US$ 3,59 miliar, kalah dari Jepang. Mungkin karena faktor jarak dengan negara tetangga, bikin biaya lebih murah, produksi dekat dan familiar dengan kita,” terang Sasmito.

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!