Kerupuk Jengkol Asal Serpong Tembus Pasar Jerman dan Korea

232

redaksi.co.id – Kerupuk Jengkol Asal Serpong Tembus Pasar Jerman dan Korea

Sebuah usaha kecil jika dilakoni dengan serius, bukan tak mungkin akan menjadi usaha yang besar dan menguntungkan.

Seperti halnya usaha kerupuk rumahan yang ditekuni Eti Nurhaeti (41).

Saat ini, Eti memproduksi kerupuk aneka rasa di kediamannya di Babakan Pocis RT 02/RW 02 Gang Mandor, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Setu Serpong, Tangerang Selatan.

Kerupuk yang diproduksi ada sembilan varian, yakni kerupuk jengkol, ikan, stik, dadu, pipa, mawar, kentang, pasir, dan warna warni.

Kerupuk yang dipasarkan dengan label RHR yang diambil dari singkatan nama anak pertamnya, Rifat Haidar Rahmat.

“Baru-baru ini melalui kurasi yang diadakan Disperindag, Alhamdulilah kerupuk saya lolos. Insya Allah mau dipasarkan ke Jerman dan Korea,” kata Eti kepada Wartakotalive.com baru-baru ini.

Cerita perempuan kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 1 Januari 1975 ini, usaha kerupuk yang sekarang ditekuni, melanjutkan usaha suaminya, Mamat, yang dirintis dari tahun 2000.

Dia mengungkapkan sempat jatuh bangun merintis usaha kerupuk ini. Puncaknya, sempat mengalami kejadian miris, tangan suaminya mengalami cacat, karena terkena mesin potong.

“Dari keterpurukan usaha suami saya, saya berkomitmen bangkit lagi, dari keterpurukan usaha suami saya,” ungkapnya.

Ketrampilan Eti mengolah kerupuk, awalnya dari sang suami. Lalu ia kreasikan sendiri, menjadi kerupuk aneka rasa yang sekarang ia produksi.

Aneka cita rasa kerupuk Eti tersebut ia kemas beberapa kemasan dan variasi harga. Untuk kemasan plastik aluminium foil Rp 13.000 (ukuran 200 gram), dan Rp 15.000 (ukuran 300 gram).

Selain itu, ia juga memproduksi kemasan plastik keci biasa untuk dijual di warung-warung dengan kisaran harga Rp 1.000 s/d Rp 2.000.

Saat ini, dari usaha kerupuknya, Eti meraup omzet Rp 25 juta dalam sebulan.

“Walaupun belum besar (omzet), Alhamdulillah usaha ini bisa memberikan rizki lebih dari cukup buat keluarga. Selain itu, saya juga bisa memberdayakan masyarakat sekitar, tanpa ijazah mereka bisa mempunyai penghasilan,” kata Eti yang saat ini memiliki 10 karyawan.

Untuk memasarkan kerupuk olahannya, Eti menggunakan beberapa cara, mulai, reseller, dititipkan ke toko-toko, kantin, dan juga kerap mengikuti kegiatan bazar.

Menjaga kualitas kerupuk olahannya dan membuka jaringan seluas-seluasnya menjadi kunci Eti melanggengkan usahanya itu.

“Jaga kualitas sudah pasti ya. Kalau buka jaringan seluas-seluasnya sangat penting karena dari situ akan mendapatkan banyak informasi. Misalnya, event bazar. Jadi bisa masuk untuk ikutan gabung. Itu salah satu contoh saja,” katanya memberi kiat.

Sementara, dalam menggeluti usaha kerupuknya, Eti mengaku banyak pembelajaran diri yang didapatnya.

Dia menuturkan, jika anda sedang menjalankan usaha hendaknya jangan cepat merasa bosan dan mengeluh, dan juga jangan cepat tergiur dengan usaha lainnya.

“Jika usaha anda sedang sepi pembeli bukan berarti anda harus mengganti usahanya, tetapi evaluasi lah apa yang membuatnya sepi pembeli, karena usaha yang lain juga pasti mengalami pasang surut,” katanya.

Eti mengatakan, dalam menekuni usaha pasti tidak selalu berjalan dengan mulus, pastinya dialami juga masanya sepi pembeli dan banyak permasalahan lainnya.

“Makanya dari itu tetap semangat jangan putus asa, perbaiki segala bentuk kekurangan apapun, ikhtiar doa yakin lurus menjalan segala usaha semata-mata hanya karena Allah,” katanya.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

loading...

Comments

comments!