Jejak Si Kulit Bundar di Negeri Para Petapa

168

redaksi.co.id – Jejak Si Kulit Bundar di Negeri Para Petapa

Sepak bola olahraga universal. Siapa pun gemar memainkan si kulit bundar. Tua, muda, pria, dan wanita tergila-gila padanya. Tak harus jadi pemain, menonton pertandingannya saja juga sudah bikin candu. Wajar bila olahraga sebelas lawan sebelas ini menjelma jadi industri, termasuk di Indonesia.

Miliaran rupiah digelontorkan demi membentuk klub. Pemain-pemain bintang direkrut agar lebih kompetitif. Dibalut fanatisme suporter, sepak bola pun berubah jadi tontonan yang gemerlap.

Namun jauh dari ingarbingar sepak bola Tanah Air, si kulit bundar juga menggelinding hingga ke desa Kanekes, Leuwidamar, Rangkasbitung. Desa yang mati-matian menahan gempuran modernitas. Desanya orang Baduy, para petapa yang hidup tanpa listrik dan deru mesin di kaki gunung Kendeng.

Saat malam tiba, terang dan gelap terpisah oleh gerbang ‘Selamat Datang’ di pintu masuk menuju desa Baduy. Letaknya di ujung desa Kanekes, dekat terminal Ciboleger, Leuwidamar, Rangkasbitung. Dari ibu kota Jakarta, bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Malam hari, cahaya dari lampu-lampu bertenaga listrik menerangi jalanan berbatu di depan gerbang. Namun di belakang, pemandangan berangsur pekat. Cahaya dari lampu tenaga surya temaram di beberapa rumah kayu. Keluarga berkumpul di teras menikmati santap malam seadanya.

Pria dan wanita masih terlihat hilir mudik di jalan kampung. Sosoknya terlihat samar saat terkena sinar redup dari rumah bambu, sebelum hilang ditelan pekatnya malam. Selamat Datang di Baduy!

Dalam gelap, yang terbayang mengenai Baduy adalah keterbelakangan. Suku terasing dengan 1001 satu pantangan berikut kutukan bagi yang melanggarnya. Setiap gerak seperti meraba. Bahkan untuk sekedar menyapa orang-orang yang masih terjaga. Apakah mereka masih paham bahasa Indonesia?

Namun bayangan itu seketika lenyap saat matahari bangun dari tidurnya. Di perkampungan Baduy Luar, modernisasi tampak jelas menghujam. Tidak ada lagi tatapan asing kepada para pendatang. “Mangga,” balas orang Baduy saat pejalan kaki mengucapkan kata, “Punten” di hadapan mereka.

Kesibukan tampak seperti kampung pada umumnya. Orang-orang mulai ke ladang. Ibu-ibu penenun mulai duduk di teras. Sedangkan yang menjadi porter, setia menunggu pikulan di gerbang desa.

Warung menjamur. Telepon genggam juga mudah ditemukan. Baju hitam-hitam dengan ikat kepala biru kini berbaur dengan kaus dan kemeja.

Jejak si kulit bundar mulai tersingkap dalam keseharian orang Baduy Luar. Di tali-tali jemuran warga, baju adat Baduy Luar kini bersanding dengan replika kostum berkualitas KW tim-tim elite Eropa seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal, Barcelona, hingga Real Madrid. Begitu juga di jalanan.

Lebih jauh ke tengah hutan, demam bola juga masih terasa. Anak-anak kecil riuh di tanah kosong sebelah rumah di kampung Kadujangkung. Mereka menendang bola plastik yang tak lagi bundar.

Dua gawang dari ranting pohon ditancapkan di tanah. Tanpa alas kaki. Sesekali bocah-bocah Baduy Luar tersebut tertawa geli melihat temannya yang terjatuh saat menggiring bola. Baju hitam-hitam khas Baduy juga sudah mereka tanggalkan, diganti seragam Barcelona, Chelsea, dan Arsenal.

“Di sini anak-anak kecil suka main bola. Kadang pakai bola karet atau bola plastik,” ujar salah seorang warga Baduy di Kadu Jangkung kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Demam bola ternyata jauh merasuk ke tengah hutan.

Di kampung Gazebo, salah satu pemukiman tertua bagi suku Baduy Luar, jejak si kulit bundar masih bisa ditemui. Salah satu tanah kosong di tepi sungai Ciujung menjadi bukti sulitnya membendung olahraga sebelas lawan sebelas tersebut. Sore hari, lapangan dengan gawang dari bambu ini juga ramai dipakai anak-anak Baduy bermain bola.

Lapangan alakadarnya juga sempat hadir di Keduketuk. Di sini, tak hanya anak-anak kecil yang menyepak bola. Pemuda-pemuda di sana juga tergila-gila pada si kulit bundar. Namun sekarang lapangan sudah tak ada dan kembali ke jalan berbatu. “Saya dulu pemain bola. Kami biasa bermain di sini,” kata Udil penduduk Kaduketuk yang piawai memainkan alat musik tradisional Baduy.

Udil kini tak lagi bermain bola. Usaha barunya melestarikan alat-alat musik tradisional menyita waktunya. Selain itu, Udil mulai alergi bola saat olahraga ini mulai memercikkan api perselisihan.

Menurut Mulyono, salah seorang tokoh pemuda di Baduy Luar, sepak bola memang bukan olahraga baru bagi mereka. Menurutnya, hampir tiap kampung sempat punya tim kecil-kecilan. Awalnya mereka hanya bermain di lapangan-lapangan pinggiran rumah yang ada di wilayah Baduy Luar. Namun lama kelamaan mereka pun mulai berani ke luar kampung dan melawan tim dari desa lain.

“Dulu saya dan teman-teman ikut membantu membelikan sepatu bola bagi rekan-rekan yang tidak punya. Setelah itu, kami mulai berani bertanding ke luar kampung Baduy,” kata Mulyono.

Mulsapaan akrabnyamerupakan pendiri Toe Mas. Tim yang dihuni oleh pemain-pemain Baduy. Menurut Mul, tim yang dikelola secara swadaya ini bahkan sempat menempati posisi runner up di turnamen antarkampung (tarkam). “Dulu pernah juara dua kejuaraan futsal,” kata Mulyono.

“Kami juga pernah ikut Bupati Cup hingga ke Serang,” ujarnya menambahkan.

Pengaruh Televisi

Postur orang Baduy sebenarnya tidak terlalu spesial menjadi pesepak bola. Namun untuk urusan fisik, mereka tak perlu diragukan. Orang-orang Baduy dikenal punya stamina yang luar biasa.

Pekerjaan bertani dan kebiasaan berjalan kaki naik turun gunung telah menempa kondisi fisik orang-orang Baduy. Rutinitas ini tidak lepas dari aturan adat yang melarang kendaraan bermotor masuk ke wilayah Baduy. Setiap hari baik Baduy Luar maupun Dalam selalu berjalan kaki dalam beraktivitas.

Baduy Luar masih boleh naik kendaraan bermotor saat berada di luar desa adat. Namun bagi warga Baduy Dalam yang tinggal di Cibeo, Cikesik, dan Cikertawana, hal ini sama sekali tabu dilakukan.

Ketahanan fisik benar-benar dibutuhkan di lingkungan Baduy. Sebab jalanan yang dilalui naik turun bukit. Kerap kali, rute esktrem ini mereka lalui dengan memikul beban yang tidak ringan. Latihan fisik alami ini mereka jalani setiap hari. Tak heran, orang-orang Baduy, khususnya Baduy Dalam mampu berjalan berpuluh-puluh kilometer seperti saat mengikuti upacara Seba 13-14 Mei 2016.

Demam bola yang merasuki pemuda-pemuda Baduy tak lepas dari pengaruh televisi. Meski di pemukiman mereka tidak ada listrik, warga Baduy Luar masih bisa menyaksikan pertandingan lewat tv di Kantor Kepala Desa atau warung-warung yang terletak di perbatasan desa.

Jumadi salah satunya. Sehari-hari pria yang baru menikah itu bekerja sebagai pembuat gula Aren. “Saya senang bermain bola karena melihat televisi. Saya biasa main sebagai bek sayap. Meski saya tidak bisa, saya akan bermain di posisi itu bila diminta,” ujar Jumadi.

Merintis Klub Profesional

Belakangan sepak bola di tanah Baduy tak lagi sekadar hobi. Beberapa pihak mulai berkeinginan membentuk sebuah tim yang mampu mengukir prestasi di pentas nasional dan internasional. Antiwin dibantu rekan-rekannya lalu membentuk Baduy FC yang dihuni oleh pemain-pemain Baduy.

Sebanyak 25 pemain kini bergabung dengan klub. Seluruhnya berasal dari Baduy Luar. Dengan keterbatasan yang ada, klub yang terbentuk pada 17 April 2016 ini berusaha mengejar mimpinya.

“Saat ini memang baru ada 25 pemain. Tapi menurut data yang saya dapatkan, setidaknya masih ada 60 pemain lagi yang layak untuk direkrut,” ujar Antiwin, salah seorang pendiri Baduy FC. Di kepengurusan, pria kelahiran 1977 tersebut juga menjabat sebagai ketua bidang pencari bakat.

“Ke depan kami ingin membentuk beberapa tim dalam berbagai kategori umur,” beber Antiwin.

Semangat Baduy FC dalam membentuk klub sepak bola modern bagi para pemain asli Baduy memang terbilang tinggi. Meski belum menemukan jadwal tetap, setidaknya para pemain sudah latihan minimal sekali sepekan. “Di sini masih sulit menentukan jadwal latihan rutin. Karena setiap pemain sehari-hari bekerja. Tapi kalau Jumat, biasanya mereka bisa,” kata Manajer Tim, Andi Suhud.

Menurut Andi, banyak kendala yang mereka temui dalam mengembangkan klub Baduy FC. Salah satunya terkait lapangan yang minim di sekitar pemukiman Baduy Luar. Dua lapangan yang berada tak jauh dari Desa Kanekes, sama-sama tidak memenuhi standar. Bahkan lapangan yang lebih besar kini tak bisa dipakai karena dalam tahap renovasi. Selain itu, perlengkapan latihan juga masih minim.

“Ke depan kami ingin menemui berbagai pihak termasuk Asosiasi Provinsi (Asprov) Banten, untuk mensosialisasikan kehadiran Baduy FC. Semoga bisa dapat ilmu baru dari mereka,” beber Andi.

Terbentur Adat

Bermimpi menjadi pemain profesional memang sah-sah saja. Tapi keinginan Baduy FC untuk manggung di level nasional sebenarnya bukan satu-satunya tantangan yang bakal dihadapi. Menyelaraskan sepak bola dengan adat justru menyisakan pekerjaan rumah (PR) yang lebih berat.

Ya, sampai saat ini, sepak bola di tanah Baduy masih jadi dilema. Di satu sisi, olahraga ini sangat digemari warga, tapi dilarang hukum adat. Suku Baduy Dalam bahkan tegas menolak olahraga ini.

“Olahraga? Tidak ada. Olahraga kami berbeda dengan orang kota. Olahraga kami bertani dan berkebun,” ujar Mursyid, salah seorang warga Baduy Dalam yang ditemui Liputan6.com di Ciboleger.

“Sepak bola tidak boleh,” kata Mursyid menambahkan.

Ketaatan orang Baduy terhadap hukum adat tak lepas dari kepercayaan yang mereka anut. Berbagai literatur menyebutkan bahwa kepercayaan orang Baduy dikenal sebagai Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan terhadap karuhun atau arwah dan pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). Ajaran ini membuat suku Baduy dikenal sangat bersahabat dengan alam. Mereka dilarang merusak alam dan hidup jauh dari modernisasi.

Inti kepercayaan orang-orang Baduy ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari. Ini tertuang dalam bentuk filosofi,

‘Lojor heunteu beunang dipotong, pndk heunteu beunang disambung’ atau dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti “Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung.”

Hingga saat ini, paham ini masih kental bagi suku Baduy Dalam yang mendiami tiga kampung di Kanekes, Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana. Sedangkan bagi Baduy Luar, sedikit lebih longgar.

Namun pikukuh yang dijalani Baduy Dalam ternyata sulit juga membendung si kulit bundar. Sebab anak-anak suku Baduy Dalam ternyata senang menendang benda-benda mirip bola.

“Saat masih anak-anak, saya dulu juga bermain bola. Kami bermain dengan jeruk dan paku bagedor. Namanya juga belum sepak bola, tapi balbalan,”ujar Antiwin, yang pernah hidup di Baduy Dalam.

“Namun balbalan dianggap bisa memicu perkelahian. Jadi dilarang di Baduy Dalam,”katanya.

Masyarakat Baduy Luar juga sadar kegiatan ini dilarang adat. Namun menghentikannya juga sulit. Banyak pemuda yang sudah kadung “jatuh cinta’ pada sepak bola. Sebagian bahkan terpikir ingin menjadi pesepak bola profesional. Tapi di satu sisi, mereka juga enggan melawan hukum adat.

Itu sebabnya warga Baduy Luar juga enggan menggelar pertandingan di kampungnya. Mereka memilih turun gunung untuk melampiaskan hobinya. Selepas dari lapangan, para pemain lalu kembali ke kehidupan normal yang berjalan menurut hukum adat warisan para leluhurnya.

“Jika di luar problem untuk menjadi pemain profesional hanya kualitas, di sini ada dua: Yang pertama kualitas, yang kedua hukum adat,” kata Mulyono. Bermimpi menjadi pemain bola sebenarnya sah-sah saja. Tapi anak-anak harus sadar sepak bola tidak diterima lembaga adat.

(red/ris/ahyudianto/AW)

loading...

Comments

comments!