Aplikasi Ini Bisa Pantau Binatang Sakit Seperti Gajah Yani

redaksi.co.id - Aplikasi Ini Bisa Pantau Binatang Sakit Seperti Gajah Yani Perkumpulan Peduli Satwa Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) meluncurkan aplikasi Zoo Reporting for Citizens...

6 0

redaksi.co.id – Aplikasi Ini Bisa Pantau Binatang Sakit Seperti Gajah Yani

Perkumpulan Peduli Satwa Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) meluncurkan aplikasi Zoo Reporting for Citizens Application (Zoo Recapp), 13 Mei 2016.

Organisasi tersebut mengajak pengunjung kebun binatang di Indonesia untuk melaporkan kondisi fisik dan kandang satwa dengan menjawab daftar pertanyaan di aplikasi tersebut. Tujuannya agar kasus gajah yang mati tragis di Bandung atau harimau koleksi kebun binatang Surabaya tidak terulang lagi, kata Direktur Eksekutif ISAW Kinanti Kusumawardani, Sabtu, 14 Mei 2016.

Setelah aplikasi diunduh secara gratis dari Play Store dengan telepon seluler bersistem operasi Android, Zoo Recapp punya dua pilihan bahasa, Inggris dan Indonesia. Tahap berikutnya mengisi nama pelapor dengan alamat surat elektronik, dan pilihan kebun binatang yang ingin dilaporkan. Jumlah kebun binatang yang kami dapat dari berbagai sumber ada sekitar 60-an lokasi, kata Kinanti.

Setelah dimulai, pengguna diminta memilih lagi satwa apa yang ingin dipantau. Jumlah satwanya lengkap dengan nama latin yang dikategorikan sesuai abjad, berjumlah 100 lebih. Tiap satwa memiliki 50-60 pertanyaan untuk dijawab pengguna sebagai data laporan kondisi di kandang. Misalnya secara umum, apakah satwa tampak sehat dan bebas dari adanya luka atau penyakit? Apakah lantai kandang terbuat dari lantai keras, ujar Kinanti.

Daftar pertanyaan soal kondisi satwa kebun binatang itu, mengacu pada metode penilaian terstandar Zoo Exhibit Quick Audit Process (ZEQAP) yang dirancang sebagai metode ilmiah bagi publik untuk melakukan monitoring dan penilaian kebun binatang secara berkala.

Setelah menjawab seluruh pertanyaan, secara otomatis kemudian keluar skor penilaian. Kalau kurang dari 40 artinya kebun binatang gagal, kalau lebih dari nilai 40 artinya berhasil, kata dia. Regulasi soal pemeliharaan satwa di lembaga konservasi diatur secara rinci dalam Permenhut No. 31 Tahun 2012 Tentang Lembaga Konservasi dan Peraturan Dirjen PHKA No. 9 Tahun 2011 Tentang Pedoman Etika dan Kesejahteraan Satwa di Lembaga Konservasi.

Dalam Pasal 9 Permenhut No. 31/2012 disebutkan dengan jelas bahwa ketersediaan dokter hewan dan paramedis sebagai tenaga kerja permanen merupakan salah satu kriteria yang mutlak dimiliki oleh kebun binatang. Dalam Pasal 29 peraturan yang sama juga disebutkan bahwa lembaga konservasi dilarang memperagakan satwa sakit atau menelantarkan satwa dengan cara yang tidak sesuai dengan etika dan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa.

Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berakibat dikenakannya sanksi administratif seperti pencabutan izin operasi atau penghentian layanan sementara , tegas Kinanti. Meski telah diatur dalam regulasi, namun terdapat beberapa celah yang memperlambat proses penindakan. Misalnya, sanksi baru dapat diberikan setelah kebun binatang atau lembaga konservasi diberi peringatan tertulis dari Dirjen PHKA sebanyak tiga kali berturut-turut.

Adapun peringatan tertulis itu sendiri diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan tim yang dibentuk oleh Dirjen. Hasil pemeriksaan inilah yang menjadi dasar bagi otoritas untuk memberikan sanksi administratif, namun sayangnya untuk saat ini, jangka waktu pemeriksaan kebun binatang tersebut adalah setiap 5 (lima) tahun sekali sehingga tidak mencerminkan keadaan terkini dari sebuah lembaga konservasi.

Misalnya saja, Kebun Binatang Bandung yang pada pemeriksaan terakhir berhasil mendapat Akreditasi B tahun 2011. Persoalan kepemilikan dan pengelolaan kebun binatang di Indonesia adalah masalah yang pelik sehingga terkadang menjadi sulit bagi pihak otoritas untuk mengambil tindakan, ujarnya. ANWAR SISWADI

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!