Narkoba, Upeti Seks…Ini Sisi Kelam Dunia Model

redaksi.co.id - Narkoba, Upeti Seks...Ini Sisi Kelam Dunia Model Delapan agensi model terbesar sedunia terancam diseret ke pengadilan bulan depan guna menghadapi gugatan yang mungkin akan...

8 0

redaksi.co.id – Narkoba, Upeti Seks…Ini Sisi Kelam Dunia Model

Delapan agensi model terbesar sedunia terancam diseret ke pengadilan bulan depan guna menghadapi gugatan yang mungkin akan menguak sisi lain dari keglamoran dunia para model.

Jika gugatan diterima, maka bisa saja ribuan model mendapatkan kompensasi lebih dari $100 juta atau Rp 1,36 triliun dari agensi-agensi tersebut. Cara menjalankan bisnis juga akan dirombak.

Dikutip dari Daily Mail pada Rabu (25/5/2016), sejumlah model yang ditanyai termasuk beberapa orang yang mengajukan gugatan kepada Wilhelmina Models, Wilhemina Models International, Elite, Click, MC2 Model and Talent Miami, MC2, Next dan Major Model Management.

Semua penggugat membeberkan pengalaman mereka dalam dunia yang ternyata lazim dipenuhi dengan pelecehan seksual, tekanan untuk melakukan bedah kosmetik, kelainan makan, dan penyalahgunaan narkoba.

Namun demikian, dasar gugatan sebenarnya membidik kebiasaan agensi menelikung peraturan ketenagakerjaan. Misalnya klaim ribuan dolar yang diambil dari pembayaran para model untuk rupa-rupa ‘pengeluaran’, biaya sewa yang keterlaluan untuk apartemen, pembayaran dan denda telat bayar untuk pinjaman pengeluaran sehingga para gadis yang paling sukses malah berutang dan bergantung kepada agensi mereka.

Kasus ini mati-matian dipertahankan oleh industri permodelan yang mengatakan bahwa hal ini dapat menghancurleburkan mereka dan bahwa gugatan yang diajukan sebetulnya tidak berdasar.

Menurut pihak agensi, para modelmendapat bagian yang adil dan tuduhan kecerobohan finansial adalah seluruhnya tidak benar.

Awal Gugatan

Kasus ini bermula ketika Louisa Rake, yang memulai karir sejak masih sekolah menengah, mengamati bahwa mukanya terpampang pada kotak pewarna rambut merek LOreal di apotek CVS. Padahal, ia tidak pernah dibayar untuk itu.

“Aku sedang bersama seorang teman yang adalah seorang pengacara. Jadi kami mempertanyakan itu. Agensiku mengaku tidak bisa menemukanku. Menurutku, itu mustahil,” katanya kepada Daily Mail Online.

Gambarnya diberi lisensi ulang untuk dipakai di sejumlah wilayah. Hal ini terjadi juga pada sejumlah model lain. Kata Louisa, “Aku menghubungi teman-teman lain dan mereka bilang, ‘Ayo kita urus ini’.”

Seorang pengacara New York bernama Christopher Kercher kemudian mengambil kasus itu.

“Kami menyadari bahwa hal ini lebih dari sekedar sejumlah agensi yang menahan pembayaran. Ini adalah tentang cara bisnisnya secara keseluruhan,” kata sang pengacara.

Kembali kepada Raske. Wanita itu sekarang berusia 35 tahun dan tinggal di Miami (negara bagian Florida). Ia ‘ditemukan’ ketika masih di sekolah menengah.

“Awalnya, yang terpikirkan hanyalah betapa hebatnya menjadi seorang model. Ketika orang berusia 14 atau 15 tahun, ia tidak berpikir dua kali soal uang,” kata dia.

“Benar-benar mangsa empuk, lagipula banyak gadis di sana yang datang dari Eropa atau Rusia, dan tidak bisa bahasa Inggris.”

Di Amerika Serikat, agensi mendapat komisi sebesar 20% untuk setiap pembayaran kepada sang model. Lalu ada tambahan 20% dari klien untuk biaya pencari model. Misalnya, dalam pembayaran US$1000 untuk model, sang model hanya mendapat US$800 sedangkan agensi mendapat US$400 — komisi US$200 ditambah dengan biaya pencarian US$200.

Lalu ada lagi potongan-potongan biaya, terutama untuk perumahan. Raske tinggal di apartemen para model ketika ia pindah ke Miami setelah tandatangan kontrak dengan Next.

Katanya, “Ada 8 hingga 10 orang model dan masing-masing diminta membayar US$1.200 hingga US$1.500 tiap bulan, antara Rp 16,4 dan Rp 20,5 juta. Padahal mungkin mereka hanya membayar $3.500 tiap bulan untuk sewa apartemen itu.”

“Ada apartemen dengan satu atau dua kamar, dan banyak ranjang bertingkat. Tidak glamor, dan tidak selalu bersih, orang mulai saling mencuri, para gadis mulai bertengkar.”

Masalah yang Meluas

Menurut seorang model bernama Rachel Blais, persoalan itu tidak hanya terjadi pada agensi-agensi yang namanya ada dalam daftar gugatan.

Blais (30), masih berusia 14 tahun ketika ‘ditemukan’ di Montreal, kota tempat asalnya. Ia ditarik oleh agensi Folio di Kanada dan telah bekerja di Milan, Tokyo, Paris, New York, dan London, melalui sejumlah agensi besar.

Ia menjadi seorang konsultan untuk film dokumenter Girl Model tahun 2011. Film itu menjadi pengungkapan keinginan untuk dan perawatan atas para gadis sangat belia dalam industri. Sejak itu, ia menjadi pembela bagi para model muda.

Katanya, “Di New York, kami memiliki apartemen dua kamar di kawasan East Village. Bangunannya bagus dan ada hingga 11 gadis tinggal di dua kamar padahal terletak di rubanah.”

“Aku ditagih US$2.000 tiap bulan. Aku tidak perlu terlalu cerdas bahwa mereka mengambil untung di belakangku. Ditambah lagi dengan pengeluaran-pengeluaran edan.”

“Beberapa agensi menagih tiap triwulan atau tiap 6 bulan kalau kita terpampang di situs web, dan seenaknya menagih US$400 untuk setiap gadis.”

Walaupun menjadi model reguler, Blais terkenang pernah hidup hanya dengan US$75 (Rp 1 juta) tiap minggu, suatu jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran kota NewYork. Katanya, “Aku punya pelatih pribadi yang merupakan pengeluaran tambahan karena aku ‘terlalu gemuk’. Tinggiku 177 cm dan memakai ukuran 6.”

“Ketika berusia 19 tahun, agensiku meminta aku melakukan sedot lemak. Itu juga cara mereka menjerumuskan ke dalam lembah hutang. Mereka membayarkannya, tapi mereka menjadi pemilik para gadis itu.”

“Ketika aku bilang tidak mau melakukan sedot lemak, mereka bilang mereka sudah membuat daftar pendek sejumlah jurufoto untuk ‘nongkrong’ dan tidur bersama.”

Bagi Blais, penjerumusan dari eksploitasi finansial ke seksual sungguh nyata. Ia menjelaskan, “Aku pernah ke berbagai klub di New York dan melihat para supermodel berpesta degan agen-agen mereka, tapi aku juga sudah menyaksikan para gadis bergumul dan lihatlah apa yang akhirnya mereka lakukan.”

“Ada budaya yang membiasakan penggunaan tubuh untuk mendapatkan uang. Misalnya dengan menjadi seorangescort atau apalah sebutannya.”

“Aku tidak tahu ada gadis yang belum pernah dibilangi bahwa ia akan menjadi supermodel berikutnya, ia akan meraup banyak uang. Hal ini menciptakan harapan besar, padahal ia masih muda. Sehingga ia terus saja melakukannya dan tetap berharap, sehingga akhirnya dieksploitasi.”

Bukan Pertama Kali

Gugatan hukum kali ini bukanlah untuk pertama kalinya model-model menyeret para agensinya.

Pada 2002, enam model dari California mengajukan gugatan antitrust terhadap 8 agensi utama, yaitu Elite Models Inc., Ford Models Inc., Wilhelmina Model Agency Inc., dan 5 agensi lain yang berkedudukan di New York.

Menurut pengacara Andrew Hayes yang mewakili para model, “Klaimnya adalah bahwa para agensi telah setuju di tahun 1970-an, bahwa semua klaim dikecualikan dari peraturan negara bagian New York yang membatasi komisi hanya 10% untuk pemesanan model.”

“Dasar pengecualian adalah karena agensi-agensi ini merupakan ‘manajer pribadi’ dan bukan agen pemesanan. Ini kacau, karena pengecualian untuk ‘manajer pribadi’ hanya berlaku untuk para manajer yang secara insidentil terlibat dalam memastikan pemesanan bagi klien mereka.”

Lorelei Shellist (57) adalah salah satu model yang menggugat. Ia sekarang adalah seorang perancang busana, penulis, dan pelatih pemberdayaan yang tinggal di kota Los Angeles.

Katanya, “Aku tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan uang sepeserpun karena statuta pembatasan telah lewat. Tapi aku tidak peduli, karena aku melakukan ini bukan demi uang.”

“Aku melakukan ini karena aku ingin mendampingi orang-orang baru, karena mereka menggasak ke kiri dan kanan, mereka menagih pengeluaran tambahan dan menagih berlebihan para gadis hanya karena berada dalam daftar dan tagihan-tagihan lain. Tidak ada yang mengawasi.”

Katanya, “Kalau ada yang mengajukan pertanyaan, ia dianggap sebagai masalah dan digiring ke pintu ke luar.” Ia terkenang begini,”Aku dulu tinggal di apartemen di luar kota Paris, milik John Casablancas.” John Casablancas adalah pendiri agensi Elite.

“Kami berlima dalam apartemen itu dan saya ingat ia datang bersama dengan seorang remaja putri Swedia berusia 15 tahun, lalu bersama masuk kamar dan John baru keluar 1 jam kemudian. Setelah itu, sang remaja bekerja sangat giat.”

“Itulah upetinya. Itulah bagian dari eksploitasi. Gadis-gadis yang lancar-lancar saja jalan bareng dengan para agen dan para jurufoto.”

Pemotongan Pembayaran

Carolyn Fears (46) juga ikut serta dalam gugatan tahun 2002 itu. Wanita yang lahir di Illinois itu masih berusia 19 tahun ketika menandatangani kontrak dengan Ford dan kemudian pindah ke kota New York.

Katanya, “Aku tidak sadar betapa busuknya hingga datang pembayaran pertamaku. Ada pengurangan sebesar $1.500 (Rp 20,5 juta). Aku mendatangi dan bertanya, ‘Aku penasaran, ini untuk apa, ya?'”

“Aku tidak mengetahui Eileen Ford berdiri di belakangku. Katanya ‘Dengarlah, anak bau kencur. Aku tidak melihat kamu di sampul majalah Vogue.’ Aku ketakutan kalau-kalau ia memecatku.”

Fears belakangan mengetahui bahwa itu adalah biaya karena telah ada dalam daftar catatan Ford. Katanya, “Terdengar seperti pengeluaran yang sah, tapi jika ada 100 model dalam daftar dan masing-masing membayar $1.500, berapakah sebenarnya biaya daftar itu?”

“Ketika suatu saat aku meminta tanda terima, mereka bilang tidak mungkin. Tidak pernah terlihat tanda pembayarannya dan aku tidak pernah melihat satupun kontrak yang menunjukkan berapa yang sebenarnya dibayarkan oleh klien.”

Pada akhirnya, agensi-agensi itu sepakat. Andrew Hayes mengatakan, “Secara keseluruhan, ditetapkanlah dana yang disepakati senilai lebih dari $20 juta (Rp 273 miliar). Ribuan model mengajukan klaim dan setiap model mendapatkan 100% dari jumlah klaim yang diijinkan.”

Menurutnya, ada juga amaran yang “mensyaratkan transparansi yang lebih oleh para agensi dalam melakukan negosiasi kontrak dengan pada model, khususnya mengatakan kepada mereka bahwa angka komisi bisa ditawar, dan mensyaratkan agensi memberikan dokumentasi pengeluaran dan biaya lain yang akan muncul dalam tagihan sang model.”

Jika pengalaman para model yang menggugat sekarang ini menjadi pertanda tentang praktik-praktik dalam industri tersebut, maka amaran pengadilan itu memiliki dampak yang kecil.

Kata Andrew Hayes, “Biaya litigasi memiliki dampak meluputkan sejumlah pentolan lama. John Casablancas (meninggal 2012) menjual agensinya kepada Eddie Trump (tidak terkait dengan Donald Trump) dan keluarga Ford juga telah menjual agensinya.”

“Sudah lebih dari 10 tahun dan mungkin tidak mengherankan ada beberapa kemunduran serius.”

Lorelei Shellist menjelaskan “kemunduran” itu sebagai suatu “tamparan di wajah.”

Perlawanan Balik

Walaupun begitu, kalangan industri model berjuang mati-matian melawan kasus ini. Joey Hunter, mantan peresiden dan rekanan Ford, tidak banyak bersimpati pada para model maupun gugatannya. Ia juga adalah mantan seorang model di agensi tersebut.

Dalam pembelaan gagahnya untuk agensi-agensi besar, ia menepis gambaran penyesahan sistematik sebagaimana yang disampaikan oleh para model, baik dalam gugatan yang sedang akan diajukan maupun yang telah disepakati Ford pada 2002.

Katanya, “Mereka harusnya fokus pada para penipu yang ada, bukan pada agensi-agensi yang sah. Kami memberikan cetakan catatan bersamaan dengan setiap cek pembayaran. Orang bisa ke kantor akunting dan meminta cetakan akun masing-masing.”

“Kami memberi kesempatan kepada mereka. Menurut kami, mereka akan bekerja. Kami gelontorkan uang di muka. Banyak gadis yang tidak membayar kembali hutang mereka. Tidak ada yang menggugat mereka. Kamilah yang menanggungnya.”

Robert Hantman, pengacara untuk agensi MC2, mengatakan bahwa gugatan yang baru itu tidak ada isinya. Katanya, “Kami memiliki bukti bahwa para model dibayar pada waktunya dan setiap pengeluaran yang dipotongkan adalah masuk akal.”

“Secara finansial, gugatan ini akan mengguncang industri model. Model itu dibina, bukan terlahir demikian. Mereka dikembangkan dan ketika telah berkembang, mereka tidak menghasilkan.”

“Padahal agensi membayarkan di muka untuk apartemen, foto-foto kepala, transportasi, dan mencoba memberi subsidi kepada mereka hingga mereka akhirnya bisa menghasilkan uang.”

“Kasus ini tidak masuk akal, kurang logis, dan menjerumuskan kepada hasil yang dapat menghancurkan industri model di New York. Aneh.” Ia menambahkan, “Saya katakan bahwa MC2 tidak akan pernah mengeluarkan sepeserpun dan jika tidak dibatalkan, maka kami akan bertarung hingga kesimpulan kasusnya.”

Artikel Menarik Lainnya:

Samuel Zylgwyn Ogah Undang Gracia Indri

Raffi Ahmad Tanggapi ‘Sumpah’ Ayu Ting Ting

Susno Mau Jadi Gubernur

Muncul Polisi Tukang Tambal Ban

Isi Lengkap Perppu Kebiri

(red/ovi/riawan/NT)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!