Kisah Tak Terduga di Balik Dongeng 'Alice in Wonderland'

545

redaksi.co.id – Kisah Tak Terduga di Balik Dongeng 'Alice in Wonderland'

Alice’s Adventure in Wonderland merupakan salah satu kisah terpopuler pengantar tidur anak. Namun siapa sangka dongeng itu mengandung perumpamaan tersembunyi dari hal-hal lain yang jauh lebih ruwet bagi pikiran anak-anak?

Diduga terdapat serangkaian kisah yang mengarah pada seks, narkoba, kolonialisme bahkan gangguan makan dalam dongeng anak itu.

Dikutip dari BBC pada Rabu (1/6/2016), karya Lewis Carroll yang masih terus dicetak hingga kini itu berisi dongengtentang kue ajaib dan pintu-pintu rahasia, kucing yang menyeringai, dan kura-kura yang bernyanyi.

Dalam satu abad terakhir, kisah itu mengilhami sejumlah film, lukisan, tarian balet, dan permainan komputer. Bahkan ada nama penyakit syaraf yang menggunakan namanya. Lebih dari semua itu, yang paling mencengangkan adalah cerita-cerita alternatifnya.

Mulai dari cendekiawan hingga blogger, beberapa dari mereka melihat dongeng ini sebagai kiasan tentang budaya narkoba, perumpamaan tentang kolonisasi Inggris, dan cerita seorang wanita yang cemburu kepada kaum pria karena pria memiliki penis(suatu keadaan kejiwaan yang dikenal dengan istilah ‘penisenvy’).

Pada masa awalnya yang sederhana, buku itu sekadar merupakan hiburan bagi seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Alice Liddell dan saudara-saudara perempuannya ketika mereka sedang berlayar di Sungai Thames, London, bersama dengan Charles Dodgson.

Alice mengusulkan Dodgson untuk menuliskan ceritanya, dan Dodgson kemudian membukukannya menggunakan nama samaran Lewis Carroll.

Alice adalah seorang putri dekan di Christ Church, salah satu kolese di Oxford. Sedangkan Dodgson adalah seorang dosen matematika. Nah, Alice bukanlah satu-satunya gadis kecil yang akrab dengan sang pengajar.

Menurut pemikiran Abad ke-21, ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan demikian. Memang tidak ada bukti tentang sesuatu yang tercela dalam hubungan Alice dengan Dodgson.

Tapi sulit untuk tidak mencurigai seorang pria berumur yang gembira ketika teman-teman kecilnya duduk di pangkuannya untuk pose foto bersama, bahkan dengan pakaian yang tidak lengkap.

Dengan meredupnya basa-basi gaya Victoria bersamaan dengan kelahiran teori psikoanalisa, kisah Alice’s Adventures in Wonderland semakin dipertanyakan.

Ketika naskahnya ditelaah ulang, para kritikus mengungkapkan banyaknya penggambaran terkait dengan ginekologi, mulai dari lubang kelinci hingga tirai yang harus disingkapkan oleh Alice.

Lubang dan anak kunci ditafsirkan sebagai persenggamaan dan sang ulat adalah perumpamaan untuk alat kelamin pria. Sejumlah pihak pun menduga naskah itu menceritakan tentang kecemburuan kepada penis lelaki dan menafsirkan melarnya leher Alice sebagai cerita tentang ereksi.

Lalu, Alice harus mengipas-ngipas supaya dirinya kembali menciut, disusul dengan air matanya yang asin dan menggenang hingga ke dagunya ketika ia menciut terlalu kecil, hanya setinggi 2,5 cm. Nah, ada saja yang membacanya sebagai kiasan yang diperindah tentang masturbasi.

Menerawang jauh

Pembacaan dengan nuansa lain memandang kisah Alice bukan semata tentang seks, tapi lebih tentang pertumbuhan seorang anak perempuan. Mulai dari masa kanak-kanak, menuju masa pubertas, hingga menjadi dewasa.

Alice merasa tidak nyaman berada dalam tubuhnya sendiri karena melewati sejumlah perubahan ekstrem. Ia merasa terombang-ambing sehingga tidak yakin dengan jati dirinya sendiri.

Ia melawan otoritas dan bersusah payah mencoba mengerti aturan, permainan yang dilakukan oleh sekitarnya, dan bahkan kematian.

Lalu, kisah Alice dilanjutkan dengan keberadaan seekor ulat yang sedang menghisap hookah (hisapan uap tembakau) sambil duduk di atas jamur. Sejak tahun 1960-an, para pencinta narkoba menafsirkan ini sebagai keadaan teler berat.

Lagu White Rabbit gubahan Jefferson Airplane seakan menegaskan tafsiran ini, Remember what the Dormouse said / Feed your head, feed your head.

Ada getar-getar psikedelik bahkan sejak pembukaan lagunya, lalu ditambah lagi dengan sang kucing, Cheshire Cat, yang melompat ke sana ke mari.

Salah satu penulis favorit Dodgson adalah Thomas De Quincey, seorang anggota “Confessions of an English Opium Eater”. Dodgson memang mencoba-coba obat homeopati pencegah pilek, tapi tidak ada bukti bahwa ia pernah bermain-main dengan narkoba.

Namun demikian, terus saja kisah ini dikait-kaitkan dengan narkoba, seperti dalam kalimat The Matrix berikut ini, “Kalau kamu menelan pil biru, usailah kisahnya, kamu terbangun di ranjang dan mempercayai apapun yang kamu ingin percaya.”

“Kalau kamu menelan pil merah, kamu tetap berada di Wonderland, dan saya akan menunjukkan kepadamu betapa dalamnya lubang sarang kelinci itu.”

Tentang kubis dan raja-raja

Tapi tidak semuanya soal seks dan narkoba. Satu aliran kritik lainnya memandang Alice sebagai kiasan politis. Ketika satu tokoh melompat melampaui lompatan White Rabbit, ia tiba di tempat yang serba aneh dan diperintah oleh seorang ratu yang gampang marah.

Dodgson diketahui memiliki pandangan campur aduk tentang Ratu Victoria, walaupun sang Ratu sangat menyenangi bukunya. Tempat aneh itu pun memiliki sistem hukum yang kacau-balau, mirip dengan Inggris pada masa Victoria.

Lalu, apa tindakan Alice di negeri antah berantah itu? Karena tidak suka dengan cara penduduk pribumi melakukan segala sesuatu, ia mencoba memaksakan nilai-nilainya sendiri sehingga menjadi bencana. Apakah novel ini kemudian bisa dipandang sebagai kiasan tentang kolonisasi?

Kemudian ada juga pertanyaan dari tokoh-tokoh The Walrus dan Carpenter dalam bentuk puisi untuk Alice sebagaimana yang dibawakan oleh Tweedledum dan Tweedledee.

Menurut sejumlah tafsiran, tukang kayu (carpenter) itu adalah Yesus dan walrus itu adalah Petrus. Kerang-kerang yang lainnya adalah para murid Yesus.

Pihak lain bersikeras bahwa itu adalah kiasan tentang suatu kekaisaran, sehingga walrus dan tukang kayu itu menggambarkan Inggris, sedangkan tiram-tiram adalah jajahan-jajahannya.

Bahkan J.B. Priestley, seorang penulis dan novelis Inggris terkemuka, turut bersuara. Menurutnya, walrus dan tukang kayu itu adalah kiasan tentang dua jenis politisi.

Penggunaan teori-teori liar dan singit oleh generasi-generasi berikutnya tentang arti ‘sesungguhnya’ kisah Alice ini adalah upaya agar mengerti bagaimana perubahan patokan-patokan sosial dapat mengubah suatu naskah secara radikal.

Tentu saja hal ini sekaligus menjadi kesaksian tentang hakekat dongeng yang tidak terbelenggu pada masa tertentu sehingga setiap era dapat membaca kisah tentang dirinya sendiri dan asyik terbenam dalam dongengnya.

Perdebatan tentang dongeng itu berlanjut. Dalam kisah lain, Alice disebut adalah perumpamaan tentang gangguan makan, kisah amaran tentang aljabar simbolis model baru, dan bahkan satir untuk Perang Mawar (perang antar raja-raja kecil di Inggris pada masa lalu). Dengan begitu banyaknya teori, kita pun jadi kebingungan seperti Alice.

Charles Dodgson berkarier sebagai pengajar matematika, jadi jangan heran kalau cerita-ceritanya ditaburi dengan perumpamaan aritmatika dan geometri. Alice ditantang memecahkan rangkaian teka-teki mulai dari yang diajukan oleh Mad Hatter hingga permainan kriket Inggris. Walaupun sangat ingin dijawabnya, teka-teki itu ternyata tidak berguna dan tidak ada jawabannya.

Dodgson adalah seorang yang logis, tapi Wonderland adalah dunia yang marak dengan hal-hal tidak logis. Dan mungkin itulah pesan utama gubahannya, yaitu bahwa dunia adalah tempat yang edan sehingga suatu pengharapan kerap membuat frustrasi.

Daripada susah-susah mencoba mencari arti, nikmati saja perjalanannya.

(red/hmad/yaiku/AS)

loading...

Comments

comments!