Menengok Manuskrip Kuno Perpustakaan Nasional

redaksi.co.id - Menengok Manuskrip Kuno Perpustakaan Nasional Ruangan di lantai lima perpustakaan nasional terlihat sepi saat Tempo berkunjung. Tidak ada satupun pegunjung di lantai bagian manuskrip...

33 0

redaksi.co.id – Menengok Manuskrip Kuno Perpustakaan Nasional

Ruangan di lantai lima perpustakaan nasional terlihat sepi saat Tempo berkunjung. Tidak ada satupun pegunjung di lantai bagian manuskrip kuno itu.

“Biasanya ada peneliti dari dalam dan luar negeri datang meneliti manuskrip kuno kami,” kata Ketua Kelompok Naskah Kuno Perpustakaan Nasional, Sanwani Sanusi kepada Tempo Rabu 1 Juni 2016.

Ketika mencari bahan bacaan, termasuk manuskrip kuno di perpustakaan utama Indonesia itu, pembaca sebelumnya perlu mengambil katalog di lantai dua dan pergi ke lantai yang diinginkan untuk meminta bahan bacaan yang diinginkan.

Di lantai 5 terlihat pajangan manuskrip kuno yang bisa dilihat pengunjung dari lemari kaca. “Ini duplikatnya, aslinya ada kami simpan,” kata Sanwani menunjuk sekitar 10 buah manuskrip yang sudah terlihat kekuningan.

Sanwani mengatakan naskah asli biasanya lebih rapuh dibandingkan salinannya yang dipajang itu. Manuskrip asli juga biasanya lebih banyak coretan dibandingkan duplikatnya.

Maklum, sang penulis manuskrip sepertinya harus mengubah buah pikirnya dibanding si penyalin yang langsung bisa menyalin ide itu. 10 manuskrip yang terpajang ini mewakili 11 ribuan manuskrip yang dikoleksi perpustakaan nasional. Rata-rata umur manuskrip itu 100 tahun lebih.

Bahan dasar pembuatan manuskrip ini pun beragam. Ada yang berdasar kulit kayu, bambu, daun lontar, serta kertas. Cara penulisan orang pada zaman dulu di media mereka pun beragam.

Ada yang menggunakan getah bagi lembaran kulit kayu, daun lontar. Ada pula alat tulis tajam yang digunakanuntuk mengkerik bambu yang menjadi bahan dasar tulisan itu.

Pada media bambu, sang penulis mengukir tulisan, lalu melumuri hasil ukirannya dengan minyak kemiri yang membuatnya menghitam. “Lalu, dibersihkan dengan lap lembut, sehingga minyak kemiri akan tersisa di bagian dalam bambu yang sudah dikerik,” katanya.

Selain media yang beragam, model tulisan pada manuskrip kuno itu pun beragam. Ada yang menggunakan huruf Arab gundul, ada pula aksara Jawa, aksara Batak, huruf bugis, serta aksara Jawi.

Menurut Sanwasi, Aksara Jawi adalah tulisan yang berhuruf Arab, namun bacaannya adalah bahasa melayu. Orang akan berpikir para peneliti yang memperdalam manuskrip kuno hanya ingin meneliti umur manuskrip.

Padahal, kata Sanwasi,ada ilmu saat ini yang masih relevan dalam mengartikan tulisan para peneliti kuno. “Mereka banyak meneliti tentang khasiat obat obat herbal zaman dulu,” kata Sanwani.

Menurutnya, para peneliti yang datang mencari sumber informasi tentang obat obatan herbal yang pernah digunakan masyarakat dulu. Selainmencari tahu khasiatn obat, peneliti pun biasanya akan meriset pesan yang tercantum pada manuskrip kuno.

Peneliti akan memperdalam stuasi politik ratusan tahun lalu. Sanwani menjelaskan, sebagai negara kerajaan, Indonesia suka berkirim surat kepada Rafles.

Surat-surat itulah yang menjadi sumber informasi politik para sejarawan. Naskah kuno pepustakaan nasional awalnya adalah koleksi milik salah seorang kolektor berwarga negara Belanda.

Warga Belanda ini mengumpulkan naskah kuno ini disimpannya di sebuah deposit. Tidak semua koleksi orang Belanda itu yang diberikan disimpan di Indonesia.

Saat Indonesia masih dijajah Belanda, beberapa naskah kuno itu pun dibawa pemerintah Belanda ke negaranya. Saat Indonesia merdeka, maka naskah kuno yang ada di Indonesia pun beralih kepemilikan menjadi milik pemerintah Indonesia, sedangkan yang ada di Belanda milik pemerintah Belanda.

“Saat serah terima naskah kuno yang kita miliki hanya 9 ribuan. Namun kami mengumpulkannya dari para kolektor yang masih ada hingga berjumlah 11 ribuan saat ini,” kata pria ini.

Tentu ada perawatan khusus yang perlu dilakukan untuk menjaga agar barang berharga itu bisa tetap lestari saat dilihat oleh anak cucu nanti. Sanwani mengatakan pihaknya menjaga naskah yang sudah menguning itu di ruangan berudara 18 derajat selsius.

Agar tidak lembab, ruangan khusus itu pun diberikan alat pengering ruangan sehingga suhu stabil namun tetap kering. Kapur barus pun ditaburkan untuk menjaga keawetannya.

Terakhir, sekali dalam dua tahun, ruangan itu akan dibuat tertutup dengan menutup semua lubang udara, dan disemprotkan obat anti serangga dan rayap. “Selama dua hari ruangan yang sudah disemprot itu didiamkan sebelum dibuka kembali,” katanya. MITRA TARIGAN

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!