Iklan Kondom Distop, Apa yang Dikhawatirkan Negara Ini?

redaksi.co.id - Iklan Kondom Distop, Apa yang Dikhawatirkan Negara Ini? Pemerintah Pakistan lewat Pakistan Electronic Media Regulatory Authority (PEMRA) melarang seluruh jenis iklan kontrasepsi ditayangkan di...

47 0

redaksi.co.id – Iklan Kondom Distop, Apa yang Dikhawatirkan Negara Ini?

Pemerintah Pakistan lewat Pakistan Electronic Media Regulatory Authority (PEMRA) melarang seluruh jenis iklan kontrasepsi ditayangkan di media. Larangan ini menyusul pengaduan masyarakat bahwa iklan itu secara tak langsung memancing rasa penasaran anak-anak yang belum tahu apa-apa.

Secara sosial, Pakistan adalah negara konservatif. Iklan sejenis itu jarang ditemui di sana. Bahkan tahun lalu, iklan khusus kondom Josh dilarang dan dianggap sebagai iklan yang tidak bermoral. Pakistan negara keenam yang terpadat penduduknya di dunia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), negara itu juga memiliki tingkat akses kontrol kelahiran yang rendah dari rata-rata daerah lainnya. PEMRA menyebutkan larangan iklan itu sebagai upaya mengendalikan tingkat kelahiran anak di Pakistan.

Tak hanya kontrasepsi, Pakistan melarang seluruh jenis iklan yang memuat konten kontrol kelahiran dan keluarga berencana. “Masyarakat umum sangat khawatir tentang paparan produk itu bagi anak-anak tak berdosa yang penasaran tentang fitur dan penggunaan produk,” kata PEMRA dalam pernyataan resminya.

Larangan itu terjadi sebagai upaya Pemerintah Pakistan untuk mendorong pengendalian kelahiran di Pakistan, negara muslim konservatif dari 190 juta orang penduduknya. Pembicaraan tentang seks di depan umum adalah hal yang tabu. Departemen kesejahteraan penduduk secara teratur menjalankan kampanye mendidik warga tentang manfaat berbagai bentuk kontrol kelahiran.

Sementara itu, iklan untuk alat-alat kontrasepsi dan bentuk lain dari media kontrol kelahiran jarang terjadi di Pakistan. Bahkan, penggunaan alat kontrasepsi di Pakistan semakin rendah dan turun sekitar 7,2 persen dari tahun lalu. BBC.COM | ABC.NET | LARISSA HUDA

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!