Astronom: Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat dari Perkiraan

85

redaksi.co.id – Astronom: Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat dari Perkiraan

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa alam semesta berkembang 5-9 persen lebih cepat dari perkiraan para astronom. “Temuan mengejutkan ini mungkin merupakan petunjuk penting untuk memahami bagian-bagian misterius alam semesta yang membentuk 95 persen dari segala sesuatu dan tidak memancarkan cahaya, seperti energi gelap, materi gelap dan radiasi gelap,” kata pemimpin studi, Adam Riess, astrofisikawan di Space Telescope Science Institute dan Johns Hopkins University di Baltimore, sebagaimana dikutip Space , Kamis, 2 Juni 2016.

Riess – yang berbagi Hadiah Nobel 2011 dalam fisika untuk penemuan ‘ekspansi alam semesta mengalami percepatan’ – dan rekan-rekannya menggunakan Teleskop Hubble milik NASA untuk mempelajari 2.400 bintang Cepheid dan 300 supernova. Dua jenis “tolok ukur kosmik” yang berbeda memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur jarak di alam semesta. Tolok ukur itu adalah denyut Cepheids yang terkait dengan kecerahan aslinya, dan supernova Tipe Ia, ledakan kuat yang menandai kematian bintang-bintang besar.

Penelitian ini memungkinkan tim untuk menentukan jarak ke 300 supernova, yang terletak di sejumlah galaksi yang berbeda. Kemudian, para peneliti membandingkan angka-angka itu terhadap perluasan alam semesta, yang dihitung dengan mengukur bagaimana cahaya dari galaksi membentang ketika bergerak menjauh dari Bumi, untuk menentukan seberapa cepat alam semesta berkembang .

Nilainya dikenal sebagai konstanta Hubble, mengambil nama astronom Amerika Edwin Hubble. Nilai konstanta Hubble baru itu adalah 45,5 mil (73,2 kilometer) per detik per megaparsec. (Satu megaparsec setara dengan 3,26 juta tahun cahaya.)

Oleh karena itu, jarak antara objek kosmik seharusnya dua kali 9,8 miliar tahun dari sekarang, kata para peneliti. Angka baru itu 5 sampai 9 persen lebih tinggi dari perkiraan konstanta Hubble sebelumnya, yang mengandalkan pengukuran radiasi latar belakang gelombang mikro, yang merupakan cahaya yang tersisa dari Big Bang yang menciptakan alam semesta 13,8 miliar tahun yang lalu.

“Ada beberapa kemungkinan penjelasan untuk perbedaan ini,” kata anggota tim studi. Pertama, kekuatan misterius yang dikenal sebagai energi gelap, yang diduga berada di balik ekspansi cepat alam semesta, mungkin lebih kuat dari perkiraan para astronom. Ada juga kemungkinan bahwa “radiasi gelap” partikel subatomik sangat cepat yang tidak diketahui, yang ada tak lama setelah Big Bang – bisa memainkan peran yang belum diperhitungkan,” kata para peneliti.

Materi gelap misterius, yang diduga empat kali lebih banyak daripada materi “normal” di seluruh alam semesta, juga bisa memiliki beberapa karakteristik yang aneh dan tidak diketahui. “Atau mungkin ada sesuatu yang penting yang hilang dari teori gravitasi Einstein,” kata para peneliti.

Singkatnya, ada banyak pekerjaan yang tersisa untuk dilakukan sebelum para astronom dapat sepenuhnya mengetahui makna dari hasil baru ini. Studi baru ini telah diterima untuk publikasi dalam The Astrophysical Journal . SPACE | ERWIN Z

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!