KM Bukit Raya Kandas di Muara Jungkat, Penumpang Menumpuk di Pelabuhan Pontianak

redaksi.co.id - KM Bukit Raya Kandas di Muara Jungkat, Penumpang Menumpuk di Pelabuhan Pontianak Akibat kandasnya KM Bukit Raya di Muara Jungkat, sejak Jumat (4/6/2016), calon...

32 0

redaksi.co.id – KM Bukit Raya Kandas di Muara Jungkat, Penumpang Menumpuk di Pelabuhan Pontianak

Akibat kandasnya KM Bukit Raya di Muara Jungkat, sejak Jumat (4/6/2016), calon penumpang menumpuk di Pelabuhan Pontianak.

Sebagian besar merupakan warga Kepulauan Riau, usai berbelanja di Pontianak, sehingga terpaksa menginap di ruang tunggu.

Satu di antara penumpang, Zainun mengatakan, dirinya sudah tiga hari tiga malam berada di pelabuhan. Bersama penumpang lain, mereka duduk dan tidur di sela-sela kursi.

Zainun mengatakan, dia ke Pontianak untuk berbelanja kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri. Setelah belanja, dia berencana pulang pada Jumat menumpang KM Bukit Raya.

“Harusnya berangkat Jumat. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Sampai sekarang kita belum mendapat kepastian,” katanya saat ditemui di pelabuhan, Minggu (4/6/2016) malam.

Zainun mengaku sudah menanyakan masalah tersebut ke pihak Pelni. Namun dia tidak mendapat jawaban pasti. Justru petugas mengatakan, tidak usah diharapkan adanya pengganti KM Bukit Raya yang kandas.

“Katanya tidak ada kapal pengganti. Malah di disini katanya kekurangan kapal,” ungkap warga Midai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau ini.

Akibat terlambat pulang, Zainun mengatakan keluarganya khawatir. Bahkan suaminya sudah berkali-kali menelepon.

“Saya memang berharap ada kejelasan kapan kita diberangkatkan. Apalagi ini kan sudah puasa,” ujarnya.

Selain kejelasan keberangkatan, mereka yang menunggu di Pelabuhan Dwikora Pontianak juga tidak mendapat pelayanan maksimal.

Untuk makan, mereka hanya mendapatkan jatah nasi, satu bungkus perhari. Itupun baru diberikan mulai Sabtu (3/6/2016) malam.

“Ndak tahulah kalau untuk sahur. Ini saja baru dikasih kemarin malam. Lalu tadi. Jadi sehari hanya dikasih makan satu kali,” katanya.

Calon penumpang lainnya, Yanti meminta pertanggungjawaban dari Pelni. Harusnya, kata Yanti, ada solusi atas masalah keterlambatan keberangkatan penumpang ini.

“Kami minta pertanggung jawaban Pelni. Mereka beralasan pelabuhan pengelolanya Pelindo. Sampai hari ini kami tak ada orang Pelindo. Mana orang Pelindo, tidak ada kan?” ungkap warga Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau ini.

Yanti mengatakan, untuk ke Natuna tidak ada angkutan lain selain jalur laut. Kalaupun melalui pesawat, harus transit di Batam dan perlu biaya yang lebih mahal.

“Penumpang ini tidak semuanya orang kaya. Rata-rata ekonomi kelas bawah. Mana mampu mereka naik pesawat, harus transit lagi. Kami minta tolong diurus. Kasihan penumpang,” kata Yanti dengan nada tinggi. Sementara penumpang lain langsung menyahut “Betul…..”.

Pihak Pelni menurutnya juga hanya mau mengganti satu kali biaya tiket. Tidak ada biaya tambahan untuk penginapan dan makan. Kalaupun mereka diberikan nasi bungkus, hanya pada malam hari.

“Ini masalahnya sahur juga kita tidak tahu. Tidak ada kepastian,” katanya.

Yanti menegaskan, kebersihan di tempat calon penumpang beristirahat sementara juga sudah tidak layak lagi. Masalah ini sudah diadukan pihaknya namun tidak ada respon.

“Mereka pura-pura tidak tahu. Kita mengadu pun mereka tidak ada respon. Kami maunya kan ada respon,” kata Yanti.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!