Gerhana Matahari Total Hasilkan Puluhan Riset

213

redaksi.co.id – Gerhana Matahari Total Hasilkan Puluhan Riset

Peristiwa gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 lalu menghasilkan sekitar 30-an riset dan kajian. Hasil riset dan kajian itu yang disampaikan para peneliti di acara International Symposium on Sun, Earth and Life (ISSEL) di Aula Timur ITB, Jumat-Sabtu, 3-4 Juni 2016.

Direktur Observatorium Bosscha Lembang Mahasena Putra mengatakan ragam riset gerhana itu bemacam-macam. “Memang peneliti sukanya riset yang masih jadi pertanyaan, ada yang baru, atau melengkapi riset sebelumnya,” katanya kepada Tempo di sela acara.

Dari judul makalah riset yang diajukan peneliti dan tim, paparan pembicara utama, termasuk berbentuk poster, tercatat lebih dari 30 penelitian terkait gerhana matahari total 2016. Mereka berasal dari perguruan tinggi dan lembaga pemerintah seperti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Penelitian gerhana matahari total di antaranya dikaitkan dengan perilaku harian tumbuhan dan hewan, gravitasi atau daya tarik bumi, meteorologi, kondisi korona matahari, serta melihat kawah bulan.

Selain itu ada kajian terkait bidang sosial seperti pendidikan tentang kejadian gerhana, dan pemahaman publik di Palembang dari berita tentang gerhana. Yang terhitung riset baru itu tentang perilaku bekantan saat gerhana, kata Mahasena. Penelitian itu dilakukan tim mahasiswi Biologi Universitas Padjadjaran.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyelenggarakan International Symposium on Sun, Earth, and Life (ISSEL).

Pertemuan ilmiah itu mewadahi para ilmuwan untuk berbagi dan mendiskusikan hasil penelitian mereka tentang bumi, matahari, dan pengaruhnya terhadap kehidupan, khususnya terkait dengan peristiwa gerhana matahari total pada 9 Maret 2016.

Diskusi juga membuka kesempatan bagi para ilmuwan untuk berkolaborasi dan melakukan penelitian lanjutan yang bersifat interdisiplin dan multidisiplin. Pada simposium itu juga Lapan memaparkan pembangunan observatorium atau pusat pengamatan benda langit di Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menambah fungsi Observatorium Bosscha, Lembang. Rencananya, observatorium baru itu dibangun mulai 2017-2019. Area barunya nanti perlu dilindungi dari polusi cahaya. ANWAR SISWADI

(red//ur/sikin/MNA)

loading...

Comments

comments!