Gempa Bumi di Laut Maluku akibat Tumbukan Lempeng

redaksi.co.id - Gempa Bumi di Laut Maluku akibat Tumbukan Lempeng Wilayah Maluku Utara diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan M=6,6, Rabu (8/6/2016) pukul 02.15.14 WIB.Pusat gempa...

28 0

redaksi.co.id – Gempa Bumi di Laut Maluku akibat Tumbukan Lempeng

Wilayah Maluku Utara diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan M=6,6, Rabu (8/6/2016) pukul 02.15.14 WIB.

Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 1,35 lintang Utara dan 126,41 bujur timur, tepatnya di laut pada jarak sekitar 126.0 kilometer arah barat laut Kota Ternate atau pada jarak 131.0 kilometer arah timur Kota Bitung, pada kedalaman hiposenter 58 kilometer (hasil pemutakhira data).

Berdasarkan hasil analisis tingkat guncangan (shakemap), dampak gempa bumi ini menimbulkan guncagan pada skala intensitas di Ternate III IV MMI (II SIG BMKG), di Halmahera Barat III IV MMI (II SIG BMKG), dan Tomohon Sulawesi Utara II MMI (I SIG BMKG).

Informasi skala intensitas gempa bumi ini menunjukkan bahwa dampak gempa bumi diperkirakan tidak menimbulkan kerusakan.

Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi tektonik dengan hiposenter dangkal akibat aktivitas tumbukan lempeng tektonik.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault).

Hasil analisis parameter sesar menunjukkan nilai Strike1=215, Dip1=47, Rake1=107 dan Strike2=11, Dip2=46, Rake2=73.

“Jika kita memperhatikan letak episenter gempa bumi, tampak bahwa pusat gempa bumi yang terjadi berasosiasi dengan zona akumulasi tegangan akibat aktivitas penekanan (kompresi) lempeng tektonik, yaitu dorongan Lempeng laut Philipina dari arah timur (Busur Halmahera) dan dari arah barat Lempeng Eurasia (Busur Sasngihe) yang menekan ke timur secara relatif hingga timbul medan tegangan pada zona punggungan Mayau (Mayau Ridge),” kata Daryono, dari BMKG dalam rilisnya kepada Tribunnews.com, Rabu (8/6/2016).

Akibatnya, terbangunnya zona kompresi di bagian tengah Lempeng Laut Maluku ini sehingga kawasan Pulau Mayau dan sekitarnya sangat rawan gempa bumi dengan penyesaran naik.

Implikasi sistem tektonik ini menjadikan aktivitas seismisitas di zona Punggungan Mayau sangat tinggi dan terjadi pada kedalaman dangkal kurang dari 60 kilometer.

Sistem tektonik tersebut mengakibatkan sebagian besar aktivitas gempa bumi yang terjadi di kawasan ini memiliki mekanisme sumber sesar naik yang merupakan ciri gempa bumi hasil tumbukan lempeng (plate colission).

Sehingga sangat relevan jika mekanisme sumber gempa bumi ini berupa penyesaran naik (thrust fault).

“Patut disyukuri bahwa walaupun gempa bumi ini berpusat di laut dengan mekanisme sesar naik, tetapi gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena kekuatannya tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut secara signifikan untuk dapat memicu terjadinya tsunami,” kata Daryono.

Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam pasca gempa bumi sudah terjadi gempa bumi susulan (aftershocks) sebanyak 2 kali dengan kekuatan M=4,3.

Tampak bahwa kecenderungan aktivitas gempa bumi susulan kekuatanya terus melemah.

Berdasarkan data magnitudo gempa bumi susulan ini menunjukkan tidak ada potensi akan terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang lebih besar.

“Untuk itu masyarakat Pulau Mayau, Sulawesi Utara, Halmahera, dan Ternate diimbau agar tetap tenang mengingat gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” kata Daryono.

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!