39 Pelatih Menukangi Timnas Indonesia, Hanya 5 Orang yang Sukses!

1888

redaksi.co.id – 39 Pelatih Menukangi Timnas Indonesia, Hanya 5 Orang yang Sukses!

Semenjak merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia memulai petualangan di pentas sepak bola internasional pada Olimpiade Melbourne 1956. Puluhan pelatih silih berganti menukangi Timnas Indonesia.

Jika dihitung sejak 1938, di mana Indonesia tampil di Piala Dunia 1938 dengan nama Dutch East Indies (Hindia Belanda) total sudah 39 pelatih mengarsiteki Tim Merah-Putih.

Nakhoda asal Belanda, Johannes Christoffel van Mastenbroek, jadi orang pertama yang tercatat menukangi Indonesia di World Cup 1938 yang dihelat di Prancis. Tim Hindia Belanda lolos ke putaran final perhelatan terbesar sejagat setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Tiongkok.

Tim Hindia Belanda, yang tampil dengan kostum kebesaran ala Belanda: Oranye, tak bisa berbuat banyak di Negeri Ayam Jantan dari Timur. Pada putaran pertama mereka langsung digasak 0-6 oleh Hungaria.

Menariknya pelatih asal Negeri Kincir Angin yang tercatat sebagai arsitek Tim Garuda pada 2015, Pieter Huistra. Sayang yang bersangkutan tak sempat menjalankan tugas karena jatuhnya sanksi pembekuan sementara oleh FIFA imbas perseruan antara PSSI dengan Kemenpora.

Semestinya Indonesia berlaga di Kualifikasi Piala Dunia 2018.

Daftar Pelatih Timnas Indonesia Sepanjang Masa

1938 Johannes Christoffel van Mastenbroek (Belanda) *

1951-1953 Choo Seng-quee (Korea)

1954-1964 Toni Antun Pogacnik (Yugoslavia)

1966-1970 E.A. Mangindaan

1970 Endang Witarsa

1971-1972 Yusuf Balik (Turki)

1972-1974 Suwardi Arland

1974-1975 Aang Witarsa

1975-1976 Wiel Coerver (Belanda)

1976-1978 Suwardi Arland

1978-1979 Frans van Balkom (Belanda)

1979-1980 Marek Janota (Polandia)

1980-1981 Bernd Fischer (Jerman)

1981-1982 Harry Tjong

1982-1983 Sinyo Aliandoe

1983-1984 M. Basri, Iswadi Idris dan Abdul Kadir

1985-1987 Bertje Matulapelwa

1987 Sinyo Aliandoe

1987-1991 Anatoli Polosin (Rusia)

1991-1993 Ivan Toplak (Yugoslavia)

1993-1995 Romano Matte (Italia)

1995-1996 Danurwindo

1996-1997 Henk Wullems (Belanda)

1998 Rusdy Bahalwan

1999 Bernard Schumm (Jerman)

1999-2000 Nandar Iskandar

2000-2001 Benny Dollo

2002-2004 Ivan Venkov Kolev (Bulgaria)

2004-2007 Peter Withe (Inggris)

2007 Ivan Venkov Kolev (Bulgaria)

2008-2010 Benny Dollo

2010-2011 Alfred Riedl (Austria)

2011 Wim Rijsbergen (Belanda)

2012 Aji Santoso

2012-2013 Nilmaizar

2013 Luis Manuel Blanco (Argentina)

2013 Rahmad Darmawan

2013 Jacksen F. Tiago (Brasil)

2014 Alfred Riedl (Austria)

2015 Benny Dollo

2015 Pieter Huistra (Belanda)

*) Hindia Belanda

Dari total 39 figur pelatih Tim Merah-Putih, bola.com mencatat hanya lima di antaranya yang terhitung berprestasi. Siapa saja mereka?

Toni Antun Pogacnik

Toni Antun Pogacnik tercatat sebagai pelatih terlama yang pernah menangani Timnas Indonesia, yakni selama 10 tahun pada periode 1954-1964. Banyak bintang-bintang sepak bola Tanah Air yang dilahirkan arsitek asal Polandia.

Kala ditangan Pogacnik, Indonesia jadi kekuatan yang menakutkan. Julukan Macan Asia melabeli pasukan Garuda. Sejumlah prestasi sukses diraih oleh tim besutan Pogacnik.

Timnas Indonesia Junior berhasil menjadi juara Piala Asia Muda (kini Piala Asia U-19) bersama Myanmar pada edisi 1961. Sebelumnya Indonesia menembus semifinal Asian Games Manila 1954 dan menorehkan medali perunggu empat tahun berselang di Tokyo, Jepang.

Yang paling legendaris adalah kala Tim Merah-Putih sukses menahan 0-0 tim raksasa Uni Soviet pada babak perempat-final di Olimpiade Melbourne 1956. Sayang pada pertandingan ulangan Indonesia kalah 0-5 dari tim yang akhirnya jadi juara.

Maladi yang jadi aktor utama di balik kedatangan Toni ke Indonesia. Kala itu sang perdana menteri yang melihat langsung Olimpiade Helsinki 1952 terpincut dengan gaya permainan tim Eropa timur yang dilatih Toni tersebut.

Menurut pandangannya, gaya yang dikembangkan Toni akan pas jika dimainkan oleh para pesepak bola Indonesia.

Maladi kemudian secara terang-terangan meminang Toni untuk melatih Timnas Indonesia. Namun, tentu saja keinginan itu tidak mudah untuk direalisasikan. Toni harus meminta izin ke pemerintah Yugoslavia, yang kala itu amat tertutup dari dunia luar.

Indonesia sendiri belum memiliki hubungan diplomatik dengan negara yang kini telah terpecah jadi Serbia, Kroasia, dan Montonegro tersebut.

Oleh pimpinan organisasi sepakbola Yugoslavia, Maladi lalu disarankan untuk mengundang timnas Yugoslavia terlebih dahulu dan membuka hubungan persahabatan antara pemerintah Indonesia dan negara tersebut.

Maladi pun kemudian mengatur agar tim Yugoslavia-B datang ke Indonesia dan melakukan lima kali pertandingan persahabatan, di antaranya melawan Persib Bandung, PSSI Jateng, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan tentu saja Timnas Indonesia.

Dukungan besar diberikan Presiden RI, Soekarno, kepada sosok Pogacnik. Sang Proklamator memperbolehkan adanya prosesi menaikkan bendera Yugoslavia serta pemutaran lagu kebangsaan sebelum pertandingan.

Sayang, Toni Pogacnik meninggalkan Indonesia dengan cerita tidak enak. Timnas Indonesia dihantam skandal suap di Asian Games 1962.

Skandal Senayan 1962 mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Kasus match fixing yang melibatkan sejumlah pemain pilar Timnas Indonesia mulai terkuak pada awal Januari 1962 dan memuncak pada 19 Febuari 1962 ketika Indonesia berujicoba dengan tim Vietnam Selatan.

Usut punya usut, termasuk dengan melibatkan penyelidikan kepolisian, bukan sekali dua kali saja para pemain timnas bermain mata dengan para bandar judi.

Hasil penyelidikan menyebutkan, pertandingan-pertandingan yang ditemukan telah diatur itu di antaranya adalah pertandingan timnas Indonesia melawan Malmoe (Swedia), Thailand, Yugoslavia Selection dan Ceko Combined.

Setidaknya ada 10 pemain andalan timnas saat itu yang dikenakan skorsing.

Di kandang sendiri, di Jakarta, timnas Indonesia hancur dan tak bisa memenuhi target juara di Asian Games 1962. Timnas kandas di fase penyisihan. Karena merasa gagal, Toni menyampaikan surat pengunduran diri, tapi ditolak.

Pengunduran diri baru diterima setelah Toni mengalami cedera lutut dalam rangkaian tur ke Tiongkok pada 1963. Setahun kemudian ia dengan resmi minta berhenti.

Anatoli Polosin

Figur Anatoli Polosin meninggalkan kesan yang manis bagi pencinta sepak bola Tanah Air. Pelatih asal Rusia tersebut jadi orang yang terakhir mempersembahkan gelar juara bergengsi di level Timnas Indonesia Senior, yakni SEA Games edisi 1991.

Didampingi dua asistennya, Danurwindo dan Vladimir Urin, Polosin membentuk permainan Tim Garuda dengan ciri khas ketahanan fisik yang prima.

Pola latihan yang diusung Polosin, Shadow Football amat legendaris. Metode yang satu ini terfokus pada penempaan fisik, stamina, sertainsting pemain.

Shadow football bermain tanpa bola. Keberadaan bola ditunjuk oleh pelatih. Ke mana tangan menunjuk, ke sana pemain harus gerak. Sentuhan yang dilakukan seluruh pemain dihitung dan dijadikan acuan mengukur rapor mereka.

Di sisi lain Polosin juga dikenal dengan metode latihan fisik keras. Dalam sehari ia menggeber latihan sebanyak tiga kali. Pola ini membuat sejumlah pemain senior memilih mundur dari pelatnas.

Di SEA Games 1991, Polosin melakukan revolusi besar-besaran di jajaran skuat Timnas Indonesia. Ia memberikan kesempatan kepada pemain-pemain belia usia 20 tahun.

Latihan fisik ekstrim yg dijalani timnas membuat pemain mampu lari 4 km dalam 15 menit, ini standar minimal VO2Max Eropa!

Sebelum ke bertanding di Manila, timnas melakoni uji coba melawan Korea Selatan, Malta, Mesir, Tiongkok U-23, serta salah satu klub Austria. Hasilnya mengecewakan: kemasukan 17 gol, memasukkan 1 gol!

Tapi seperi halnya sulap, hasil-hasil mengecewakan tersebut ditebus dengan pencapaian positif saat berlaga di SEA Games 1991.

Tim Merah-Putih membabat satu persatu para pesaing. Di fase penyisijan timnas menang atas Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), Filipina (2-1). Selanjutnya memasuki semifinal mereka menang atas Singapura melalui adu penalti. Pencapaian serupa didapat pada laga puncak. Anak asuh Polosin menang atas Raja ASEAN, Thailand lewat adu penalti dengan skor 4-3.

Pemain-pemain belia yang dibentuk Anatoli Polosin antara lain: Widodo C. Putro, Rochi Putiray, Aji Santoso, Sudirman, Kas Hartadi, hingga Nilmaizar.

Endang Witarsa

Endang Witarsa juga termasuk pelatih terbaik tim nasional sejauh ini. Bersama dengan pria yang meninggal pada 2 April 2008 tersebut, Indonesia sukses meraih sejumlah gelar prestisius.

Endang Witarsa jadi pelatih Timnas Indonesia yang bertabur gelar. Di era kepemimpinannya ia sukses mempersembahkan piala utama di ajang, Piala Raja Thailand (1968), Merdeka Games Malaysia (1969), Pesta Sukan Singapura, Anniversary Cup (1972) dan Agha Khan Cup Pakistan (1972).

Dominasi Tim Garuda di era 1970-an tak lepas dari kedisiplinan yang diterapkan oleh pelatih yang juga berprofesi sebagai dokter gigi itu. Endang memulai kisah sukses bersama Persija Jakarta pada awal 1960-an.

Formasi menyerang 3-2-5 yang digeber Endang amat legendaris. Sederet pesepak bola legendaris Indonesia ditempa olehnya. Sebut saja Sinyo Aliandoe, Anjas Mara, Yudo Hadiyanto, Iswadi Idris.

Pasukan muda Persija menjadi kampiun kasta elite Perserikatan edisi 1964 dengan rekor wah, tak pernah kalah dan rekor gol yang sensasional.

Menjalani delapan pertandingan Persija menang tujuh kali dan sekali meraih hasil imbang. Sepanjang kompetisiPerserikatan Tim Jingga mencetak 34 gol dan hanya kebobolan tiga gol saja!

Salah satu kemenangan sensasional adalah kala Sinyo cs. menghantam Persebaya 4-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Skor itu kemenangan telak pertama Persija terhadap rival utama mereka di perserikatan era 1960-an. Tim Bajul Ijo merupakan juara bertahan perserikatan edisi sebelumnya.

Hebatnya kala itu, Persija diperkuat pemain-pemain muda kisaran usia 16-19 tahun. Selepas kesuksesan di Tim Macan Kemayoran, Sinyo dan pemain-pemain belia Persija lainnya diboyong Endang ke timnas.

Sinyo Aliandoe

Sinyo Aliandoe merupakan pesepak bola legendaris Indonesia yang sukses sebagai pemain dan pelatih. Di musim debutnya sebagai pelatih tahun 1973 di Persija Jakarta, Sinyo langsung mempersembahkan juara Perserikatan.

Pertandingan penutup perserikatan, Persija vs Persebaya, penuh drama. Duel puncak melibatkan banyak pemain top pelanggan timnas kala itu. Di kubu Macan Kemayoran ada Sutan Harharah, Oyong Liza, Sofyan Hadi, Iswadi Idris.

Sementara itu, di Tim Bajul Ijo bercokol pemain-pemain tenar macam Harry Tjong (kiper), Rudy Bahalwan, Waskito, dan Rusdy Bahalwan.

Persebaya hanya butuh hasil imbang untuk bisa juara. Tapi, siapa sangka mereka harus menerima pil pahit kalah 0-1 melawan rival utamanya di SUGBK. Gol kemenangan Persija dicetak Risdianto.

Bentrok kedua tim sempat berlangsung ricuh. Pemain kedua tim sempat terlibat perkelahian. Dua tahun berselang, Sinyo kembali mengantar Persija menjadi kampiun perserikatan. Sistem kompetisi berubah.

Pertandingan putaran final digelar dengan sistem turnamen. Menariknya, Persija di akhir kompetisi harus berbagi gelar dengan PSMS. Pertandingan final di Senayan berujung rusuh dalam keadaan skor 1-1. Uniknya usai mempersembahkan dua gelar secara beruntun, Sinyo justu menepi dari Persija. Ia digantikan Marek Janota.

Sinyo Aliandoe ditunjuk menjadi pelatih timnas untuk Pra Piala Dunia 1986.Indonesia melangkah ke Kualifikasi Piala Dunia 1986 bergabung di 3B AFC Zona B, bersama India, Thailand, dan Bangladesh.

Indonesia memulai pertarungan pada 15 Maret 1985 melawan Thailand dan menang 1-0. Pada laga berikutnya, Bambang Nurdiansyah dkk. mengalahkan Bangladesh 2-0. Tim Merah-Putih menutup putaran pertama dengan menang atas India 2-1.

Pada putaran kedua, timnas Pra Piala Dunia 1986yang mayoritas diisi pemain dari klub Galatama hanya ditahan imbang India

1-1. Dua laga lain berhasil dimenangkan, yakni versus Bangladesh (2-1) dan menang 1-0 atas Thailand. Hasil itu membuat Indonesia maju ke babak kedua sebagai juara grup.

Babak kedua Zona B AFC Kualifikasi Piala Dunia 1986 mempertemukan Indonesia dengan Korea Selatan. Indonesia kalah 0-2 pada pertemuan pertama, 21 Juli 1985 di Seoul. Kemudian pada pertemun 30 Juli 1985, Indonesia kalah 1-4 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Kalah agregat 1-6 membuat Indonesia harus mengubur impian menuju Piala Dunia. Meski gagal, pencapaian timnas arahan Sinyo Aliandoejadi salah satu yang terbaik karena nyaris lolos ke Piala Dunia. Sebelum era Sinyo, Indonesia lolos ke Piala Dunia 1938 saat masih bernama Hindia Belanda, dilatih oleh Johannes Christoffel van Mastenbroek.

Bertje Matulapelwa

Nama Bertje Matulapelwa dikenal sebagai pelatih pertama yang mempersembahkan gelar juara internasional resmi. Timnas Indonesia jadi yang terbaik di SEA Games 1987.

Tim Merah-Putih menjadi yang terbaik di Asia Tenggara setelah mengalahkan timnas Malaysia sengan skor 1-0. Gol kemenangan Indonesia dicetak penyerang asal klub PSIS Semarang, Ribut Waidi. Pertandingan puncak dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Kesuksesan ini amat berarti bagi Indonesia, yang mematahkan dominasi Thailand di pentas SEA Games.

Satu tahun sebelumnya, timnas sukses menembus semifinal Asian Games 1986. Tim asuhan Bertje dianggap skuat terbaik Indonesia sepanjang masa timnas terhebat.

The Dream Team Timnas Indonesia kala itu dihuni pemain-pemain top macam Herry Kiswanto, Rully Nere, Robby Darwis, Sutan Harharah, Nasrul Koto, Ribut Waidi, dan Ricky Yakobi.

Bertje yang dijuluki Pak Pendeta sukses memadukan kekuatan klub Galatama dan Perserikatan. Saat itu, kekuatan sepak bola Indonesia terbelah, sehingga muncul istilah Timnas Galatama dan Timnas Perserikatan.

Hebatnya lagi para pemain top Indonesia yang biasa dibayar mahal oleh klubnya kala itu, rela membela Timnas Indonesia dengan fasilitas minim. Mereka hanya mendapat uang saku Rp 750 ribu per bulan.

Nominal yang kalah besar dibanding uang saku buat atlet cabang olahraga lain yang dianggarkan KONI, yang menembus angka Rp 1 juta.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

loading...

Comments

comments!