Mengintip 'Kamp Militer' Khusus Pecandu Internet

redaksi.co.id - Mengintip 'Kamp Militer' Khusus Pecandu Internet Ini adalah kecanduan paling hebat yang dialami warga China. Bukan narkoba, tapi internet. Ada 700 juta warga yang...

25 0

redaksi.co.id – Mengintip 'Kamp Militer' Khusus Pecandu Internet

Ini adalah kecanduan paling hebat yang dialami warga China. Bukan narkoba, tapi internet.

Ada 700 juta warga yang terkoneksiinternet di seantero Tiongkok, dampaknya bakal lebih banyak remaja akan dimasukkan ke kamp ala militer untuk mendetoks candu yang disebabkan oleh teknologi digital itu.

Rata-rata remaja China menghabiskan 17 jam di depan layar komputer tiap harinya untuk bermain game. Membuat banyak orangtua terpaksa ambil langkah tegas memisahkan ‘pasangan’ — anak mereka dan komputer — dan mengirim buah hati ke kamp ala militer, untuk membersihkan ‘racun’ game online.

“Kecanduan narkoba atau alkohol, nyaris tak mungkin menyebar di kalangan muda China,” kata Diretur Detox Camp, Tao Ran, seperti dilansir dari News.com.au, Kamis (9/6/2016).

“Remaja di sini sulit beli alkohol, tapi internet sangat mudah terakses dan mereka tak perlu mengeluarkan uang banyak,” imbuh Ran.

China adalah salah satu negara di dunia yang mengakui canduinternet adalah penyakit klinis. Ratusan pusat rehabilitasi telah dibuka untuk mengobati pesakitan dunia maya di seluruh negeri. Demi membantu kaum muda yang telah tercemar internet.

Pada 2011, seorang pria tewas akibat bermain game online tiga hari tanpa berhenti. Bahkan tahun lalu, seorang pria pingsan dan tewas di kafe internet di Shanghai setelah main World of Warcraft 19 jam tanpa henti. Dokter mengatakan pemuda 24 tahun itu tewas akibat kelelahan.

Para orangtua Tiongkokputus asa mencari solusi bagi anak-anak mereka untuk lepas dari layar komputer. Banyak dari mereka memaksa memasukkan anak-anaknya ke program rehabilitasi selama 6 bulan di China’s Youth Rehabilitation Base.

Untuk masuk ke panti rehab membutuhkan biaya sekitar US$ 1.500 per bulan atau sekitar Rp 19 juta. Tapi uang tak jadi masalah. Mereka mampu membayar berapa pun demi anak-anak mereka untuk sembuh dari kecanduan.

“Mereka bermain game secara online kebanyakan bermain dalam grup. Kalau ada yang ingin kencing, mereka takut mengganggu ritme permainan. Sehingga ada yang sampai pakai popok,” terang Ran.

“Itu karena para pecandu berpikir tak punya waktu ke kamar mandi!” lanjutnya lagi.

“Anak-anak itu bermain depan komputer 24 jam sehari tiap hari dan tak berkomunikasi satu sama lain. Mereka tak bisa membantu orangtua membersihkann rumah, bahkan hanya makan sehari sekali,” terang Ran.

Ran telah berpartisipasi dalam detoks digital semenjak 2008. Ia adalah salah satu orang pertama yang mendirikan kamp bagi mereka yang mengalami candu digital.

Berdiri di depan grup pria dan wanita yang masih belia, Ran kerap berteriak kepada para ‘pecandu’.

“Saya seharusnya menjadi sipir penjara bagi kalian, meski tempat ini bukan penjara secara harafiah,” kata Ran.

“Aku harus benar-benar menjaga mereka, seperti kepala sekolah anak TK. Aku benar-benar ingin mendidik mereka, seperti halnya kepala sekolah, namun juga memperlakukan mereka seperti layaknya psikiater, ungkap Ran.

Di siang hari, para pecandu baris-berbaris berulang kali di halaman kamp itu. Mereka menghormat kepada para ‘komandan’ dan berdiri diam 20 menit. Hal itu dilakukan demi mengembalikan postur tubuh mereka.

Di luar latihan fisik, para bocah remaja wajib berlatih menjalin hubungan secara nyata dan menjalani konsultasi dengan psikolog.

Siapa yang Salah? Orangtua?

Sepasang suami istri bernamaJeng yang terpaksa memasukkan anak mereka, Lin ke program detoks mengatakan, anak semata wayang mereka kecanduan permainan di dunia maya. Lin bisa menghabiskan waktu 13 hingga 14 jam tiap hari di depan internet.

“Ia nyaris tak tidur dan tidak meninggalkan kamar tidurnya selama 6 bulan,” ujar sang ayah.

“Ia tak pernah melihat matahari dan secara sadar mengunci kamarnya. Aku tak punya pilihan selain ‘menipunya’ untuk masuk ke panti rehabilitasi ini. Jadi ia membenciku. Ia menghukumku tak berbicara selama 3 bulan.”

Ran mengakui kalau reaksi Lin saat tiba di kamp itu. Dan ternyata itu hal biasa.

“Pada awal-awal pengobatan, mereka selalu ingin kabur,” terang Ran.

“Tapi bisa dilihat apa alasan mereka ke sini dan mengapa banyak penjaga di kamp ini. Tapi tetap saja, tiap tahun ada yang selalu mencoba kabur.”

Ran mengatakan ada 2 emosi terbesar yang dialami remaja-raemaja itu saat pertama kali mengikuti program. Pada bulan pertama, mereka membenci orangtua dan para staf.

“Awalnya mereka pikir bermain komputer di rumah baik-baik saja. Lantas tiba-tiba sesorang membawa mereka ke sini,” ungkap Ran.

“Selama bulan pertama mereka ingin kabur, lalu bulan ke dua mereka sadar mereka bermasalah. Lantas, setelah tahu kalau mereka punya bermasalah, remaja-remaja itu menyalahkan orangnya.”

Di suatu waktu, Ran menghadapi remaja yang sangat putus asa ingin meninggalkan fasilitas itu. Ia menggunakan garam dapur untuk membuat teralis besi korosi sehingga bisa kabur.

“Teralis itu benar karatan sehingga gampang dipatahkan. Dengan sprei dan selimut mereka bisa kabur.” Untung bisa tertangkap.

Lin mengatakan kalau ia merasa orangtuanya tak mengeri dirinya sehingga internet adalah pelariannya. Dia tak sendirian, kebanyakan orangtua di China menjadi bagian dari majunya ekonomi negeri itu.

Mereka sibuk dengan pekerjaan dan usahanya sehingga sang anak merasa tak pernah diperhatikan. Sementara, di dunia maya, mereka bisa menjadi sosok pahlawan, sosok yang diperlukan kaum lemah dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang.

Selain itu, kebanyakan dari remaja itu adalah produk kebijakan satu anak sehingga orangtua over-protective.

“Mereka mengontrol semua, termasuk makanan, sekolah bahkan teman. Anak-anak itu tak punya ruang untuk berkembang,” ujar Ran.

“Orangtua banyak berpikir apa yang mereka lakukan baik bagi anak, padahal anak adalah sosok yang sejatinya bisa berkomunikasi apa yang mereka mau,” tutup Ran.

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!