Selain Donald Trump, Ini Sejarah 8 Capres AS yang Nyentrik

redaksi.co.id - Selain Donald Trump, Ini Sejarah 8 Capres AS yang Nyentrik Sejarah mencatat, pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2016 merupakan yang 'terburuk' sepanjang sejarah....

12 0

redaksi.co.id – Selain Donald Trump, Ini Sejarah 8 Capres AS yang Nyentrik

Sejarah mencatat, pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2016 merupakan yang ‘terburuk’ sepanjang sejarah. Meskipun Hillary Clinton dari Partai Demokrat mengukir sejarah menjadi perempuan pertama capres AS, namun ia memiliki kecenderungan tak disukai di antara pemilih yang mendukung rivalnya, senator Bernie Sanders.

Sementara dari partai Republik, Donald Trump, meskipun ia mampu melibas seluruh lawannya, dan menjadikannya calon nominasi dari partainya, nilai ketidaksukaan terhadap raja properti New Yorkmemiliki rating negatif di antara pemilih non-kulit putih semenjak kampanye tahun 1965 yang dilakukan Barry Goldwater.

“Dalam sejarah pemilihan, pada dasarnya AS pernah punya sejarah kandidat yang dibenci oleh setengah lebih para pemilihnya. Namun kali ini, luar biasa…” kata Senator dari Partai Republik Ben Sasse dalam memonya kepada partai berlambang gajah.

Namun, rupanya, Hillary dan terutama Donald Trump bukan satu-satunya kandida yang nyentrik. Sejarah mencatat persaingan menuju Gedung Putih juga menghasilkan sejumlah kandidat yang eksentrik, seperti seseorang dari luar kancah politik, komedian, atau sosok yang berkampanye hanya dengan mengusung satu isu saja.

Seperti dilansir History, Senin (13/6/2016) dari calon presiden yang ogah-ogahan dan anti-Mason, hingga pakar pengasuhan anak yang banting setir menjadi politisi, inilah delapan kandidat eksentrik untuk jabatan tertinggi di Amerika Serikat.

1. William Wirt

Ia adalah calon presiden usungan partai selain Republik atau Demokrat yang pertama. Ia mewakili Partai Anti-Mason, faksi politik yang percaya bahwa Freemason adalah organisasi rahasia berbahaya yang berusaha mengendalikan jalannya pemilu.

Pada 1832, para penentang Freemason mulai dikenal secara nasional karena menominasikan mantan jaksa William Wirt untuk melawan kandidat yang disebut seorang Freemason, Andrew Jackson.

Namun ada satu masalah — Wirt sendiri ternyata adalah mantan Freemason. Dalam surat persetujuannya saat dicalonkan, ia menyebut kelompok itu sebagai ‘klub sosial yang dermawan’ dan tak memiliki tujuan konspirasi. Itu bertolak belakang dengan sikap partai yang mengusungnya.

Ia bahkan mencoba menghentikan kampanyenya setelah menyadari bahwa pencalonannya akan memecah suara anti-Andrew Jackson — ini justru memudahkan kemenangan lawannya untuk menjadi presiden.

Para pemimpin partai membujuk William untuk bertahan hingga hari pemilihan, namun ia hanya memenangkan 100.000 suara dan satu negara bagian, yaitu Vermont.

2. Victoria Woodhull

Pada tahun 1872, Victoria Woodhull menjadi kandidat wanita pertama dalam pemilihan presiden saat menjadi calon dari Partai Kesetaraan Hak. Ulysses S. Grant menjadi rival politiknya saat itu. Pencalonan ini terjadi hampir 50 tahun sebelum wanita diberi hak untuk memilih dengan disahkannya Amandemen ke-19.

Namun gender Victoria, bukan satu-satunya hal yang tak biasa dari kandidat yang satu ini. Warga kelahiran Ohio ini juga seorang mantan cenayang dan pebisnis yang membuka firma broker pertama yang dimiliki seorang wanita di Wall Street.

Ia juga menerbitkan koran radikal Woodhull and Claffin’s Weekly yang secara reguler membahas topik-topik ‘terlarang’ seperti pelegalan prostitusi, kontrasepsi, dan hubungan bebas.

Setelah memilih Frederick Douglass, seorang aktivis kulit hitam yang menentang perbudakan sebagai calon wakilnya (meski Frederick tak pernah menerima pencalonannya), Victoria berkampanye dengan isu-isu progresif seperti emansipasi wanita dan penghapusan hukuman mati.

Tidak jelas berapa jumlah suara yang didapatnya, namun ia berhasil memicu kontroversi. Hanya beberapa hari sebelum Hari Pemilihan, Victoria dipenjara karena tuduhan mengedarkan tulisan yang tak senonoh yaitu sebuah artikel yang membongkar perselingkuhan seorang pendeta terkenal.

3. Horace Greeley

Bersamaan dengan munculnya Victoria Woodhull, pendiri koran New York Tribune, Horace Greeley juga maju dalam pemilu 1872. Ia dikenal sebagai editor koran yang eksentrik dan cerdas — gemar membahas segala isu dari anti-miras, vegetarianisme, hingga spritualisme. Horace mendapatkan nominasi baik dari Partai Demokrat dan Partai Republik Liberal, cabang dari Partai Republik yang berumur pendek.

Namun upayanya untuk menggusur presiden yang sedang menjabat saat itu Ulysses S. Grant berakhir dengan tragis. Kartunis politik, Thomas Nast sering menyindir penampilan Horace, yang berewok tak beraturan dan sering mengenakan jas putih yang kedodoran.

Meskipun di masa lalu Horace mendukung penghapusan perbudakan, namun wartawan ini banyak dikritik karena mendukung rekonsiliasi dengan wilayah Selatan pasca Perang Saudara. Horace menghadapi lebih banyak masalah saat istrinya meninggal sebelum ia dapat memenangkan pemilu. Kesehatan mentalnya menurun hingga ia terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa.

Ia meninggal pada 29 November 1872, dan menjadi satu-satunya capres dalam sejarah yang meninggal sebelum jumlah suara pemilih dihitung. 66 suara untuk Horace dibagikan kepada beberapa kandidat Partai Demokrat yang lain.

4. Eugene V. Debs

Tokoh sosialis Eugene V. Debs mencalonkan diri menjadi presiden ke-5 AS. Namun pencalonan terakhirnya pada tahun 1920 adalah yang paling mengejutkan. Hanya dua tahun sebelumnya, pemimpin buruh yang cinta damai ini dikenai tuduhan makar, kewarganegaraannya dicabut, dan ia divonis 10 tahun penjara karena berpidato menentang wajib militer saat Perang Dunia I.

Eugene menerima nominasi dari Partai Sosialis meskipun menjadi pesakitan, dan terus melanjutkan kampanyenya di balik tembok Penjara Federal Atlanta. Slogannya antara lain adalah: ‘Dari Gedung Penjara ke Gedung Putih’.

Meski hanya dapat membuat pernyataan kepada publik sekali dalam seminggu, ia berhasil mendapatkan 900.000 suara dalam pemilu, dan menempati posisi terhormat ketiga setelah kandidat Partai Republik, Warren G. Harding dan kandidat Partai Demokrat, James M. Cox.

Presiden Harding akhirnya memotong masa tahanannya dan membebaskan Eugene pada tahun 1921, namun kewarganegaraannya tidak dipulihkan hingga tahun 1976 — 50 tahun setelah kematiannya.

5. William Dudley Pelley

Pada tahun 1936, saat Nazi semakin menguasai Jerman, seorang pengikut Adolf Hitler yang mistis, namun religius bernama William Dude Pelley mengumumkan pencalonannya sebagai presiden Amerika.

Warga asli Massachusetts ini sebelumnya bekerja sebagai penulis naskah di Hollywood sebelum ia mengalami pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya dan memberinya inspirasi untuk menciptakan ‘Doktrin Pembebasan’ — sebuah sistem religius yang menggabungkan elemen-elemen spiritualisme dan filosofi Zaman Baru (New Age).

Ia kemudian diawasi secara ketat oleh pemerintah karena mendirikan Silver Legion of Amerika, kelompok paramiliter penganut fasisme, antisemitisme, dan anti-imigran.

William diusung oleh Partai Kristen yang baru berdiri, dan berkampanye menentang Perjanjian Baru yang dicanangkan Roosevelt dan berargumen bahwa ‘ini saat yang tepat untuk kemunculan Hitler ala Amerika dan waktunya untuk pembantaian etnis’.

Meski sering kampanye, ia hanya berhasil mendapatkan kurang dari 2000 suara di negara bagian Washington. William tetap melanjutkan aktivitas kontroversial setelah masa pemilihan, dan kemudian masuk bui untuk tuduhan makar karena mempublikasikan tulisan pro Nazi selama PDII.

6. Gracie Allen

Gracie adalah komedian yang menjadi penyiar acara radio yang sangat populer bersama suaminya yang selalu menghisap cerutu, George Burns. Selama pemilihan presiden tahun 1940, pasangan ini mengundang reaksi dengan mengajukan Gracie sebagai calon presiden dari ‘Partai Kejutan’, yang menampilkan kanguru sebagai maskotnya dan berslogan ‘Saya Pasti Menang’.

Gracie berkeliling negeri dalam sebuah tur secepat kilat, dan para penggemar mengerubunginya demi mendengar komentar anehnya tentang hutang negara (‘kita semestinya bangga, karena hutang kita terbesar di dunia!’) dan ketiadaan capres (ia bersikeras ‘tidak akan bertoleransi pada wakilnya’). Ibu Negara Eleanor Roosevelt bahkan ikut serta dalam komedi pencalonan itu dengan mengundang Gracie untuk berbicara di Klub Pers Wanita Nasional.

Gracie menghentikan kampanye bohong-bohongannya itu beberapa bulan sebelum hari pemilihan. Tetapi secara tak resmi ia sempat dipilih sebagai wali kota di sebuah kota kecil di Michigan, ia didukung oleh senat mahasiswa Harvard University.

Ia terus menerima dukungan melalui beberapa ribu suara sebagai cocok yang tak ada dalam daftar calon presiden selama pemilu yang berakhir dengan kemenangan telak Franklin D. Roosevelt itu.

7. Earl Browder

Earl Browder yang lahir di Kansas maju sebagai kandidat presiden dari Partai Komunis pada pemilu 1936 dan 1940. Ia juga pernah tampil di sampul majalah Time sebagai potret Marxisme di Amerika.

Ia tak pernah berhasil menimba banyak suara selama masa kampanye, dan hanya memenangkan kurang dari 100.000 suara dalam dua kali pemilu. Earl kemudian terkenal karena isu keterlibatannya dengan kegiatan spionase Uni Soviet di Amerika Serikat.

Menurut pesan rahasia pemerintah yang dirilis pada tahun 1990-an, Earl Browder berkampanye sembari berperan sebagai mata-mata Soviet, dan mungkin terlibat dalam kegiatan operasi militer rahasia bersama beberapa anggota keluarganya. Sebuah penelitian bahkan mengklaim bahwa ia secara personal telah merekrut banyak mata-mata Soviet di Amerika. Earl tidak pernah dinyatakan bersalah terkait dengan kejahatan spionase selama masa hidupnya.

Ia hanya pernah dipenjara selama setahun karena penipuan paspor sebelum diberi ampunan pada tahun 1941. Ia kemudian dikeluarkan dari Partai Komunis setelah PD II karena berargumen bahwa filosofi komunisme dapat dipadukan dengan kapitalisme.

8. Benjamin Spock

Dr. Benjamin Spock lebih dikenal karena buku yang ditulisnya pada 1946, ‘Common Sense Book of Baby and Child Care’. Buku itu menjadi panutan orang tua pada masa ‘baby boom’ setelah Perang Dunia II. Selain berprofesi sebagai dokter anak, ia juga memenangkan medali emas Olimpiade untuk cabang mendayung, dan secara mengejutkan menjadi capres pada tahun 1972.

Karier politik Benjamin dimulai setelah selama beberapa tahun ia menjadi demonstran penentang Perang Vietnam dan pendukung pelucutan senjata nuklir.

“Membesarkan anak yang bahagia dan merasa aman tidaklah cukup. Anda perlu memberikan mereka dunia yang layak,” katanya.

Sebagai calon dari Partai Rakyat, Benjamin mengajukan konsep liberal yang mengusulkan diakhirinya intervensi militer Amerika di luar negeri, pelegalan ganja, dan fasilitas kesehatan gratis.

Namun, ia hanya berhasil memenangkan akses suara di 10 negara bagian, dan menempati posisi kelima dengan 78.000 suara. Benjamin kemudian melanjutkan aktivitas politiknya dan sempat ditahan atas tuduhan pembangkangan sipil lebih dari 12 kali sebelum meninggal pada tahun 1998.

(red/ris/ahyudianto/AW)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!