Lawan Kebencian, Umat Yahudi dan Muslim Bersatu Saat Ramadan

redaksi.co.id - Lawan Kebencian, Umat Yahudi dan Muslim Bersatu Saat Ramadan Sebuah aksi yang mengundang warga Israelke rumah warga Arab selama bulan suci Islam untuk berbuka...

11 0

redaksi.co.id – Lawan Kebencian, Umat Yahudi dan Muslim Bersatu Saat Ramadan

Sebuah aksi yang mengundang warga Israelke rumah warga Arab selama bulan suci Islam untuk berbuka puasa telah menebar benih persahabatan antarumat beragama.

Kendati demikian, horor penembakan di Pasar Sarona itu masih tertanam dalam benak setiap orang. Menurut seorang politisi, insiden itu adalah masa-masa suram dan berat.

Namun, meski telah terjadi serangan teror yang menewaskan empat orang dan melukai banyak korban di pusat kota Tel Aviv pada 8 Juni laluserombongan warga Yahudi berangkat menggunakan bus dari Tel Aviv menuju kota Arab Tayibe di Israel bagian tengah pada Kamis malam.

Tayibe, berbeda dari desa Palestina Taybeh di Tepi Barat, dan juga bukan Taibe, desa Israel-Arab di Galilee, terletak di dalam perbatasan negeri zionis, tak jauh dari Highway 6.

Makna Tayibe adalah ‘baik’ atau ‘lezat’ dalam bahasa Arab.

Dilansir dari Times of Israel, kebanyakan orang Israel dalam bus itu tak pernah mengunjungi kota tersebut, dan tak pernah mengikuti iftar atau acara buka puasa.

Kelompok yang sebagian besar terdiri dari warga Israel paro baya, ikut serta dalam acara yang berlangsung selama sebulan, yang dinamakan ‘Malam Ramadan’, yaitu saat warga Yahudi Israel dapat mengunjungi delapan kota Arab yang berbeda serta bergabung dengan keluarga setempat untuk melakukan iftar.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sikkuy, sebuah organisasi Israel yang memperjuangkan kesetaraan hak asasi.

Salah satu panitia acara itu adalah Gili Roi, Direktur Departemen Masyarakat Saling Berbagi di Sikkuy. Ia mengungkapkan kepada The Times of Israel bahwa sempat terjadi ketidakpastian setelah serangan teror di Pasar Sarona yang memakan korban empat warga Israel dan melukai 16 lainnya.

Staf Sikkuy dengan cepat memutuskan bahwa acara ini tidak akan dibatalkan, tetapi malah sangat perlu untuk dilaksanakan sesuai rencana.

Hal ini tak terjadi beberapa tahun lalu. Pada tahun 2014, di malam pertama Ramadan, ditemukan jasad tiga remaja pria yang diculik dan dibunuh di Tepi Barat tiga minggu sebelumnya. Kejadian ini dan susulannya kemudian meningkat menjadi perang di Gaza. Menurut Gili, pada musim panas tahun itu seluruh program dibatalkan karena situasi dengan cepat menjadi semakin tidak aman.

Namun setahun setelah perang, sekitar 1.000 warga YahudiIsrael berpartisipasi dalam Malam Ramadan. Tahun ini, penyelenggara akan menggandakan jumlah tersebut.

Dalam upacara kecil untuk para peserta di balai kota Tayibe untuk merayakan dibukanya pasar Ramadan, yang akan dibuka setiap malam di bulan suci, Walikota Shuaa Masarwa Mansur berbicara singkat pada wartawan.

“Sekarang ini adalah saat-saat yang suram,” katanya, merujuk pada penembakan di pasar Tel Aviv. “Kita ditakdirkan hidup di satu wilayah, maka kita harus belajar hidup berdampingan. Satu-satunya cara untuk dapat berhasil melakukannya adalah melalui dialog dan memahami satu sama lain.”

Walikota juga melontarkan kritik untuk keputusan pemerintah Israel yang membatalkan izin bagi puluhan ribu warga Palestinauntuk memasuki Israel selama bulan Ramadan setelah penembakan di Tel Aviv, yang disebutnya sebagai ‘hukuman kolektif’ dan ‘sebuah kesalahan.’

Setelah meninggalkan balai kota, kelompok Yahudi ini bergerak menuju rumah keluarga yang akan mengadakan iftar. Seperti biasanya pada bulan Ramadan, saat matahari tenggelam, kehidupan di kota itu mulai bangkit. Orang-orang secara berkelompok terlihat berdiri di halaman mereka atau di jalanan, memasak falafel atau ayam, sebagian untuk keluarga mereka dan sebagian untuk dijual.

Mereka yang tiba di rumah tempat diadakannya iftar disambut dengan cahaya berwarna-warni dan gerbang melengkung berwarna putih yang dibawahnya tergelar karpet merah, seperti acara pemberian penghargaan film.

Untuk makanannya, sekitar seratus orang duduk di halaman tengah, dengan meja dilapisi taplak putih, menikmati makanan lezat yang terdiri dari salad tabbouleh, terong dan daun anggur isi, ayam, mejadra (nasi dengan lentil), serta domba yang dimasak dengan yogurt. Pencuci mulutnya adalah kue dadar khas Ramadan yang disebut kataif, yang diisi keju.

Untuk iftar kali ini, guru kesenian Amena Massarwe, 23, adalah tuan rumah utama.

“Saya menjadi tuan rumah bagi para Yahudi agar mereka merasakan Ramadan, yang seharusnya mempersatukan keluarga,” ungkap Amena. “Jenis kegiatan yang kami lakukan di sini adalah untuk mempersatukan Yahudi dan Arab.”

“Ramadan adalah bulan yang amat suci. Kita perlu menghormatinya dan kita harus menjaga semua orang, baik mereka Yahudi, Druze, atau Arab,” tegasnya, sambil menambahkan bahwa acara ini “amat emosional” baginya dan membuatnya lebih dekat dengan “pihak lain.”

Ravit Boged, yang membantu mengelola sekolah gabungan Yahudi-Arab di kota Kfar Saba yang berada di dekat Tayibe, terpesona akan tuan rumah berusia 23 tahun yang telah menyediakan makanan dan senang menjadi bagian dari acara Ramadan itu.

“Betapa indahnya suasana di sini malam ini, sambutannya begitu hangat,” pujinya. “Di sini, kemurahan hati selalu terasa. Mereka yang tahu tentang Tayibe, memahami bahwa kota ini benar-benar ramah.”

Tachsim jaber, seorang pengemudi bus dari Tayibe, yang makan semeja dengan Ravit menambahkan, “Kami mengajarkan tetangga kami tentang nilai dari Ramadan, bagaimana kami merayakannya, dan makna sesungguhnya dari semangat perayaan yang kami rasakan di sini.”

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!