Seperti Pesawat Modern, Nyamuk Ternyata Takut dengan Kabut

redaksi.co.id - Seperti Pesawat Modern, Nyamuk Ternyata Takut dengan Kabut Hujan lebat sekalipun tak dapat menghalangi nyamuk terbang. Meski air hujan yang menimpa 50 kali lipat...

42 0

redaksi.co.id – Seperti Pesawat Modern, Nyamuk Ternyata Takut dengan Kabut

Hujan lebat sekalipun tak dapat menghalangi nyamuk terbang. Meski air hujan yang menimpa 50 kali lipat massa tubuhnya, nyamuk tetap tak terpengaruh. Namun, seperti pesawat terbang modern, nyamuk juga berhenti terbang ketika ada kabut tebal.

“Pengaruh dampak air hujan dan kabut terhadap nyamuk amat berbeda,” kata Andrew Dickerson, peneliti Georgia Tech. “Dari sudut pandang nyamuk, kejatuhan air hujan rasanya seperti kita ditabrak mobil kecil.

Partikel kabut, yang berbobot 20 juta kali lebih ringan dari seekor nyamuk, rasanya hanya seperti ditabrak remah roti. Jadi kabut bagi nyamuk itu kira-kira sama seperti hujan bagi manusia.” Untuk memecahkan teka-teki ini, Dickerson dan rekannya, David Hu, menggunakan videografi kecepatan tinggi.

Mereka mengamati penurunan frekuensi kepakan sayap nyamuk dalam kabut tebal. Daya yang dihasilkan cukup kuat untuk mengangkat tubuh nyamuk, tapi gagal mempertahankan posisi tegak yang dibutuhkan untuk terus terbang. Hal itu terjadi sebagai akibat dampak kabut terhadap mekanisme pengendali terbang utama nyamuk, yang disebut halteres.

Struktur bulat kecil pada sayap belakang ini berukuran sebanding dengan droplet kabut dan mengepak 400 kali per menit, memukul ribuan tetes kabut setiap detik. Meski secara normal halteres anti-air, tumbukan berulang kali dengan partikel kabut 5 mikron (0,005 milimeter) dapat mengganggu kendali terbang nyamuk.

“Halteres juga tak bisa mendeteksi posisi mereka dengan benar dan malfungsi, sama seperti wiper kaca mobil yang tak bisa berfungsi baik ketika hujan terlalu deras,” tutur Dickerson. “Studi ini memperlihatkan, sama seperti pesawat terbang, serangga juga tidak bisa terbang ketika mereka tidak dapat mendeteksi sekelilingnya.” LIVESCIENCE | AMRI MAHBUB

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!