Inilah Rahasia Mantera Ajaib di Balik Dunia Hobbit

183

redaksi.co.id – Inilah Rahasia Mantera Ajaib di Balik Dunia Hobbit

Di dunia nyata, Martin Freeman adalah pria dengan tinggi tubuh normal. Namun sebagai Bilbo Baggins dalam The Hobbit, dia harus terlihat lebih pendek daripada Gandalf si penyihir, yang diperankan oleh Sir Ian McKellen. Untuk membuat film yang penuh dengan tokoh bertubuh kerdil seperti hobbit dan kurcaci, sutradara Peter Jackson punya “mantera” ajaib.

Jackson selalu menyukai keajaiban dalam pembuatan film. Setelah menyaksikan film klasik King Kong versi 1933, pada usia 9 tahun dia mulai membuat film dengan teknik stop-motion, atau potongan-potongan gambar, dengan menggunakan kamera Super 8 milik ayahnya. Tiga tahun kemudian, dia merombak mantel bulu tua milik ibunya untuk menciptakan sebuah model kera besar.

Pada usia 20 tahun, Jackson memanggang cetakan karet lateks dalam oven ibunya untuk menghasilkan tangan dan kepala buatan, yang ia pakai untuk membuat film horor Bad Taste. Film produksi rumahan itu mengantarnya ke festival Cannes pada 1987. Namun tantangan terbesarnya adalah menghidupkan berbagai karakter ajaib dari Middle Earth dalam trilogi The Lord of the Rings.

Untuk membuat Gandalf si penyihir 1 meter lebih tinggi ketimbang tokoh lain dalam film itu, Jackson mengerahkan berbagai trik sinematik. Dalam satu adegan, misalnya, dia menggunakan gerobak kayu yang dirancang khusus untuk menempatkan Elijah Wood, pemeran Frodo, beberapa meter di belakang Sir Ian McKellen (Gandalf) dan merekamnya pada sudut yang membuat kedua aktor itu tampak duduk berdampingan.

Dalam film The Hobbit, yang juga mengetengahkan dunia mitologi Middle Earth karya J.R.R. Tolkien, trik sulap semacam itu tidak mungkin dilakukan. “Jika Anda membuatnya dalam 3D, semua trik itu akan terungkap,” ujar Jackson. “Trik perspektif yang Anda gunakan akan terlihat oleh penonton. Dengan kacamata 3D, mereka dapat melihat dengan jelas seberapa jauh karakter itu berada.”

Satu-satunya alternatif untuk menciptakan dunia Hobbit yang terdiri atas komunitas kurcaci dan halfling (nama lain untuk hobbit), dia harus menjalankan proses yang panjang dan melelahkan dengan merekam manusia dan kurcaci secara terpisah dan menggabungkannya secara digital dalam proses pasca-produksi. Jackson telah beberapa kali menggunakan teknik itu dalam pembuatan film The Lord of the Rings, tetapi The Hobbit penuh dengan dialog.

Terkadang 2-3 lembar naskah terus-menerus berisi dialog antara Gandalf dan sobatnya yang bertubuh kerdil. “Sangat sulit bagi mereka melakukan percakapan yang terasa alami,” kata Jackson. “Kami meminta Ian melakukan separuh percakapan itu dan Elijah harus mengisi celah yang ditinggalkan Ian baginya. Itu terlihat kaku dan tidak wajar.”

Untuk menghindari masalah tersebut dalam filmnya, Jackson meminta timnya mengambil pendekatan lebih baik-teknik yang membuatnya dapat mengarahkan setiap adegan secara real time. Solusinya adalah sistem pengendali gerak inovatif. Alih-alih merekam aktor secara terpisah, sang sutradara menempatkan mereka pada dua set berbeda, yang berjarak 15 meter, dan merekamnya dengan kamera berbeda pula.

Rig kamera utama dilengkapi dengan encoder yang mengukur kemiringan dan pergeseran kamera serta gerakan tiang pengangkat, kecepatan, dan pergerakan dolly. Data tersebut di-relay ke rig kamera pembantu pada set layar hijau, sehingga memungkinkan kamera bergerak pada tiga sumbu yang selaras dengan kamera induk.

Dengan cara ini, Jackson dapat menempatkan kamera pembantu lebih dekat ke Gandalf dan-dengan keajaiban software-menghilangkan latar belakang hijau serta menggabungkan gambar dari kedua set sehingga seolah-olah penyihir itu berdiri menjulang di atas kurcaci.

Tantangan lain adalah menciptakan set layar hijau yang secara akurat mencerminkan set secara utuh, mulai pintu gerbang, dinding, hingga lampu gantung. Jika Gandalf meletakkan tangannya pada meja layar hijau, tangannya tak terlihat mengambang di atas meja pada live set. Agar posisi semua benda tepat pada tempatnya, kru film menciptakan alat yang disebut pinger.

Alat ini mirip busur derajat sinar laser yang mengukur jarak dan sudut, sehingga kru film dapat menentukan lokasi yang tepat pada kedua set. Ketika kedua titik itu dihubungkan, kamera live set dan kamera pembantu di set layar hijau bekerja sama untuk menghasilkan perspektif yang wajar.

Dalam sistem itu, sebuah monitor memasok Jackson dengan gabungan dua bidikan kamera, sehingga dia dapat meyaksikan kedua adegan itu secara langsung. Aktor di kedua set menggunakan bola tenis hijau sebagai acuan arah pandangan mereka dan earphone tersembunyi untuk mengikuti dialog. Dalam ujicoba sistem itu, Gandalf mengunjungi Bag End, rumah Bilbo Baggins, ditemani oleh sejumlah halfling yang mengelilinginya.

Dalam pengambilan gambar itu, Gandalf harus membungkuk memasuki pintu gerbang, terantuk lampu gantung, memberi salam dengan menyebut nama masing-masing hobbit, duduk di meja makan yang dilengkapi pisau dan garpu, serta menerima segelas anggur. Live set yang digunakan dalam The Hobbit dibangun sesuai dengan skala manusia. Meja, piring, dan cangkirnya berukuran normal karena para aktor bertubuh sedang. Namun ukuran benda-benda yang digunakan dalam set layar hijau diperkecil 25 persen.

Di tangan Gandalf, cangkir anggur terlihat mungil. Tetapi karena kamera pembantu diletakkan dekat dengannya, baik tangan maupun cangkir terlihat jauh lebih besar dalam film. Ketika kedua gambar digabungkan, cangkir itu terlihat sama seperti cangkir di tangan para hobbit. Agar kedua gambar bisa digabungkan dengan mulus, segala sesuatu yang berinteraksi dengan Gandalf harus dibuat secara khusus. Meja dan pintu di set hijau ukurannya diperkecil, begitu pula dengan pisau dan garpunya.

Karena kepala penyihir itu terantuk lampu gantung, ukuran lampu itu diperkecil dan diletakkan di set layar hijau. Untuk membantu McKellen memvisualisasikan ruangan, kotak-kotak hijau mengindikasikan sudut dan dinding. Cangkir anggur disodorkan padanya di ujung tongkat hijau tepat pada saat aktor di live set mengulurkan gelas pada tongkat hijau lain.

“Ada begitu banyak temuan yang kami terapkan,” kata Alex Funke, supervisor pengendali gerak. “Kami mencoba mencari cara melakukan sesuatu sambil jalan. Itu tak sekadar menjinakkan software, tapi juga menemukan trik yang dapat membuat sistem berjalan dan membuatnya bekerja dengan menyakinkan.” POPULARMECHANIC | WIRED | AMRI MAHBUB

(red/oudlon/R)

loading...

Comments

comments!