10 Benda 'Tak Berguna' yang Berharga Selangit pada Masa Lalu

redaksi.co.id - 10 Benda 'Tak Berguna' yang Berharga Selangit pada Masa Lalu Saat ini, kita hidup di masa yang berkelimpahan. Hal-hal yang mungkin tak pernah dilihat...

44 0

redaksi.co.id – 10 Benda 'Tak Berguna' yang Berharga Selangit pada Masa Lalu

Saat ini, kita hidup di masa yang berkelimpahan. Hal-hal yang mungkin tak pernah dilihat nenek moyang kita seumur hidupnya, dengan mudah bisa kita pesan ke rumah.

Dan, benda yang kita anggap biasa saat ini dulu dianggap sumber kebanggaan saking langkanya.

Berikut 10 benda yang berharga selangit pada masa lalu namun dianggap biasa pada saat ini, seperti dikutip dari Listverse, Kamis (16/6/2016).

1. Pretzel

Pretzel adalah kue lezat yang populer, dengan bentuknya yang unik, dengan tiga simpul.

Namun tahukah Anda, pretzel adalah hidangan para raja. Seperti yang terjadi di Swedia pada Abad ke-17.

Sekitar tahun 1614,pretzel dianggap kudapan yang bergengsi sehingga keluarga kerajaan merasa wajib menghidangkannya dalam pesta pernikahan sesama kaum darah biru.

Simpul dalam pretzel dianggap menggambarkan penyatuan dua insan, termasuk kekayaan kedua keluarga. Praktik tersebut melahirkan istilah ‘tying the knot.’

Seperti dikutip dari History.com, asal usul pretzel masih misterius. Legenda menyebut, pada tahun 610 Masehi, seorang biarawan dari Italia memberikan pretzel sebagai hadiah untuk anak-anak yang belajar doa-doanya.

Panggangan gandum itu dilipat supaya menyerupai lengan-lengan yang bersilangan di dada.

Kemudian, pretzel diasosiasikan dengan keberuntungan, panjang umur, dan kemakmuran.

2. Lada Hitam

Pada Abad Pertengahan, lada hitam — yang biasa ada di dapur kita saat ini — adalah produk paling berharga di muka Bumi.

Tak ada perbandingan yang bisa mengumpamakan betapa mahalnya harga lada pada masa lalu.

Dibawa ke Eropa dari Jalur Sutra, dari Kerala di India selatan, rempah tersebut sedemikian berharga sehingga para pedagang di Venesia dan Genoa bisa mematok harga sesuka hati mereka. Itu yang membuat lada memiliki status sebagai barang mewah.

Hingga akhirnya, orang Eropa sudah bosan dipermainkan para pedagang Venesia dan memutuskan untuk mencari lada ke tempat asalnya.

Maka, dimulailah era penjelajahan seperti Christopher Columbus, Vasco de Gama, juga Sir Francis Drake.

Suatu hari, Columbus mengisi penuh kapalnya dengan apa yang ia yakini sebagai lada.

Ia kemudian membawa muatan tersebut dari Hindia Belanda ke Spanyol. Namun, setibanya di tujuan, barang yang ia bawa ternyata bukan lada melainkan bubuk cabai yang tak berharga.

3. Alumunium

Alumunium saat ini digunakan hampir dalam segala hal, dari mobil ke kaleng kemasan makanan.

Pada pertengahan Abad ke-19 alumunium begitu berharga, sampai-sampai Pemerintah Amerika Serikat ingin melapisi salah satu monumen kebanggaannya dengan logam tersebut.

Pada 1884, harga 28 gram alumunium mencapai US$ 1 — nilai yang besar pada masa itu. Belum lagi ditambah biaya tenaga kerja.

Rata-rata waktu yang dibutuhkan pekerja untuk menghasilkan 28 gram alumunium, minimal adalah 10 jam kerja. Akibatnya, aluminium menjadi semacam simbol status kemakmuran.

Pemerintah federal AS bahkan menugaskan agar Washington Monument dibuat dari alumunium, untuk menunjukkan kekayaan dan kekuasaan Amerika atas dunia.

Bahkan muncul saran untuk menambahkan aluminium untuk banyak monumen lain di Capitol Hill. Untungnya, semua rencana itu urung dilaksanakan.

4. Buku

Saat ini, kita bisa dengan mudah mengunduh ebook hanya dengan usapan jari. Buku tak harus terdiri atas lembaran kertas.

Pada masa lalu, buku adalah barang yang sangat berharga. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas Mesir, simbol status terbesar Ptolemy III (Ptolemeus III) adalah Perpustakaan Alexandria — koleksi buku terbesar di dunia saat itu.

Konon, perpustakaan ini memiliki koleksi 700.000 gulungan papirus.

Para penguasa Mesir begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka sampai-sampai mereka memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah.

Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan memberikan kompensasi pada pemiliknya.

Suatu hari, Ptolemy III meminjam sejumlah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai harganya dari Athena: Sophocles, Euripides, dan Aeschylus — untuk disalin.

Pihak Athena tentu saja meminta jaminan, berupa 15 talen perak — jumlah yang sungguh besar dengan nilai saat ini.

Ptolemy III memilih kehilangan uang dalam jumlah besar daripada mengembalikan buku tersebut.

Yang luar biasa, dia memberikan salinan buku tersebut ke pihak Athena. Sayangnya Perpustaan Alexandria kini lenyap tak bersisa.

5. Pala

Pala(Myristica fragrans) adalah jenis rempah aromatik yang memiliki efek halusinogen ringan jika dikonsumsi berlebihan.

Pala kini bisa didapatkan dengan mudah di supermarket bahkan penjual sekelas warung.

Namun, pada Abad Pertengahan, pala bukan hanya rempah berharga — melainkan komoditas bernilai paling tinggi di dunia. Pada tahun 1930-an, nilainya bahkan lebih mahal dari emas.

Sejumlah kejadian gila terjadi pada era perdagangan rempah-rempah. Misalnya, Spanyol dan Portugal secara harfiah saling membunuh, menewaskan ribuan orang, hanya demi cengkeh.

Namun, tak ada yang menandingi ‘kegilaan’ yang disebabkan pala.

Pada tahun 1600-an, Run — pulau kecil penghasil Pala di Indonesia menjadi properti paling berharga di muka Bumi.

Inggris dan Belanda terlibat perang sengit untuk memperebutkan pulau yang panjangnya hanya sekitar 3 kilometer dan lebarnya 1 kilometer itu.

Pertumpahan darah baru bisa dihentikan setelah Belanda setuju menyerahkan Manhattan ke pihak Inggris — sebagai penukar.

6. Tempat tidur

Sastrawan terbesar Inggris, William Shakespeare, menulis ini dalam surat wasiatnya: “Aku memberikan tempat tidur terbaik keduaku untuk istriku.”

Terdengar menggelikan, memang, itu jika kita berpikir bahwa ranjang adalah benda biasa.

Para ahli Shakespeare berusaha memecahkan makna di balik kalimat tesebut. Namun, seandainya maksud sang sastrawan adalah furnitur, pada awal Abad ke-17, tempat tidur punya nilai sangat berharga. Bahkan kualitas kelas dua sekalipun — dianggap simbol kemewahan.

7. Gelas dan piring pecah

Di Jepang, keramik yang pecah bisa dianggap lebih berharga daripada yang utuh.

Sekitar Abad ke-15, shogun (Sei-i Taishogun) atau pemimpin militer di Negeri Sakura mempekerjakan sejumlah pengrajin yang memiliki teknik estetis memperbaiki tembikar yang pecah.

Dikenal sebagai kintsugi, teknik tersebut menggunakan resin berwarna emas untuk menyatukan pecahan keramik.

Seni tersebut sesuai dengan gagasan wabi-sabi — menemukan keindahan di balik ketidaksempurnaan.

Cara tersebut masih dipraktikkan hingga saat ini, dengan teknik yang beragam — yang hasilnya tak dianggap bernilai tinggi.

Namun pada era sebelum kekuasaan klan Tokuawa dan periode Edo, kintsugi dianggap seni yang mewah, yang membutuhkan banyak uang untuk mendapatkannya.

8. Garam

Garam sangat diperlukan tubuh kita. Mineral tersebut juga bermanfaat untuk melezatkan makanan, mengawetkan bahan pangan, juga untuk kecantikan.

Selama Perang Saudara Amerika Serikat, garam memiliki arti penting baik bagi pasukan Konfederasi maupun Uni.

Garam digunakan untuk mengawetkan ransum pasukan, mengawetkan kulit hewan, juga mewarnai pakaian.

Mineral tersebut menjadi bagian penting, sekaligus target utama perang.

Pasukan Uni menyerang sejumlah fasilitas produksi garam di wilayah Selatan. Hal tersebut menunjukkan betapa berartinya garam.

Alih-alih menyerang infrastruktur utama, sumber air, sumber daya perang, atau kota — mengambil alih produksi garam dianggap hal krusial untuk memenangkan perang.

Pihak Konfederasi juga menganggap garam sebagai barang penting. Jefferson Davis membebaskan mereka yang mau pergi ke wilayah pantai dan bekerja di pabrik garam — dari wajib militer.

9. Tomat

Tomat nyaris selalu ada dalam resep masakan dunia — piza, pasta, saus, juga sambal yang tersedia di meja makan.

Kali pertama dibudidayakan oleh Bangsa Maya, tomat didatangkan ke Benua Biru pada Abad ke-16. Meskipun Italia dan Spanyol segera menggunakannya, wilayah lain di Eropa memilih waspada.

Sebab, tomat masih satu famili dengan nightshade, kelompok tanaman yang beranggotakan sejumlah spesies beracun.

Akibatnya, tomat belum menyebar secara luas hingga pertengahan Abad ke-18. Buah berwarna merah tersebut jarang ditemukan di Eropa maupun koloninya di Benua Amerika.

Pada awal munculnya koloni di Amerika, tomat seakan adalah anggrek langka pada masa kini.

Kala itu, tomat adalah tanaman yang jarang, berharga, dan ditanam demi nilai estetikanya — bukan untuk manfaatnya.

Orang yang hidup pada masa itu bahkan menulis puisi, tentang tomat — seperti manusia saat ini yang menulis sajak tentang mawar.

10. Kotoran burung

Bangsa Inka mengumpulkan guano dari pesisir Peru untuk penyubur tanaman.

Namun, para penjajah tak menganggapnya berharga, mereka lebih tertarik untuk menguras logam berharga yang ada di sana.

Pada awal Abad ke-19, pria Pursia, Alexander von Humboldt penasaran dengan guano yang ada di Peru dan membawa sampel tersebut ke negara asalnya.

Mereka kemudian menyadari betapa hebatnya guano untuk dijadikan pupuk. Ia mengandung unsur hara paling tinggi dibandingkan pupuk organik dari jenis lain.

Pupuk itu membuat orang Eropa tergila-gila. Age of Guano atau Era Guano pun lahir.

Pada puncaknya, guano bahkan mempengaruhi perpolitikan pada Abad ke-19. Presiden ke-13 Amerika Serikat, Millard Fillmore dalam pidato kenegaraannya pada 2 Desember 1850 bahkan menjanjikan penurunan harga guano.

Kala itu, per 28 gram guano bernilai hampir US$ 5, lebih tinggi dari nilai alumunium — pada puncak ketenarannya — beberapa dekade kemudian. Di seluruh dunia, guano dikenal sebagai ’emas putih’.

Pada 1856, Kongres meloloskan aturan yang membolehkan warga Amerika Serikat mengklaim pulau-pulau yang kaya guano, tak peduli di mana pun di muka Bumi. Guano Act. Delapan pulau dalam US Minor Outlying Islands adalah akibat langsung dari klaim guano tersebut.

Tak hanya Amerika Serikat. Pada 1858, Britania Raya sendiri diimpor 300.000 ton guano Peru, sebagian besar untuk pertanian lobak. Kerajaan Inggris, faktanya, menguasai monopoli perdagangan guano Peru.

Peru dan Bolivia bahkan berperang melawan Chile untuk memperebutkannya, yang mengakibatkan sekitar 15.000 kematian. Akhirnya, ledakan guano berakhir sejak kehadiran pupuk kimia.

Saat ini, gagasan bahwa perang yang menyebabkan banyak orang tewas terjadi untuk sesuatu yang ‘sederhana’ seperti kotoran burung terdengar gila.

Namun, itulah yang terjadi dalam sejarah.

Mungkin, kelak pada masa depan, keturunan kita akan geleng-geleng kepala melihat ‘hal gila’ yang kita puja dan perebutkan saat ini.

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!