Daftar Besaran Upah Buruh di ASEAN, Berapa di Indonesia?

redaksi.co.id - Daftar Besaran Upah Buruh di ASEAN, Berapa di Indonesia? Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan upah rata-rata buruh Indonesia masih berada di bawah Singapura,...

46 0

redaksi.co.id – Daftar Besaran Upah Buruh di ASEAN, Berapa di Indonesia?

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan upah rata-rata buruh Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina bahkan Vietnam. Upah buruh Indonesia hanya menang dari Loas dan Kamboja.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, berdasarkan laporan tren ketenagakerjaan International Labour Organization (ILO) 2015, rata-rata upah buruh Indonesia sebesar US$ 174 per bulan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata upah buruh di Kamboja yang sebesar US$ 119 per bulan dan Laos US$ 121.

Namun, rata-rata upah buruh di Indonesia ini kalah dibandingkan dengan Vietnam yang telah mencapai US$ 181 per bulan. Kemudian juga kalah dengan Filipina sebesar US$ 204 per bulan, Thailand US$ 357 per bulan, Malaysia US$ 506 per bulan dan Singapura US$ 609 per bulan.

“Jadi rata-rata upah buruh pabrik di Vietnam itu sudah di atas Indonesia. Thailand itu sudah 2 kalinya, Filipina 1,5 kalinya. Dengan Malaysia, kita hanya 1/3 dari mereka,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (18/6/2016).

Menurut Said, seharusnya upah rata-rata buruh di Indonesia seharusnya bisa sama dengan Filipina atau Thailand. Pasalnya, produktivitas buruh Indonesia saat ini sama dengan kedua negara tersebut.

“Paling tidak kita bisa menyamai Filipina atau Thailand, karena dari sisi produktivitas hampir sama dengan Indonesia,” kata dia.

Sedangkan untuk menyamai Singapura dan Malaysia, lanjut Said, agaknya masih sangat sulit. Selain karena produktivitas buruhyang lebih tinggi, sistem pengupahan yang dianut kedua negara tersebut juga berbeda dengan Indonesia.

“Malaysia dan Singapura itu kita tertinggal karena mereka menganut sistem (pengupahan) Inggris karena bekas jajahannya. Itu sistemnya jauh lebih baik karena tidak mengenal upah minimum. Jadi butuh waktu untuk mengejar Malaysia. Ya syukur-syukur bisa sama dengan Malaysia. Tapi rasanya tidak mungkin karena sudah 3 kalinya dari Indonesia,” tandas dia.

(red/uhammad/irmansyah/MF)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!